Kegiatan ini, dikemas dalam rangkaian talkshow, pergelaran busana karya lokal Kudus, serta bazar yang mengikutsertakan 21 UMKM. Mereka menyediakan produk-produk dengan sumber daya alam asli dari Kudus. Di antaranya, kerajinan bordir, eco-print, olahan parijoto, pernak-pernik, makanan, minuman, caping Kudus, dan masih banyak lainnya. Produk yang dijajakan itu, rata-rata hasil kreasi perempuan di Kabupaten Kudus.
Menurut Presiden Direktur PT Nojorono Tobacco International Stefanus JJ Batihalim, yang dilakukan perusahaan selaras dengan upaya pemerintah dalam mendukung kesetaraan gender. Salah satu bentuknya, dengan kolaborasi nyata industri dan pemerintahan dalam penyediaan kesempatan berkarya bagi pekerja perempuan.
Sebagai salah satu produsen sigaret di Kabupaten Kudus, perusahaan berkomitmen untuk memberi peluang keterlibatan perempuan dalam berkarya di setiap fungsi dan tingkat jabatan dalam perusahaan. ”Nojorono Kudus sebagai salah satu produsen sigaret mengapresiasi semangat dan karya pekerja perempuan yang tidak pernah padam. Pabrik kami saat ini menyerap banyak tenaga kerja perempuan. Kami akan support sebaik mungkin untuk kesejahteraan perempuan secara umum,” tuturnya.
Dia berharap, melalui kegiatan ini, dapat menjadi inspirasi bagi kaum perempuan untuk tetap tangguh dalam menjalankan multiperan. Juga terus berkarya mencetak prestasi yang membanggakan.
Sementara makna emansipasi menurut Bupati Kudus HM. Hartopo, perempuan merupakan tokoh sentral yang memiliki peran penting. Perempuan Indonesia berperan penting dalam meningkatkan ekonomi melalui karya-karyanya. ”Perempuan sekarang berbeda dengan perempuan yang dulu. Karena Kartini yang menjadi inspirasinya. Karena emansipasi, perempuan sekarang banyak yang menjadi pemimpin. Banyak yang penghasilannya lebih dari laki-laki. Tetapi apapun itu, laki-laki tetap harus dihargai sebagai kepala dalam keluarga,” pesannya.
Lebih lanjut, dr Lianywati Batihalim MS.,Sp.OK., M.Biomed. menekankan pentingnya keseimbangan dalam hidup. Untuk mencapai work life balance (keseimbangan hidup) bagi jajaran para perempuan multiperan.
”Disiplin adalah kata kuncinya. Disiplin membagi waktu dan menempatkan diri sesuai ragam peran yang dijalankan. Komitmen dalam mengambil peran, artinya kita siap melakukan yang terbaik, tanpa meninggalkan kodrat kita sebagai perempuan di hadapan suami bagi yang sudah berkeluarga,” ungkapnya.
Menurutnya, sebagai perempuan harus punya keterampilan apapun bentuknya. ”Wanita terlahir multitasking. Artinya perempuan harus cerdas dan tangguh. Maka harus terus mengasah keterampilan dan kemampuannya. Apapun bentuknya asalkan itu positif,” jelasnya. (lin) Editor : Ali Mustofa