KUDUS – Kehadiran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dirasa sangat bermanfaat bagi masyarakat, terlebih yang sedang memerlukan pelayanan kesehatan.
Salah satunya adalah Zulfiana Aishatul Fadhillah (20), mahasiswi IAIN Kudus, yang sudah sering mengakses layanan JKN.
Baru-baru ini dirinya memanfaatkan layanan JKN untuk operasi usus buntu.
“Sebelum operasi itu saya berobat dulu di Klinik Budi Utami. Awalnya saya sakit ringan, batuk, pilek dan perut saya sakit. Kebetulan karena saya memang mempunyai sakit maag, saya kira gejala perut sakit itu karena maag," mahasiswi yang akrab disapa Dilla, Jumat (14/02).
"Tapi setelah diperiksa, dokter memperkirakan kalau saya terkena usus buntu, karena kalau maag yang sakit perut bagian tengah, tapi ini perut bagian kanan,” lanjutnya.
Selain memberikan obat, dokter juga memberikan saran Dilla untuk makan buah dan minum air putih yang banyak.
Menurut Dilla, ia juga sempat mengalami sembelit, sehingga dokter meminta Dilla untuk kembali berobat jika masih sakit.
Keesokan harinya perut bagian kanan mahasiswi yang beralamat di Desa Tumpang Krasak tersebut masih terasa nyeri. Akhirnya dokter memberikan surat rujukan ke Rumah Sakit Mardi Rahayu.
“Saya membawa surat rujukan tersebut ke rumah sakit, lalu saya ditangani terlebih dahulu di IGD sebelum akhirnya dipindah di ruangan. Suasana rumah sakit saat itu sangat penuh dan ramai. Waktu itu dokter memberikan opsi kepada saya untuk langsung operasi usus buntu atau diperiksa rontgen terlebih dahulu,” kata Dilla.
Tak mau menunggu lama, akhirnya Dilla dan keluarga memutuskan untuk langsung menjalani operasi keesokan harinya, karena memang diagnosa dokter dari awal adalah usus buntu.
Sebelum dioperasi, dokter meminta Dilla berpuasa mulai dari malam harinya. Dilla bersyukur operasi tersebut berjalan lancar, ia pun mulai sadar pada jam lima sore.
Meskipun menjadi peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) kelas 3, Dilla tidak merasakan adanya diskiriminasi pelayanan, karena tenaga medis disana sangat ramah dan sigap membantu ketika dirinya kesulitan.
“Ketika siuman, saya rasanya mual dan pusing, suster dengan sabar menasihati saya untuk jangan muntah karena itu merupakan efek obat bius yang sedang bekerja. Hari-hari di rumah sakit, suster sangat membantu, ketika saya mandi dan terutama ketika. Mulai dari saya BAB, suster mau membantu membersihkan, karena memang katanya operasinya hampir seperti operasi caesar jadi susah untuk bergerak,” ujar Dilla.
Selain operasi usus buntu, dirinya mengaku pernah juga rawat inap sekitar tahun 2020.
Dilla yang kala itu berstatus sebagai pelajar, ternyata juga berstatus sebagai santri karena sekolahnya memberikan fasilitas berupa pondok. Dari pihak pondok langsung membawa Dilla ke IGD RS Mardi Rahayu.
“Setelah di IGD, ternyata kondisi rumah sakit sangat ramai dan penuh. Akhirnya dari pihak rumah sakit menempatkan saya di ruangan kelas 1, padahal saya terdaftar di kelas 3. Sampai seminggu saya dirawat di sana tanpa ada tambahan biaya apapun, kata petugas rumah sakit karena memang ruangannya penuh,” jelas Dilla takjub.
Ternyata selain Dilla, terdapat beberapa santri pondok yang pernah masuk IGD. Pihak pondok mengharuskan setiap santrinya mempunyai JKN.
Ketika santri sedang sakit, pihak pondok langsung berobat dengan menunjukkan Kartu JKN atau Nomor Induk Kependudukan (NIK) saja.
Dengan demikian, para santri bisa segera ditangani oleh dokter tanpa terkendala administrasi.
Menurut Dilla, terdaftar sebagai peserta JKN merupakan sebuah investasi yang sangat membantu ketika membutuhkan layanan kesehatan.
“Pelayanan JKN sama baiknya dengan pasien umum yang bayar sendiri. Saya pernah juga waktu itu sakit paru-paru basah, lalu harus dirawat inap. Saya juga menjalani pengobatan selama enam bulan bayar sendiri dengan biaya yang tidak murah. Ternyata setelah merasakan pengalaman berobat menggunakan JKN dan umum bayar sendiri sama baik pelayanannya, tidak ada perbedaan signifikan,” ujar Dilla. (*)
Editor : Ali Mustofa