Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

IHSG Menguat ke 8.963, ANTM–MBMA–NCKL Jadi Motor Penggerak

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 26 Januari 2026 | 11:40 WIB
Ilustrasi indeks saham
Ilustrasi indeks saham

RADAR KUDUS - Pembukaan perdagangan awal pekan menjadi momen pembalikan arah bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Setelah sempat tertekan pada pekan sebelumnya, pasar saham domestik membuka Senin (26/1/2026) dengan nada optimistis.

IHSG langsung bergerak di zona hijau dan menapak ke level 8.963, mencerminkan kembalinya kepercayaan pelaku pasar—meski masih dibayangi kehati-hatian.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI menunjukkan IHSG menguat tipis 0,14% pada menit-menit awal perdagangan. Kenaikan ini mungkin terlihat moderat, tetapi pesan yang dikirim pasar justru cukup kuat: terjadi pergeseran arus modal ke sektor-sektor yang selama ini menjadi tulang punggung narasi jangka panjang, terutama komoditas strategis dan rantai pasok energi baru.

Baca Juga: Harga Emas Pecah Rekor, ANTM, EMAS, HRTA Terbang Serempak

Reli Senyap, Tapi Merata

Berbeda dengan lonjakan impulsif yang kerap dipicu sentimen sesaat, penguatan IHSG kali ini ditopang oleh sebaran sektor yang relatif merata.

Sektor barang baku, transportasi, kesehatan, infrastruktur, hingga properti dan real estate ikut menguat. Bahkan sektor barang konsumsi—baik primer maupun non-primer—ikut memberi sokongan.

Kondisi ini mencerminkan satu hal penting: reli pagi ini bukan hasil dorongan satu sektor tunggal, melainkan kombinasi ekspektasi pemulihan dan reposisi portofolio investor.

Di tengah ketidakpastian global, pasar tampaknya mulai memilah sektor yang dinilai tahan banting dan punya cerita jangka panjang.

Hingga pukul 09.04 WIB, volume transaksi tercatat mencapai 2,30 miliar saham dengan nilai Rp 1,71 triliun.

Sebanyak 323 saham menguat, sementara 169 saham melemah dan 202 saham bergerak stagnan. Data ini menegaskan bahwa penguatan IHSG disertai breadth pasar yang sehat—indikator awal yang kerap dibaca analis sebagai sinyal stabilisasi.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tipis Usai Ketegangan Global Mereda, Pasar Beralih ke Saham

ANTM, MBMA, dan NCKL: Trio Logam yang Mengangkat LQ45

Sorotan utama pagi ini tertuju pada indeks LQ45. Tiga saham berbasis komoditas logam tampil sebagai top gainers dan menjadi penggerak sentimen positif.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali menunjukkan daya tariknya. Saham emiten pelat merah ini menguat lebih dari 4% ke level Rp 4.470 per saham. Kinerja ANTM tidak bisa dilepaskan dari tren harga emas dan nikel global yang masih berada di level tinggi.

Investor membaca ANTM bukan sekadar sebagai saham tambang, tetapi sebagai proksi langsung dari cerita besar komoditas strategis Indonesia.

Tak kalah agresif, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melonjak sekitar 4,4% ke Rp 830 per saham. MBMA menjadi simbol pergeseran minat investor ke ekosistem kendaraan listrik dan baterai.

Dalam konteks ini, reli MBMA bukan hanya soal harga saham, melainkan refleksi dari optimisme terhadap masa depan industri berbasis nikel dan energi hijau.

Sementara itu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga ikut menanjak hampir 4%. Emiten yang bergerak di pengolahan nikel ini kian diperhitungkan seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan baku baterai.

Kenaikan NCKL mempertegas bahwa investor mulai melirik emiten hilir, bukan hanya penambang.

Baca Juga: BEI Ketatkan Pengawasan: Saham BIPI dan SOCI Masuk Radar Khusus Bursa

Angle Baru: Rotasi Diam-Diam ke Aset Strategis

Yang menarik, penguatan IHSG hari ini terjadi tanpa euforia berlebihan. Tidak ada lonjakan ekstrem, tidak ada antrean Auto Reject Atas.

Namun justru di sinilah letak kekuatannya. Pasar sedang melakukan rotasi secara senyap—dari saham defensif jangka pendek ke aset yang dianggap strategis secara struktural.

Logam, baterai, dan nikel kini bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari narasi geopolitik dan transisi energi global.

Investor institusi mulai memosisikan portofolionya untuk jangka menengah hingga panjang, dan pembukaan IHSG hari ini menjadi indikasi awal dari pergeseran tersebut.

Angle ini relatif jarang diangkat di Discover Google, yang umumnya fokus pada angka kenaikan atau penurunan semata. Padahal, arah aliran dana sering kali lebih penting daripada persentase perubahan harian.

Di Balik Hijau: Saham yang Tertinggal

Di sisi lain, tidak semua saham menikmati pembukaan positif. Beberapa emiten besar di LQ45 justru berada di zona merah.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melemah lebih dari 2% ke Rp 8.275 per saham. Tekanan juga dialami PT Alamtri Minerals Tbk (ADMR) yang turun sekitar 1,75%.

Saham consumer goods mapan seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turut terkoreksi tipis.

Pelemahan saham-saham ini bisa dibaca sebagai tanda rotasi sektor, di mana investor mulai mengurangi eksposur pada saham defensif klasik dan mengalihkan dana ke sektor berbasis komoditas dan industrial.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa penguatan IHSG bukan berarti pasar bergerak seragam. Ada seleksi yang ketat, dan hanya saham dengan cerita kuat yang mendapat perhatian.

Pasar di Persimpangan Psikologis

Level 8.963 menempatkan IHSG di zona psikologis yang krusial. Di satu sisi, indeks menunjukkan ketahanan setelah tekanan pekan lalu. Di sisi lain, pasar masih menunggu katalis lanjutan untuk memastikan reli berkelanjutan.

Bagi investor ritel, kondisi ini menuntut disiplin lebih. Reli awal pekan kerap menggoda, tetapi tanpa konfirmasi volume lanjutan, potensi volatilitas tetap terbuka.

Sementara bagi investor institusi, pembukaan positif ini menjadi kesempatan untuk menata ulang posisi tanpa memicu gejolak harga berlebihan.

Awal Pekan, Awal Cerita Baru?

Pembukaan hijau IHSG hari ini mungkin bukan headline paling bombastis. Namun di balik angka yang terlihat sederhana, tersimpan cerita besar tentang perubahan preferensi pasar.

Logam, baterai, dan nikel kini berada di pusat perhatian, bukan hanya karena harga, tetapi karena relevansinya dengan masa depan ekonomi global.

Jika tren ini berlanjut, bukan tak mungkin IHSG akan menemukan pijakan baru yang lebih kokoh—bukan sekadar reli teknikal, melainkan pergeseran struktural.

Editor : Mahendra Aditya
#ihsg #Saham #saham tambang #Saham ANTM #Saham 2026 #saham NCKL #saham HRTA #saham MBMA #ihsg hari ini #saham tambang emas