Dikutip dari Antara, gejolak nilai tukar yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir kini memasuki fase pelemahan yang signifikan, dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal yang semakin menekan kinerja mata uang domestik.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures sekaligus pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, menilai bahwa salah satu pemicu utama pelemahan rupiah kali ini adalah respons pasar global terhadap kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) yang diumumkan oleh mantan Presiden Donald Trump.
Kebijakan tersebut, menurut Ariston, memicu ketegangan perdagangan dan mendapat reaksi negatif dari sejumlah negara mitra dagang.
"Sentimen negatif dari pengumuman kebijakan tarif Trump yang direspons negatif oleh negara-negara yang terdampak menjadi pemicu utama pelemahan rupiah," ujar Ariston kepada Antara di Jakarta, Senin (7/4/2025).
Lebih lanjut, Ariston mengungkapkan bahwa pelaku pasar kini semakin berhati-hati dan memilih untuk keluar dari aset-aset berisiko seperti mata uang emerging market, termasuk rupiah, dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Ia juga menambahkan, penguatan dolar AS semakin didukung oleh rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls di Amerika Serikat yang tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Hal ini menandakan ketahanan ekonomi AS yang kuat dan memperkuat spekulasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Baca Juga: CEPAT CAIR! Cek Non KUR BRI 2025, Bunga Cuma 1 Persen, Cicilan Hanya Rp146.000 Perbulan
Tak hanya faktor ekonomi, konflik geopolitik global turut membayangi pergerakan rupiah. Ariston menyebut meningkatnya eskalasi konflik di beberapa wilayah, seperti serangan intensif Israel di Jalur Gaza, aksi militer AS di Yaman, serta saling serang antara Rusia dan Ukraina, menambah tekanan terhadap pasar keuangan global.
"Ketegangan geopolitik yang meningkat ini turut mendorong investor global untuk menghindari risiko dan memilih aset yang lebih aman," katanya.
Sementara itu, pada hari yang sama, operasi moneter rupiah dan valuta asing oleh Bank Indonesia dilaporkan masih libur.
Ariston menyebut pasar kini tengah menanti perkembangan lanjutan dari negosiasi dagang, khususnya apakah pemerintahan AS akan melunak dalam kebijakan tarifnya.
"Kita masih menunggu respons pasar terhadap hasil negosiasi. Jika Trump melunak, itu bisa menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk rupiah," tutup Ariston.(*)