Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Saham Tambang dan Properti Diprediksi Menguat Pekan Ini

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 12 Januari 2026 | 15:51 WIB
Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

RADAR KUDUS - Pasar saham Indonesia memasuki pekan yang tidak biasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang menutup perdagangan pekan lalu di zona hijau, namun fondasi penguatannya jauh dari kata kokoh.

Di balik kenaikan tipis indeks, terjadi pergeseran arus dana yang patut dicermati—terutama ke sektor-sektor yang selama ini dianggap defensif saat ketidakpastian meningkat.

Pada penutupan Jumat (9/1/2026), IHSG naik 0,13 persen ke level 8.936. Sepanjang sepekan, indeks mencatatkan empat hari penguatan dan hanya satu kali terkoreksi, dengan total kenaikan mencapai 2,16 persen.

Angka tersebut terlihat impresif di permukaan, tetapi cerita sesungguhnya ada pada pola transaksi dan sektor tujuan aliran dana.

Nilai transaksi mencapai Rp27,45 triliun dengan volume lebih dari 57 miliar saham. Aktivitas pasar meningkat signifikan, namun bukan didorong euforia—melainkan seleksi ketat.

Baca Juga: Tembus 9.000 Lalu Jatuh: IHSG Turun ke 8.700-an, Ambruk 2%

Pasar Naik, Tapi Investor Tidak Gegabah

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan perdagangan saham selama periode 5–9 Januari 2026 berakhir positif. Kapitalisasi pasar meningkat dari Rp16.014 triliun menjadi Rp16.301 triliun. Lonjakan juga terlihat pada rata-rata volume dan nilai transaksi harian yang naik lebih dari 40 persen.

Yang menarik, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih. Dalam satu hari perdagangan terakhir pekan lalu, net buy asing mencapai Rp2,56 triliun. Secara year-to-date, aliran dana asing tercatat sekitar Rp3,1 triliun.

Namun, arus dana tersebut tidak menyebar merata. Investor institusi—terutama asing—terlihat lebih selektif, memilih sektor dan emiten yang dinilai mampu bertahan dalam kondisi global yang belum stabil.

Baca Juga: IHSG Anjlok Mendadak di Tengah Hari: Alarm Likuiditas di Pekan Perdagangan Pendek

IHSG di Persimpangan: Naik Tapi Rentan

IHSG sempat mencetak rekor intraday dengan menyentuh level 9.002. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk mengubah karakter pasar menjadi bullish penuh.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai penguatan indeks ditopang oleh tiga faktor utama.

Pertama, derasnya arus dana asing yang kembali masuk ke pasar domestik. Kedua, reli harga komoditas yang mendorong saham-saham berbasis mineral dan logam mulia. Ketiga, spekulasi awal terhadap potensi pembagian dividen tahunan.

Meski demikian, Oktavianus mengingatkan bahwa awal pekan ini IHSG justru berpeluang mengalami tekanan. Secara teknikal, indeks diproyeksikan bergerak di area support 8.870 dan resistance 9.009.

Artinya, ruang kenaikan ada, tetapi margin kesalahan juga besar.

Rupiah, Komoditas, dan Geopolitik Jadi Beban Psikologis

Salah satu faktor yang menahan laju IHSG adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang telah mendekati level Rp16.800 per dolar AS. Kondisi ini meningkatkan kehati-hatian investor, khususnya pada saham-saham yang sensitif terhadap kurs.

Di sisi lain, harga emas dan perak masih berada dalam tren naik. Emas bertahan di kisaran US$4.470 per ounce, sementara perak menembus US$77 per ounce. Kenaikan ini mencerminkan satu sinyal penting: investor global sedang mencari perlindungan.

Sentimen geopolitik turut memperkeruh suasana. Konflik Rusia–Ukraina belum mereda, tensi di Timur Tengah meningkat, dan manuver geopolitik Amerika Serikat di berbagai kawasan menambah ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung menghindari spekulasi berlebihan.

Tambang Jadi Tujuan Aliran Dana

Di tengah kondisi tersebut, saham-saham tambang kembali masuk radar. Kenaikan harga emas dan logam mulia memberikan dorongan kuat bagi emiten terkait.

Salah satu saham yang dinilai memiliki potensi lanjutan adalah PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Saham ini ditutup menguat 4,31 persen ke level 1.695 pada pekan lalu. Secara teknikal, ARCI diproyeksikan berpeluang menguji area 1.900 jika tren harga emas bertahan.

Emiten lain yang juga mencuri perhatian adalah PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). Saham perhiasan emas ini melonjak 7,21 persen ke level 2.380. Dengan sentimen logam mulia yang masih solid, HRTA diperkirakan memiliki ruang kenaikan menuju 2.790 dalam jangka pendek.

Baca Juga: ADRO Tebar Dividen Interim Rp145 per Saham, Yield Tembus 7,97% di Awal 2026

Properti Mulai Bergerak Diam-Diam

Di luar sektor tambang, saham properti justru menunjukkan pergerakan yang tidak banyak disorot. Dalam kondisi pasar bergejolak, sektor ini kerap luput dari perhatian—namun justru itulah daya tariknya.

Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan support di 8.806 dan resistance di 8.996. Volatilitas ini membuka peluang rotasi sektor.

Herditya menyoroti PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang mencatatkan lonjakan signifikan hingga 15,44 persen ke level 1.720. Saham ini diperkirakan masih memiliki ruang penguatan menuju 1.900, seiring ekspektasi pemulihan sektor pariwisata dan properti berbasis hospitality.

Batubara Belum Kehabisan Napas

Selain emas dan properti, saham batubara masih berpotensi menjadi opsi trading jangka pendek.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ditutup menguat tipis ke level 462. Meski pergerakannya tidak agresif, saham ini diproyeksikan berpeluang menguji level 510 jika sentimen komoditas energi kembali menguat.

Namun, Herditya menegaskan bahwa pergerakan saham batubara sangat sensitif terhadap fluktuasi harga global dan isu geopolitik, sehingga manajemen risiko menjadi kunci.

Bukan Soal Mengejar Cuan, Tapi Membaca Arah

Pekan ini bukan tentang berburu saham secara serampangan. Pasar sedang berada dalam fase seleksi alam. Saham yang bergerak bukan yang paling ramai dibicarakan, melainkan yang selaras dengan arah dana besar.

Tambang dan properti muncul bukan karena euforia, tetapi karena logika defensif dan rotasi sektor. Investor yang bertahan bukan mereka yang paling berani, melainkan yang paling disiplin membaca konteks.

Editor : Mahendra Aditya
#ihsg #rekomendasi Saham 2026 #Saham #Saham properti #rekomendasi saham #bumi #rekomendasi saham hari ini #saham tambang emas