REMBANG — Produk industri rumahan Pasar Banggi, Rembang makin moncer. Salah satu produk unggulan rengginang aneka rasa tetap eksis.
Tembus di pasar modern, online hingga rumah badan usaha milik Negara (BUMN). Produk khas Rembang cukup familiar.
Bahkan dalam perjalanan delegasi Iran pernah kepincut belajar industri rumahan disana.
Tepatnya tahun 2019 ada tujuh orang delegasi dari Republik Islam Iran datang.
Saat itu rombongan dipimpin Zahra Java penasehat senior wakil Presiden Bidang Perempuan dan Keluarga Republik Islam Iran didampingi dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA).
Kedatangan melihat pengembangan Industri rumahan. Disana jadi pilot project dari pemerintah pusat untuk home industri.
Kedatangan belajar model industri rumahan.
Dampaknya positif, mulai pemberdayaan perempuan, kesenjangan sosial hingga peningkatan kesejahteraan.
Memang sejak 2016 lebih dari 230 ibu-ibu aktif mengembangkan. Salah satu produknya rengginang beraneka rasa.
Rembang menjadi tujuan karena salah satu dari 21 kabupaten yang menjadi pilot project.
Kepala desa Pasar Banggi, Rasno membenarkan UMKM di Pasar Banggi salah satu produk unggulan desa yang dipimpinya.
Banyak yang berkecimpung di dalamya. Produknya sudah tembus dimana-mana, salah satunya rengginang.
”Dari Iran pernah kunjungi disini (Pasar Banggi). Lihat rengginang dan ikan asap,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Industri rumahan sudah intens dikembangkan lebih dari 5 tahun. Awalnya pemberdayaan masyarakat untuk pengolahan hasil nelayan.
Karena sudah diminati pasar umum ditingkatkan, karena salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian.
”Jadi usaha atau bisnis para ibu nelayan yang ada di Pasar Banggi. Aneka rasa sesuai permintaan atau pesanan. Ada rasa cumi, teri, udang,” terangnya.
Baca Juga: Ini Dia Nama-nama Pemenang Lomba Bonsai Tingkat Nasional di Grobogan, Berikut Daftarnya!
Sumiyati salah satu pelaku industri rumahan rengginang terjun sejak 2017. Awalnya punya usaha makanan basah dan catering.
Kebetulan dulu ada program dari Dinsos, industri rumahan bagi perempuan di desa-desa.
”Pasar Banggi jadi percontohan. Kita di data yang punya usaha kecil-kecilan. Lalu diberi pelatihan-pelatihan, salah satunya pembuatan rengginang. Saya tertarik hingga sekarang,” pengakuan warga Pasar Banggi RT 1 RW 2.
Dari situ Sumiyati mencoba membikin rengginang. Awalnya hanya 1-2 kilogram. Kini bisa tembus 15-20 kilogram. Terganggung musimnya.
Di bulan Ramadan pesanan melonjak dua kali lipat. Dengan memberdayakan 2-3 orang.
Dia tertarik membuat rengginang karena mayoritas nelayan. Hasil ikan banyak. Bahan baku mudah.
Dari situ inofasi membuat produk tersebut. Punya motifasi bisa dibawa keluar kota untuk oleh-oleh.
”Jadi bisa mengenalkan produk khas daerah. Salah satunya rengginan teri paling laris. Saya juga bikin rasa cumi, udang, terasi, telur rajungan dan bawang serta gula jawa,” terangnya.
Untuk dari segi kemasan disesuaikan.
Dulu hanya plastik tipis. Akhirnya kemasan disesuaikan untuk meningkatkan higienitas makanan.
Untuk dipasarkan offline dan online. Baik dalam dan luar kota dengan sistem kerjasama reseller.
Pengiriman terjauh di daerah Taerang. Sementara online sering luar pulau. Untuk harga disesuaikan dengan harga bahan baku.
Untuk satu kemasan dijual di toko-toko Rp 20-21 ribu, masih mentah diharga Rp 15 ribu. (noe)
Editor : Ali Mustofa