RADAR KUDUS - Kawasan Pegunungan Bromo di Jawa Tengah dan Jawa Timur menyimpan kekayaan pesona alam sekaligus cerita rakyat yang kental dengan nilai budaya.
Salah satu legenda paling tersohor yang diwariskan secara turun-temurun adalah kisah asmara Roro Anteng dan Joko Seger.
Legenda ini tidak hanya melatarbelakangi lahirnya nama Suku Tengger, tetapi juga menjadi cikal bakal tradisi ritus Yadnya Kasada di kawah Gunung Bromo.
Baca Juga: Cara Kerja Kafein pada Otak, Bahaya Overdosis, dan Biji Kopi yang Terancam Punah
Kelahiran Dua Putri dan Putra Negeri
Alkisah pada masa-masa akhir keruntuhan Kerajaan Majapahit, rakyat dan keluarga bangsawan berpencar menyelamatkan diri ke berbagai penjuru Pulau Jawa.
Di tengah pelarian dari kejaran musuh, seorang raja dan permaisurinya berlindung di kawasan pegunungan.
Di gubuk persembunyian tersebut, lahir seorang bayi perempuan. Karena dilahirkan dalam suasana yang tenang di tengah masa pelarian yang mencekam, sang bayi diberi nama Roro Anteng.
Pada saat yang bersamaan di perkampungan tak jauh dari sana, seorang Brahmana dikaruniai seorang putra berparas tampan yang tangisannya sangat kuat dan bersemangat.
Sang anak lantas diberi nama Joko Seger. Seiring berjalannya waktu, Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita, sementara Joko Seger berkembang menjadi pemuda yang gagah dan berbudi luhur. Tumbuh bersama sejak kecil, benih-benih cinta pun bersemi di antara keduanya.
Tipu Daya Roro Anteng Menghadapi Kiai Bima
Kecantikan Roro Anteng memikat perhatian Kiai Bima, seorang raksasa sakti dan beringas yang tinggal di lereng Gunung Bromo.
Kiai Bima mendatangi perkampungan dan mengancam akan menghancurkan desa apabila pinangannya ditolak.
Untuk melindungi seluruh warga dan kekasihnya, Roro Anteng menyetujui lamaran tersebut dengan memberikan satu syarat yang hampir mustahil: Kiai Bima harus membuatkan sebuah danau di atas Gunung Bromo sebelum matahari terbit.
Kiai Bima menyanggupi dan langsung mengeruk tanah menggunakan batok (tempurung) kelapa raksasa.
Melihat pekerjaan sang raksasa melaju sangat cepat, Roro Anteng dan Joko Seger menyusun strategi bersama warga desa untuk menggagalkannya:
-
Para perempuan diperintahkan menumbuk padi di lesung secara serentak.
-
Para pria membakar jerami di sebelah timur agar memancarkan warna kemerahan menyerupai fajar.
-
Ayam-ayam jantan pun terbangun dan mulai berkokok saut-sahutan.
Mendengar suara lesung dan kokok ayam serta melihat ufuk timur yang memerah, Kiai Bima mengira waktu fajar telah tiba.
Dengan penuh amarah karena merasa gagal memenuhi syarat, ia membanting tempurung kelapanya yang kemudian berubah menjadi Gunung Batok.
Sementara itu, bekas kerukan tanahnya menjadi lautan pasir (Kaldera Bromo) dan lubang galiannya membentuk kawah Gunung Bromo. Kiai Bima pun pergi meninggalkan desa.
Janji Joko Seger dan Lahirnya Suku Tengger
Setelah ancaman Kiai Bima berakhir, Roro Anteng dan Joko Seger menikah lalu membuka pemukiman baru.
Nama wilayah tersebut dinamai Tengger, gabungan dari suku kata terakhir nama keduanya (An-teng dan Se-ger).
Lama mengarungi bahtera rumah tangga, pasangan ini tak kunjung dikaruniai momongan.
Dalam keputusasaannya, Joko Seger bermeditasi dan berikrar sumpah di hadapan penguasa Gunung Bromo: jika mereka dikaruniai 25 orang anak, ia berjanji akan menyerahkan salah satu anaknya sebagai korban persembahan ke kawah Gunung Bromo.
Sumpah tersebut dikabulkan. Roro Anteng berturut-turut melahirkan hingga memiliki 25 orang anak, dengan putra bungsu bernama Jaya Kesuma.
Pengorbanan Raden Jaya Kesuma dan Asal-usul Yadnya Kasada
Kehidupan keluarga Tengger berjalan penuh kehangatan hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa.
Namun, Joko Seger mulai terusik oleh mimpi berulang yang menagih sumpah masa lalunya. Sadar akan janji tersebut, Joko Seger mengumpulkan seluruh anaknya.
Ketika anak-anak yang lain menolak dikorbankan, si bungsu Jaya Kesuma secara sukarela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang tua, saudara-saudaranya, serta seluruh masyarakat Tengger dari ancaman kemurkaan kawah Bromo.
Sebelum menceburkan diri ke dalam kawah Gunung Bromo, Jaya Kesuma berpesan kepada keluarganya agar setiap tanggal 14 pada bulan Kasada (dalam penanggalan tradisional), warga Tengger membawa hasil bumi dan ternak ke kawah Gunung Bromo sebagai tanda syukur dan bentuk penghormatan.
Baca Juga: 39 Medali dan 9 Rekor, Indonesia Tutup Asian Games Aichi-Nagoya dengan Sejarah Baru
Editor : Mahendra Aditya Kesimpulan
Pengorbanan mulia Jaya Kesuma dirawat oleh masyarakat Suku Tengger secara berkesinambungan hingga saat ini.
Ritus melemparkan sesaji berupa hasil pertanian, buah-buahan, dan hewan ternak ke kawah Gunung Bromo setiap tanggal 14 bulan Kasada dikenal sebagai upacara Yadnya Kasada, sebuah tradisi budaya dan keagamaan yang terus lestari di kawasan Pegunungan Bromo. (*)