RADAR KUDUS - Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali melanjutkan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (8/4/2025), setelah jeda libur panjang Hari Raya Nyepi dan Lebaran.
Namun, analis pasar memperingatkan bahwa kembalinya aktivitas pasar akan dihadapkan pada tekanan signifikan dari sejumlah sentimen global.
Analis sekaligus VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menyebut ada tiga faktor utama yang diperkirakan akan memengaruhi pergerakan IHSG setelah libur panjang.
Baca Juga: Kabar Baik! Gaji PNS Naik 16 Persen di Tahun 2025, Ini Penjelasan Sri Mulyani
Ketiganya berasal dari dinamika kebijakan Amerika Serikat, penurunan harga komoditas global, dan sinyal perlambatan ekonomi AS.
Tarif Resiprokal AS Jadi Ancaman Utama
Sentimen terbesar datang dari kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Melalui kebijakan proteksionis terbarunya, Trump menetapkan tarif impor sebesar 10 persen bagi seluruh negara, serta tambahan tarif khusus terhadap negara-negara dengan defisit perdagangan tinggi terhadap AS.
Indonesia, yang pada 2024 mencatat surplus perdagangan nonmigas tertinggi terhadap AS senilai 16,84 miliar dolar AS, terkena tarif resiprokal sebesar 32 persen.
“Dampaknya akan sangat terasa bagi produsen orientasi ekspor. Ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan (CAD) dan memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah,” ujar Audi kepada Kompas.com, Senin (7/4/2025).
Harga Komoditas Terjun Bebas
Sentimen kedua bersumber dari pasar energi global. Rencana OPEC+ untuk menaikkan produksi hingga 440.000 barel per hari mulai Mei 2025 menyebabkan harga komoditas unggulan Indonesia tertekan tajam.
Audi mencatat, harga batu bara turun ke 97 dolar AS per ton, tembaga ambles 9 persen, minyak kelapa sawit mentah (CPO) jatuh di bawah 4.300 ringgit Malaysia per ton, sementara nikel merosot ke bawah ambang psikologis 15.000 dolar AS per ton.
Sinyal The Fed Picu Kekhawatiran Inflasi Global
Faktor ketiga datang dari pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, yang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap lonjakan inflasi dan perlambatan ekonomi di Amerika Serikat.
Baca Juga: WOW! Emas Hampir Rp 2 Juta Per Gram, Pembeli Rela Antri sejak Subuh
“Ini menimbulkan kekhawatiran pasar global akan terjadinya gejolak ekonomi yang lebih luas,” tambah Audi.
IHSG Berpotensi Tekan ke Level Psikologis
Dengan kombinasi tiga sentimen negatif tersebut, pasar saham Indonesia diprediksi akan menghadapi tekanan signifikan. Audi memperkirakan pelaku pasar akan cenderung melakukan aksi jual sebagai bentuk respons terhadap ketidakpastian global, terutama kebijakan tarif Trump.
“Saat ini support psikologis IHSG berada di kisaran 6.000–6.100. Jika level ini jebol, maka potensi tren bearish berkepanjangan terbuka lebar,” kata Audi.
Ia juga mencermati bahwa pasar Asia mulai menunjukkan respons negatif. Indeks Nikkei Jepang dan VN Index Vietnam mencatat penurunan terdalam, seiring status kedua negara sebagai eksportir besar sektor otomotif dan manufaktur ke AS.
Baca Juga: ANJLOK! Segini Nilai Tukar Dolar USD ke Rupiah Hari Ini.
Peringatan Potensi “Panic Selling”
Audi memperingatkan bahwa tekanan dari kebijakan Trump bisa menimbulkan efek berlapis terhadap perekonomian domestik Indonesia, mulai dari tekanan terhadap nilai tukar hingga potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah strategis untuk menenangkan pasar, potensi panic selling akan semakin besar,” tegasnya.
Sebagai catatan, lembaga keuangan internasional Nomura Asia telah menurunkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dari 4,9 persen menjadi 4,7 persen secara tahunan (year-on-year) pasca pengumuman tarif AS tersebut.
Baca Juga: SALDO DANA Kaget Rp 1 Juta Siap Anda Klaim ke Rekeningmu dengan Cara Mudah
Dalam kebijakan yang ia sebut sebagai “Hari Pembebasan”, Presiden Trump menetapkan tarif resiprokal kepada lebih dari 180 negara dan wilayah, termasuk Indonesia yang dikenai tarif sebesar 32 persen.
Kondisi ini dipastikan akan menjadi tantangan besar bagi pelaku pasar dan pemerintah Indonesia saat perdagangan IHSG kembali dimulai.
Editor : Mahendra Aditya