RADAR KUDUS – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI memerah pada sesi 1 perdagangan 28 Februari 2025.
Penurunan saham BBRI di sesi I hari ini paling bawah sempat ke Rp 3.410. Namun pada pukul 10.31 WIB, saham BBRI ada di Rp 3.430 (-5,51%).
Kendati memerah, tapi saham BBRI justru laris manis diperdagangankan.
Artinya ada yang mengambil kesempatan membeli saham BRI saat harganya sedang murah.
Tercatat pada pukul 10.31 WIB ada 350,35 juta saham BBRI ditransaksikan, frekuensi 55.896 kali dan nilai transaksi Rp 1,22 trilun dengan harga rata-rata transaksi Rp 3.475.
Berdasarkan RTI Businees, price earnings ratio (PER) BBRI ada di 8,64 kalim dan price to boook value (PBV) 1,64 kali. BRI merilis laporan keuangan bank online pada Januari 2025.
Penurunan tajam saham BRI dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, baik dari sisi makro ekonomi seperti kenaikan suku bunga The Fed sepanjang tahun 2024 yang mengakibatkan capital outflow besar-besaran dari emerging market, termasuk Indonesia.
Penurunan Saham Jadi Momen Baik untuk Membeli Saham?
Gema Georyadi, Founder dan CEO Astronacci mengatakan para trader yang ingin mengambil peluang dan keuntungan besar jangan mudah panik melihat kondisi penurunan tajam. Justru penurunan ini menjadi momentum terbaik untuk membeli saham.
Dia mengatakan, trader pelu mengambil keputusan dengan mengetahui kapan harga akan berbalik arah atau mencapai titik terendah. Salah satu caranya dengan memiliki trading dengan time trading analysis .
Kendati saham BBRI mengalami penurunan tajam dan cukup lama, Gema melihat BBRI berpotensi menguat didukung oleh rencana buyback saham BBRI senilai Rp 3 triliun.
Baca Juga: GAWAT! Saham BBRI Anjlok ke Level Terendah Sejak September 2021, IHSG Ikut Terpuruk!
Gema berharap, penurunan tajam saham BBRI akan segera berakhir. Harapannya para trader dan investor dapat mengambil keuntungan pada momentum saat tersebut.
Sama seperti Gema, Tim Analis Bareksa Ariyanto Dipo Sucahyo dan Abdul Malik mengatakan startegi Buy The Dip di saham-saham Big Banks seperti BBRI untuk tetap membeli sham BBRI.
Tercatat sejak pukul 10.40 pada 28 Februari 2025, saham BBRI mengalami penurunan 15,69 persen menjadi Rp 3.430 per saham.
Hal ini sejalan dengan gejolak berat terhadap OHSG yang dibayangi oleh penerapan tarif dagang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Tiongkok, Kanada, dan Meksiko.
“Tarif tinggi mengakibatkan kenaikan harga barang dan mengerekj inflasi terutama di AS. Inflasi tinggi mmebuat penurunan suku bunga The Federal Reserve mengecil dna kurs dolar AS tetap kuat sehingga menarik arus dana dari pasar global ke negeri Paman Sam,” mengutip Tim Analis Bareksa.
Baca Juga: Direksi BRI Kompak Borong Saham BBRI Siratkan Bentuk Optimisme Kinerja
Melihat peluang saat ini, Tim Analis Bareksi menilai butuh waktu 35-72 hari perdagangan dari level terendah sampai pembalikan arah ke lebel tertinggi dan kembali ke atas 15 persen, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2026.
Saham BBRI direkomendasikan beli dengan target harga 2025 di Rp 5.650 per saham. Dengan potensi peningkatan mencaai 54 % point-to-point.
Kendati demikian, Tim Anlis Bareksa tetap mengingatkan investor agar berhati-hati terhadap risiko saham seperti capital lost akibat rahang pasar yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan kinerja perusahaan.
Editor : Noor Syafaatul Udhma