RADAR KUDUS - Pasar saham Indonesia kembali diwarnai drama besar yang membuat banyak investor menahan napas.
Pada perdagangan Selasa, 9 Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat membuka hari dengan nada optimistis justru mendadak kehilangan tenaga, tergelincir 0,92 persen, dan menutup perdagangan di level 8.620,48. Level psikologis 8.700 pun resmi patah—mengirim sinyal bahwa tekanan jual semakin tak terelakkan.
Namun seperti ironi yang berulang dalam dunia pasar modal, ketika mayoritas investor domestik memilih mundur dan mengamankan posisi, investor asing justru bertindak sebaliknya.
Mereka terlihat agresif, seperti mengetahui sesuatu yang tidak dibaca pelaku pasar lokal. Di tengah merahnya layar perdagangan, aksi belanja diam-diam mereka justru mencolok.
Nilai transaksi hari itu meledak menjadi Rp34,32 triliun, melibatkan hampir 70 miliar lembar saham yang diperdagangkan dalam 3,6 juta transaksi.
Meski 500 saham melemah, 201 menguat, dan 98 stagnan, dinamika sesungguhnya terselubung pada gerakan modal asing.
Asing Catat Penjualan Bersih, Tapi Justru Borong Emiten Tertentu
Menariknya, secara keseluruhan asing memang mencatat penjualan bersih jumbo:
-
Rp1,32 triliun di pasar reguler
-
Rp1,42 triliun di pasar negosiasi & tunai
-
Ditambah Rp58,28 miliar penjualan bersih yang tercatat di pasar reguler harian
Angka-angka ini menggambarkan pelepasan masif. Namun ironinya, di saat yang sama, ada sejumlah saham yang justru mereka beli dalam volume besar. Gerakan kontras ini sering terjadi ketika asing mencari posisi strategis pada saham-saham yang mereka yakini undervalued setelah terkoreksi.
Dan pada hari itu, tercatat ada 10 saham unggulan yang menjadi sasaran utama aksi akumulasi asing.
10 Saham yang Paling Banyak Diakumulasi Asing
Mengutip data Stockbit, inilah saham-saham yang diborong asing saat IHSG merintih di zona merah:
-
PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) – Rp383,58 miliar
Menjadi pemuncak daftar, DEWA terlihat menjadi target utama asing. Di tengah saham tambang yang volatil, akumulasi ini memunculkan spekulasi bahwa sektor energi masih dianggap punya ruang tumbuh. -
PT Petrosea Tbk. (PTRO) – Rp122,19 miliar
Saham jasa pertambangan ini kembali mencuri perhatian. Aksi beli asing yang besar memberi sinyal bahwa fundamental PTRO dianggap solid di tengah gejolak. -
PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) – Rp115,98 miliar
Big caps perbankan selalu jadi magnet. Meski IHSG melemah, asing tetap masuk ke sektor finansial yang dianggap tahan banting. -
PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) – Rp110,43 miliar
Harga emas yang cenderung stabil membuat saham ini jadi pilihan defensif asing. -
PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) – Rp109,99 miliar
BRMS kembali menjadi favorit, menguatkan narasi bahwa komoditas masih jadi sektor dengan likuiditas tinggi di mata asing. -
PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) – Rp98,44 miliar
Saham energi yang selama ini kurang sorotan, mendadak dilirik asing dengan nilai akumulasi besar. -
PT Astra International Tbk. (ASII) – Rp59,98 miliar
ASII tetap menjadi saham yang dilihat stabil dan aman bagi investor institusional. -
PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) – Rp59,28 miliar
Aset telekomunikasi ini tak pernah benar-benar jauh dari radar asing—terutama ketika valuasinya tampak menarik. -
PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) – Rp56,40 miliar
Sektor media yang mulai bangun dari stagnasi tampaknya menarik minat asing. -
PT Timah Tbk. (TINS) – Rp54,03 miliar
Komoditas strategis seperti timah kembali diperhitungkan sebagai opsi spekulatif-berkualitas.
Kenapa Asing Masuk Saat Pasar Merah?
Aksi beli asing di tengah kejatuhan pasar selalu memunculkan tanda tanya besar. Tapi ada tiga alasan umum yang sering menjadi pemicu:
1. Harga Diskon
Penurunan tajam IHSG sering dianggap sebagai “obral dadakan” bagi investor besar yang menunggu di luar.
2. Fundamental Emiten Tertentu Tetap Kuat
Meski indeks jatuh, bukan berarti seluruh emiten sedang bermasalah. Banyak saham blue chip mengalami koreksi teknikal saja.
3. Sentimen Global Berubah Cepat
Investor asing sering mengambil posisi lebih awal sebelum kabar ekonomi global meletup dan memicu reli.
Apa Artinya bagi Trader Lokal?
Pergerakan asing kerap menjadi indikator arah pasar dalam jangka pendek. Ketika mereka memborong saham tertentu, ada sinyal bahwa emiten tersebut memiliki potensi pemulihan lebih cepat dibandingkan pasar secara keseluruhan.
Namun bagi trader harian, langkah paling bijak adalah memperhatikan teknikal harga dan volume—bukan sekadar meniru belanja asing.
Pasar Boleh Panik, Tapi Asing Sudah Bergerak Lebih Dulu
Ketika IHSG jatuh tajam dan mayoritas pelaku pasar memilih mundur, investor asing justru melihat kesempatan. Sepuluh saham yang mereka serok besar-besaran hari itu bisa menjadi petunjuk arah pergerakan modal cerdas.
Pasar boleh bergejolak, tapi seperti biasa:
di balik layar yang merah, selalu ada pihak yang sudah siap memanen keuntungan.