Blora Masuk Top 15 IDSD 2026, Saatnya Naik Kelas, Bukan Sekadar Naik Angka

Admin • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 19:29 WIB
mahbub
mahbub

Oleh: A. Mahbub Djunaidi, penulis Buku Membaca Zaman Menulis Makna

Masuknya Kabupaten Blora dalam 15 nominasi Kabupaten/Kota Apresiasi Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Tahun 2026 patut disambut sebagai kabar baik. Dalam pengumuman BRIDA Provinsi Jawa Tengah, Blora tercatat bersama sejumlah kabupaten/kota lain yang masuk nominasi apresiasi IDSD 2026.

Selanjutnya, 15 daerah tersebut akan mengikuti tahapan penilaian presentasi dan wawancara untuk ditetapkan sebagai Top 10 Apresiasi IDSD Tahun 2026.

Capaian ini tentu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ada proses, kerja birokrasi, kebijakan pembangunan, inovasi, serta berbagai potensi daerah yang menjadi bagian dari penilaian.

Namun, ada satu hal penting yang perlu direnungkan.

Apakah IDSD hanya akan berhenti sebagai angka dan penghargaan, atau benar-benar menjadi energi untuk mempercepat perubahan di Blora?

Pertanyaan ini penting karena indeks hanyalah alat ukur. Yang jauh lebih penting adalah dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Daya saing daerah sering kali dipahami secara sederhana sebagai kemampuan menarik investor. Padahal, maknanya jauh lebih luas.

Daerah yang berdaya saing adalah daerah yang memiliki lingkungan pemerintahan dan ekonomi yang sehat, sumber daya manusia yang berkualitas, pasar yang berkembang, serta ekosistem inovasi yang hidup. Dengan demikian, daya saing Blora tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak investasi yang masuk.

Blora sesungguhnya memiliki modal yang cukup besar untuk meningkatkan daya saing daerah. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, energi, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif merupakan kekuatan yang apabila dikelola dengan pendekatan inovasi dapat menjadi mesin pertumbuhan baru.

Persoalannya, potensi tidak otomatis berubah menjadi kekuatan ekonomi.

Sumber daya alam yang melimpah tidak akan banyak berarti jika hanya dijual sebagai bahan mentah.

Hasil pertanian tidak akan maksimal apabila petani hanya menjadi produsen tanpa memiliki akses terhadap pengolahan dan pasar.

Demikian pula, UMKM tidak akan berkembang apabila hanya didorong untuk memproduksi, tetapi tidak mendapatkan pendampingan teknologi, pembiayaan, desain, pemasaran, dan akses pasar.

Karena itu, tantangan Blora bukan hanya memiliki potensi, melainkan mengubah potensi menjadi produktivitas dan nilai tambah. Salah satu kekuatan penting yang perlu terus dikembangkan adalah kolaborasi dengan perguruan tinggi.

Kerja sama pemerintah daerah dengan perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya. Perguruan tinggi harus hadir melalui riset yang menjawab persoalan nyata masyarakat Blora.

Misalnya, bagaimana meningkatkan produktivitas pertanian dengan teknologi? Bagaimana mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian? Bagaimana mengoptimalkan potensi energi? Bagaimana mengembangkan pariwisata? Bagaimana mengurangi kemiskinan berbasis data? Di sinilah ilmu pengetahuan harus bertemu dengan kebutuhan masyarakat.

Pemkab memiliki persoalan dan data. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan riset. Dunia usaha memiliki modal dan pasar. Masyarakat memiliki pengalaman serta potensi. Jika semuanya dipertemukan, maka akan lahir ekosistem pembangunan yang lebih kuat.

Capaian IDSD akan kehilangan makna apabila hanya menjadi bahan laporan dan seremoni.
Indeks harus digunakan untuk membaca kondisi daerah secara jujur. IDSD tidak berhenti sebagai angka, tetapi menjadi peta jalan pembangunan Blora.

Masuknya Blora dalam nominasi Top 15 IDSD 2026 dapat meningkatkan citra dan kepercayaan terhadap Blora, memperkuat promosi investasi dan kerja sama pembangunan, mendorong pemerintah daerah untuk memperbaiki kualitas kebijakan berbasis data, memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media, dan mendorong munculnya inovasi baru yang dapat meningkatkan pelayanan publik dan produktivitas ekonomi.

Tetapi semua dampak tersebut tidak akan terjadi secara otomatis.

Diperlukan kebijakan yang konsisten dan keberanian untuk mengubah cara kerja.
Menurut penulis, setelah masuk nominasi Top 15, Blora tidak boleh hanya berpikir bagaimana menjadi Top 10. Target itu penting, tetapi tidak cukup.

Target yang lebih penting adalah bagaimana setiap kenaikan indikator IDSD berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi sekaligus memperkuat strategi pembangunan.

Blora harus berani membangun sistem yang memastikan bahwa setiap inovasi memiliki keberlanjutan, setiap investasi memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, setiap kerja sama menghasilkan program nyata, dan setiap indikator pembangunan memiliki hubungan langsung dengan kesejahteraan rakyat.

Karena itu, Blora tidak cukup hanya naik peringkat. Blora harus naik kelas dalam kualitas sumber daya manusia, pelayanan publik,  pengelolaan potensi daerah, inovasi, dan naik kelas dalam menciptakan lapangan kerja.

Dan yang paling penting, naik kelas dalam menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. IDSD boleh menjadi angka. Tetapi pembangunan tidak boleh berhenti sebagai angka.

Blora telah masuk dalam radar daya saing Jawa Tengah. Kini saatnya membuktikan bahwa daya saing itu benar-benar hidup, tumbuh, dan dirasakan masyarakat (*).

Editor : Admin
IDSD top blora