RADAR KUDUS - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa yang hampir mustahil diabaikan.
Setelah menutup perdagangan kemarin dengan lonjakan 0,90% ke 8.710,70, indeks kebanggaan Indonesia itu mengukir rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Lonjakan ini bukan sekadar angka—melainkan sinyal kuat bahwa pasar modal Indonesia memasuki fase euforia baru yang selama ini hanya menjadi prediksi.
Di tengah sensitivitas global yang tinggi terhadap kebijakan suku bunga AS, IHSG justru tampil sebagai salah satu indeks paling tangguh di kawasan. Pelaku pasar kini menatap peluang yang lebih besar: target 9.000 yang sebelumnya dianggap ambisius, kini terlihat semakin realistis.
Sentimen Positif Global Menghidupkan Aksi Risk-On
Katalis utama penguatan IHSG datang dari dua arah:
-
Ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve yang semakin dekat.
-
Data perdagangan China yang melampaui ekspektasi, baik dari sisi ekspor maupun impor.
Kedua faktor ini menciptakan suasana “risk-on” yang kuat, membuat investor kembali agresif memburu saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) maupun saham siklikal.
Menurut pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, situasi ini mendorong gelombang optimisme baru.
“Investor kembali percaya diri mengakumulasi aset berisiko. Kombinasi sentimen The Fed dan pemulihan China menjadi pemantik yang ideal,” ujarnya.
Teknikal: Zona 8.600–8.770 Menjadi Gerbang Menuju 9.000
Secara teknikal, IHSG kini berada pada level yang sangat krusial. Area 8.600–8.770 disebut sebagai zona pengujian yang menentukan. Jika indeks mampu bertahan stabil di atas area ini selama beberapa sesi, peluang menuju 9.000 terbuka lebar.
Namun Hendra mengingatkan bahwa volatilitas tetap mengintai.
-
Faktor eksternal seperti keputusan suku bunga The Fed
-
Data inflasi dan tenaga kerja AS
-
Kestabilan permintaan China
adalah variabel global yang bisa menggeser konstelasi pasar dalam hitungan jam.
Support terkuat saat ini berada di area 8.400–8.513. Jika terjadi koreksi jangka pendek, area ini menjadi benteng penting yang diyakini mampu menahan tekanan jual.
Saham Energi, Teknologi, dan Komoditas Menjadi Bintang
Penguatan IHSG tidak berdiri sendiri. Deretan saham sektor energi, pertambangan, teknologi, hingga industri melanjutkan tren positifnya.
Pemulihan ekonomi China membuat permintaan komoditas kembali menggeliat, memberikan angin segar bagi emiten batu bara, energi, dan metal.
Di sisi lain, peningkatan belanja pemerintah yang bergulir di kuartal IV diprediksi memberikan dorongan tambahan bagi sektor konstruksi, industri dasar, dan infrastruktur.
Beberapa saham yang memimpin kenaikan kemarin antara lain:
-
DSSA
-
GOTO
-
COIN
-
MORA
-
ENRG
Namun menariknya, saham big caps seperti TLKM, BRPT, AMMN, dan UNTR justru berada dalam tekanan. Hal ini mengindikasikan terjadinya rotasi sektor: dana bergerak keluar dari saham mapan dan mengalir ke saham yang menawarkan momentum jangka pendek lebih agresif.
Rekomendasi Saham: Peluang Trading dan Akumulasi
Menurut Hendra Wardana, ada beberapa saham yang patut dipantau dalam jangka pendek:
-
KRAS (target Rp 500)
-
INDY (target Rp 2.200)
-
BUMI (target Rp 300)
-
DEWA (target Rp 550)
Untuk investor agresif, Hendra menyebutkan peluang spekulatif pada:
-
ERAL (target Rp 370)
Dengan pasar yang sensitif terhadap sentimen global, strategi terbaik adalah:
-
Akumulasi bertahap pada saham fundamental kuat
-
Buy on weakness ketika terjadi koreksi teknikal
-
Hindari mengejar harga pada saham yang sudah melonjak sangat cepat
“Jika katalis global bergerak sesuai ekspektasi, tembusnya IHSG ke level 9.000 bukan hanya kemungkinan, tapi bisa terjadi lebih cepat dari perhitungan pasar,” ujarnya.
Asing Bongkar-Pasang Portofolio: Net Buy Tipis Tapi Selektif
Investor asing tercatat melakukan net buy Rp 53 miliar pada perdagangan kemarin. Jumlahnya memang tidak besar, namun pola pemilihan saham sangat menarik.
10 Saham Paling Banyak Dikoleksi Asing (Net Buy)
-
Bank Mandiri (BMRI) – Rp 114 miliar
-
GoTo (GOTO) – Rp 86,89 miliar
-
Bumi Resources (BUMI) – Rp 77,9 miliar
-
Alfamart (AMRT) – Rp 71,41 miliar
-
Impack Pratama (IMPC) – Rp 70,23 miliar
-
Energi Mega Persada (ENRG) – Rp 66,5 miliar
-
Aneka Tambang (ANTM) – Rp 60,73 miliar
-
Bank Central Asia (BBCA) – Rp 58,27 miliar
-
Solusi Sinergi Digital (WIFI) – Rp 47,09 miliar
-
Barito Renewables (BREN) – Rp 37,05 miliar
Saham-saham ini mayoritas berasal dari sektor energi, komoditas, dan perbankan—menguatkan tesis bahwa investor asing sedang mempersiapkan portofolio untuk siklus komoditas baru dan penurunan suku bunga global.
10 Saham Paling Banyak Dilepas Asing (Net Sell)
-
Indah Kiat (INKP) – Rp 339,02 miliar
-
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) – Rp 147,98 miliar
-
Barito Pacific (BRPT) – Rp 125,66 miliar
-
EXCL – Rp 102,69 miliar
-
CUAN – Rp 69 miliar
-
EMTK – Rp 52,06 miliar
-
ISAT – Rp 50,54 miliar
-
BKSL – Rp 50,14 miliar
-
BRMS – Rp 39,07 miliar
-
TINS – Rp 34,54 miliar
Terlihat bahwa saham-saham besar seperti BBRI dan INKP menjadi sasaran profit taking dalam jumlah besar.
IHSG Masuki Fase Super Bullish?
Dengan kombinasi katalis global, rotasi sektor, dan agresivitas investor asing, IHSG kini bergerak mendekati level psikologis 9.000.
Pasar memasuki periode yang sama-sama menguntungkan tapi penuh dinamika. Bagi investor yang jeli, peluang besar sedang terhampar.
Editor : Mahendra Aditya