SEJENAK membayangkan situasi yang dapat dinilai sebagai sebuah refleksi dari kemajuan peradaban.
Yaitu ketika setiap sudut taman terdapat gerombolan orang berkumpul, dengan kegemaran membaca buku.
Kegiatan di pos ronda berubah menjadi ruang diskusi antar warga, dan cafe tempat anak muda kongkow, berubah menjadi ajang sharing ilmu pengetahuan yang mereka miliki.
Peristiwa yang akan nampak mengesankan dan menakjubkan.
Jika dapat terjadi secara intensif sekaligus menyeluruh di berbagai wilayah, tak terkecuali di daerah berkembang.
Sebelum beranjak dari hanya sekedar bayangan, lalu menjadikan sebuah realitas yang diungkapkan di atas, alangkah baiknya menelisik atas kesadaran kondisi kegemaran membaca masyarakat Indonesia yang masih pada taraf rata-rata dan menjelaskan tentang skor Programme for International Student Assessment (PISA) atau Program Penilaian Pelajar Internasional.
Seringkali, membaca masih menjadi sebuah kegiatan yang dianggap cukup membosankan bagi sebagian banyak orang.
Tidak adanya gambar, kalimat yang membingungkan, diksi yang tidak familiar, dan banyak faktor lain, yang pada akhirnya berakibat menjadikan kegiatan membaca dianggap sebagai kegiatan yang kurang membuat tertarik.
Memang, pada dasarnya audio visual lebih dapat menghibur secara praktis ketimbang tekstual.
Oleh sebab itu, masyarakat lebih gemar berselancar di internet untuk mendapatkan sebuah informasi melalui media gambar atau suara, lebih suka lagi gabungan antar keduanya.
Lebih jauh daripada itu. Di ruang lingkup sekolah yang seharusnya membaca menjadi aktivitas dalam memperkaya ilmu pengetahuan secara gembira, justru yang terjadi malah sebaliknya.
Aktivitas membaca terkadang dianggap menjadi suatu kegiatan yang bersifat memberatkan, menyusahkan dan seakan menjadi beban pada setiap pelajaran yang diberikan.
Ruang pemikiran yang bersifat rekreasi akhirnya tidak terbina.
Efeknya tidak dapat dianggap sederhana setelahnya.
Rasa alergi yang lahir pada aktivitas membaca, lantas berpengaruh pada munculnya wawasan yang kurang luas, memiliki pola pikir dangkal dan akan kesulitan dalam bertutur kata-komunikasi.
Lebih jauh daripada itu, berpotensi menjadi pribadi yang nir-empati.
Jika kegemaran membaca tidak eksis dalam personal seseorang, bukan tidak mungkin bahwa kemampuan performa akademis seseorang juga akan sulit untuk maju, bahkan dapat pula mengalami penurunan.
Setiap generasi memiliki caranya masing-masing dalam menyerap sebuah informasi.
Kita mulai dari getok tular, yang mana merupakan bentuk proses penyebaran informasi yang secara berantai dari mulut ke mulut antar pribadi atau melalui sebuah komunitas.
Selanjutnya, Radio. Sebuah alat yang mampu mengirimkan sinyal melalui gelombang elektromagnetik, tanpa kabel.
Informasi dapat diterima dalam bentuk suara yang disampaikan dari stasiun dan diterima oleh pendengarnya langsung.
Kedua medium tersebut memiliki kekurangan yang dianggap cukup membahayakan, informasi yang dibagikan bisa saja tanpa validitas. Sukar untuk disimpan informasinya.
Koran. Sebuah media massa cetak dengan kertas yang terbit secara berkala. Secara umum, koran dibagi dalam 3 karakteristik, aktual, periodik dan umum.
Semua karakteristik itu memiliki fungsi dan peminatnya masing-masing. Informasi yang dibagikan dalam koran jelas sudah melalui proses kurasi yang ketat, agar informasi yang disampaikan jelas akurat.
Televisi. Media telekomunikasi yang berfungsi memberikan informasi sama seperti Radio, namun disertai gambar atau visual dalam informasi yang dibagikan. Televisi dan Radio memiliki karakteristik yang sama dalam menyampaikan informasi, yaitu satu arah.
Selanjutnya yaitu ruang informasi yang berkembang sangat pesat di era kontemporer. Media digital (online), merupakan sebuah ruang yang mediumnya membutuhkan jaringan internet dan perangkat elektronik untuk mendistribusikan dan mengakses informasi.
Keunggulannya jika dibandingkan dengan yang lainnya, penyebaran informasi bisa sangat cepat, lebih interaktif dan dapat menjangkau untuk cakupan yang sangat luas.
Generasi yang lahir antara tahun 1997-2012 atau kerap disebut Gen Z, menjadikan media digital atau online sebagai primadona mereka dalam mencari atau mendapatkan segala macam informasi.
Kehadiran media digital atau online bukan tidak hadir tanpa sebuah kelemahan. Sekaligus dapat dikategorikan sebagai suatu hal yang kemudian menyengsarakan bagi pengguna media digital.
Ribuan informasi yang membombardir di media digital setiap harinya, seakan menjadi pemicu Gen Z menjadi sedikit malas membaca teks secara konsisten.
Karakteristik teks minimalis, dominasi visual & video pendek, seakan mendegradasi Gen Z dalam kemampuan berpikir kritis dan rentan terhadap manipulasi psikologis.
Akibatnya, ketertarikan untuk mendapatkan informasi dari teks panjang (buku, jurnal, dll) cenderung kurang diminati dan menjadi hal yang membosankan, karena tidak terbiasa dengan pola yang ada.
Terdapat sebuah survei yang dilakukan oleh GoodStats pada semester II 2025. Hasilnya, bahwa di Jepara aktivitas membaca Gen Z hanya mampu mencapai angka 26%.
Artinya, tidak lebih 3 orang yang memiliki aktivitas membaca dari 10 Gen Z yang ada di Jepara.
Secara umum, Kabupaten Jepara tergolong sebagai kawasan yang mengalami kondisi hibrida atau percampuran (peri-urban) yang dinamis dan masif.
Karena, tak sedikit wilayah yang dulunya memiliki karakteristik pedesaan (rural) lantas berubah menjadi kawasan industri padat karya yang memiliki skala internasional (mega-factory) serta beberapa titik sentra industri kerajinan dengan basis UMKM, akan tetapi tanpa melalui fase penataan sub-urban seperti yang terjadi di berbagai kota besar metropolitan.
Situasi tersebut secara tidak langsung menghadirkan sebuah perkembangan budaya kekinian yang masif, karena kehadiran sirkulasi pendatang dan pribumi di Kabupaten Jepara.
Meskipun, pengaruh media digital mendominasi penyebab dari lahirnya trend kekinian.
Beragam trend kekinian yang mulai mencuat dan berkembang di berbagai kota besar di Indonesia salah satunya yaitu membaca. Trend ini menurut hemat penulis, merupakan sebuah bentuk perlawanan yang lahir karena tingkat masif yang terlampau tinggi dalam menggunakan sosial media.
Bagi Gen Z yang memiliki sikap Fear of Missing Out (FOMO) yaitu sebuah kecemasan dan takut ketinggalan trend, sebuah kecemasan yang lahir karena takut ketinggalan trend, baik berwujud informasi maupun aktivitas yang sedang dibicarakan atau dinikmati oleh orang lain.
Beberapa tahun belakangan, banyak bermunculan sebuah komunitas buku, ruang baca dan kelompok diskusi buku yang didominasi oleh Gen Z.
Kehadiran tersebut terjadi karena dua dugaan, kegelisahan anak muda tentang literasi dan budaya ikut ikutan saja (FOMO).
Mengapa ada potensi bahwa aktivitas membaca hanya sebatas sikap FOMO belaka? Sebab, fokusnya hanya pada nilai kuantitas buku yang dibaca dan sebuah pengakuan sosial atas buku yang sedang dibaca, bukan menyasar pada rasa nyaman atau pemahaman isi buku.
Apakah itu salah? Tentu, tidak ada justifikasi hitam putih dalam menilai hal tersebut. Yang menjadi pokok permasalahan ialah setelahnya literasi tidak mendapat ruang sirkulasi yang baik, pola take and give tidak dapat berjalan.
Terdapat sebuah realitas yang menunjukkan bahwa Gen Z Jepara cenderung memiliki fenomena yang unik.
Kegelisahan terhadap hadirnya wacana literasi tidak hanya sekedar hipotesis belaka. Inisiatif dan praktik pengembangan literasi terus bermunculan sebagai bentuk respon atas kesadaran kolektif untuk semua kalangan secara umum.
Fenomena literasi di Jepara sedikit memperlihatkan dinamika yang cukup signifikan. Gen Z tidak sekedar mengkonsumsi, berinisiatif dalam membuka peluang budaya membaca secara masif, meskipun cenderung mendapat posisi yang marginal.
Jadi, serius membaca atau hanya bergaya saja?
Editor : Admin