RADAR KUDUS - Capaian Indeks Zakat Nasional (IZN) Kabupaten Blora 2025 layak diapresiasi. Dengan nilai 0,69, Blora berada pada peringkat ke-12 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan masuk kategori Bertumbuh. Posisi ini menempatkan Blora dalam kelompok sepertiga teratas daerah dengan capaian IZN terbaik di Jawa Tengah.
Jika dibandingkan dengan daerah sekitar, posisi Blora juga cukup kompetitif. Nilai IZN Blora berada di atas Pati yang mencapai 0,63, Rembang 0,57, dan Grobogan 0,26.
Namun, Blora masih tertinggal dari Sragen yang mencapai 0,79. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pengelolaan zakat di Blora telah berjalan cukup baik, tetapi masih memiliki ruang besar untuk berkembang.
Tantangan terbesar adalah nilai IZN Blora masih berada 0,16 poin di bawah rata-rata Jawa Tengah yang mencapai 0,85. Karena itu, peringkat ke-12 tidak boleh membuat kita cepat berpuas diri. Justru, angka tersebut harus menjadi pijakan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Pemkab Blora dan BAZNAS perlu menjadikan IZN sebagai instrumen kebijakan.
Penguatan data muzaki dan mustahik harus dilakukan secara terintegrasi. Penghimpunan zakat perlu diperluas melalui literasi dan digitalisasi, sementara penyaluran harus semakin diarahkan pada program produktif, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan.
Setiap program juga harus diukur dampaknya. Berapa mustahik yang pendapatannya meningkat? Berapa yang mampu mandiri? Berapa yang kemudian berubah menjadi muzaki?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar zakat tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Pemkab dapat memperkuat ekosistem melalui kebijakan, sinergi data, fasilitasi, dan kolaborasi lintas sektor. BAZNAS memperkuat tata kelola, penghimpunan, pendistribusian, pendampingan, dan transparansi.
IZN bukan sekadar angka dan peringkat. Ia adalah cermin untuk melihat sejauh mana zakat mampu mengubah kehidupan. Blora sudah berada di jalur yang baik. Kini tantangannya adalah mempercepat langkah agar kategori Bertumbuh benar-benar berujung pada kesejahteraan. Jangan berhenti pada angka.
redaksi radJadikan angka sebagai pijakan untuk menghadirkan perubahan nyata (*)
Editor : Mahendra Aditya