Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Founder COAL Terus Lepas Saham, Harga Ambruk ke Rp86 dan Picu Tanda Tanya Pasar

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 1 Januari 2026 | 17:51 WIB
Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

RADAR KUDUS - Pergerakan saham PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) menjadi salah satu cerita paling menyita perhatian di penghujung 2025.

Di saat sebagian pelaku pasar berharap adanya window dressing akhir tahun, justru muncul kabar mengejutkan: pemegang saham pendiri COAL, Sujaka Lays, melakukan aksi jual saham secara bertubi-tubi. Dampaknya langsung terasa, harga saham COAL tergelincir tajam hingga menyentuh Rp86 per saham.

 

Aksi ini memicu beragam spekulasi. Ketika seorang founder memilih mengurangi kepemilikan dalam jumlah besar, pasar hampir selalu bertanya: ada apa di balik layar?

Baca Juga: Net Sell Asing Tembus Rp 42,34 Triliun, Ini Arah Baru Pasar Saham Indonesia di 2026

Founder Melepas Saham Secara Bertahap

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, Sujaka Lays melakukan divestasi saham COAL dalam beberapa tahap sepanjang 18 hingga 30 Desember 2025. Penjualan dilakukan tidak dalam satu hari, melainkan tersebar di empat hari perdagangan.

Langkah ini membuat kepemilikan saham Sujaka menyusut signifikan. Jika pada akhir November 2025 ia masih menggenggam 48,01 persen saham COAL, maka per akhir Desember porsinya turun menjadi 34,89 persen. Penurunan ini bukan angka kecil, mengingat status Sujaka sebagai pemegang saham pendiri.

Rincian Aksi Jual Saham

Gelombang penjualan dimulai pada 18 Desember 2025. Pada hari tersebut, Sujaka melepas sebanyak 679,7 juta saham COAL dengan harga Rp105 per saham. Sehari berselang, ia kembali menjual 15 juta saham di harga Rp99 per saham.

Dua transaksi awal ini langsung memangkas kepemilikan sahamnya secara drastis. Dari semula 3 miliar lembar saham, kepemilikannya turun menjadi sekitar 2,3 miliar saham atau setara 36,89 persen.

Aksi divestasi belum berhenti. Pada 22 Desember 2025, Sujaka kembali menjual 55 juta saham di harga yang lebih rendah, yakni Rp96 per saham. Porsi kepemilikan kembali tergerus menjadi 36,01 persen.

Puncaknya terjadi pada 30 Desember 2025. Di hari perdagangan terakhir tahun itu, Sujaka melepas 70,07 juta saham COAL di harga Rp91 per saham. Setelah transaksi tersebut, total kepemilikannya menyusut menjadi 2,18 miliar saham atau 34,89 persen.

Secara keseluruhan, dalam waktu kurang dari satu bulan, Sujaka telah melepas sekitar 819,77 juta saham COAL, setara dengan pengurangan kepemilikan sekitar 13,11 persen.

Harga Saham Tak Mampu Menahan Tekanan

Seiring dengan aksi jual pendiri, pergerakan harga saham COAL menunjukkan tren yang kian rapuh. Di awal Desember 2025, saham COAL masih diperdagangkan di kisaran Rp112 per saham dan sempat melonjak hingga Rp128 pada 4 Desember.

Namun, reli tersebut tidak bertahan lama. Harga kembali melemah dan sempat turun ke level awal bulan. Pada 11–12 Desember, saham COAL kembali mencuri perhatian setelah melesat ke Rp128 bahkan menyentuh Rp132.

Sayangnya, penguatan itu justru menjadi puncak sebelum kejatuhan. Setelahnya, tekanan jual semakin dominan.

Saham COAL terus merosot hingga akhirnya ditutup di level Rp86 per saham pada perdagangan terakhir 2025. Level ini menjadi salah satu titik terendah saham COAL dalam periode tersebut.

Sinyal Negatif atau Strategi Pribadi?

Aksi jual founder sering kali dibaca pasar sebagai sinyal negatif, meski tidak selalu demikian. Di satu sisi, penurunan kepemilikan pendiri bisa memicu kekhawatiran investor ritel, terutama jika tidak disertai penjelasan resmi mengenai tujuan divestasi.

Namun di sisi lain, penjualan saham oleh pemegang saham utama juga bisa dilatarbelakangi alasan personal, seperti diversifikasi aset, kebutuhan likuiditas, atau strategi keuangan jangka panjang. Tanpa pernyataan langsung dari pihak terkait, pasar hanya bisa berspekulasi.

Yang jelas, skala penjualan dan timing-nya—bertepatan dengan pelemahan harga—membuat sentimen terhadap saham COAL semakin tertekan.

Baca Juga: Ssst… Ini 6 Daftar Saham yang Berpotensi Cetak Cuan Cepat Saat IHSG Anjlok!

Reaksi Pasar dan Psikologi Investor

Bagi pasar, psikologi sering kali bergerak lebih cepat daripada data fundamental. Ketika founder menjual saham secara berulang, kekhawatiran cenderung menyebar.

Investor ritel yang melihat harga terus turun biasanya memilih langkah defensif: ikut menjual atau menunggu di pinggir lapangan.

Tekanan ini menciptakan efek domino. Volume jual meningkat, harga makin tertekan, dan kepercayaan pasar pun ikut terkikis. Kondisi inilah yang terlihat pada pergerakan saham COAL di paruh kedua Desember 2025.

Menatap 2026, Apa yang Perlu Dicermati?

Memasuki 2026, saham COAL berada di persimpangan. Di satu sisi, harga yang sudah tertekan bisa menarik bagi investor dengan profil risiko tinggi yang mencari peluang rebound. Di sisi lain, ketidakpastian terkait aksi pemegang saham utama masih menjadi bayang-bayang.

Investor disarankan untuk mencermati beberapa hal ke depan: apakah masih ada potensi aksi jual lanjutan, bagaimana kinerja keuangan perseroan, serta prospek sektor yang digeluti COAL. Transparansi manajemen dan komunikasi kepada publik juga akan menjadi faktor krusial dalam memulihkan kepercayaan pasar.

Satu hal yang pasti, aksi jual bertubi-tubi oleh founder telah meninggalkan jejak kuat di pergerakan saham COAL. Tahun 2026 akan menjadi ujian apakah saham ini mampu bangkit dari tekanan, atau justru terus terperosok di tengah keraguan investor.

Editor : Mahendra Aditya
#Saham COAL 2026 #Saham COAL #Founder COAL #Saham COAL anjlok #Founder COAL jual saham #Harga saham COAL