Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

TERUNGKAP! Ini Penyebab Utama Nilai Tukar Dolar USD ke Rupiah Anjlok, Saham Hancur dan Inflasi Terburuk?

Zakarias Fariury • Senin, 7 April 2025 | 18:25 WIB
Ilustrasi Dolar
Ilustrasi Dolar

RADAR KUDUS - Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu ketegangan ekonomi global dan menjadi ancaman serius tak hanya bagi negara-negara mitra dagang, tetapi juga bagi perekonomian AS sendiri.

China menjadi negara pertama yang merespons cepat kebijakan tersebut dengan langkah balasan yang tegas. Negeri Tirai Bambu itu memberlakukan tarif baru sebesar 34% untuk sejumlah barang impor dari AS.

Selain itu, Beijing juga memperketat pembatasan impor produk tertentu dan menambahkan 11 perusahaan asal AS ke dalam daftar “entitas yang tidak bisa diandalkan.”

Baca Juga: CEPAT CAIR! Cek Non KUR BRI 2025, Bunga Cuma 1 Persen, Cicilan Hanya Rp146.000 Perbulan

Langkah balasan ini langsung berdampak buruk terhadap pasar keuangan global. Mengutip laporan CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average merosot tajam hingga 1.500 poin dalam dua hari berturut-turut, menandai tekanan besar yang tengah melanda bursa saham AS.

Sejumlah saham perusahaan besar yang memiliki eksposur kuat di pasar China ikut terpuruk. Sektor teknologi menjadi yang paling terdampak, dengan saham Apple dan Nvidia masing-masing anjlok hingga 7%.

Sementara saham Tesla mencatat penurunan lebih dalam, yakni sebesar 10%.

Tak hanya saham, gejolak pasar juga menyeret harga minyak dunia ke titik terendahnya sejak pandemi COVID-19 pada tahun 2021.

Pada perdagangan Jumat lalu, harga minyak tercatat turun hingga 8%, menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global.

Di tengah situasi tersebut, Gubernur Bank Sentral AS (The Fed), Jerome Powell, turut angkat bicara. Ia memperingatkan bahwa kebijakan tarif Trump bisa berdampak negatif terhadap perekonomian domestik.

Meskipun Powell mengakui bahwa ekonomi AS saat ini masih dalam kondisi kuat, ia menyoroti potensi kenaikan inflasi dan perlambatan pertumbuhan sebagai risiko serius.

Baca Juga: CETAK SEJARAH! Tembus Rp17.000 Per Dolar, Rupiah Anjlok di Pasar Luar Negeri

“Tarif bisa memicu inflasi dan menekan pertumbuhan. Tugas utama kami adalah menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan agar kebijakan moneter tidak justru memperburuk keadaan,” tegas Powell.

Ia menambahkan, The Fed saat ini memilih untuk bersikap hati-hati dan tidak akan mengambil keputusan apa pun terkait kebijakan suku bunga hingga terdapat kejelasan lebih lanjut mengenai dampak dari kebijakan tarif tersebut.

“Kami berada dalam posisi untuk menunggu kejelasan sebelum mempertimbangkan penyesuaian kebijakan. Saat ini terlalu dini untuk menentukan arah yang tepat,” ujarnya.

Ketegangan perdagangan yang kembali memanas antara AS dan mitra dagangnya menambah tekanan pada ekonomi global yang masih berjuang pulih dari dampak pandemi dan berbagai konflik geopolitik.

Pelaku pasar kini menanti langkah selanjutnya dari Gedung Putih dan tanggapan dunia terhadap potensi perang dagang jilid baru.

Editor : Ali Mustofa
#usd idr #apa kepanjangan usd #balasan China ke Trump #Siapa yang untung dari tarif Trump #Nilai tukar rupiah ke dolar #dolar ke rupiah #usd hari ini #dollar to rupiah hari ini #rupiah ke dolar #Trump #1 usd to idr #idr usd #Dolar AS #kurs dollar ke rupiah #Tarif Trump #pengertian usd #pelemahan rupiah #Dolar tembus rp17 ribu #demo trump #rupiah #kebijakan tarif donald trump #usd singkatan dari apa #dolar hari ini #kurs usd hari ini #Tarif Donald Trump #protes kebijakan Trump #dolar to rupiah