Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

PAUD dan Penanaman Nilai-nilai Akhlak Sedari Dini

Admin • Rabu, 1 Juli 2026 | 14:07 WIB
Rosidi
Rosidi

Oleh: Rosidi
Pegiat literasi, praktisi pendidikan dan pemerhati pendidikan anak usia dini serta mentor Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) Ma’had Aly TBS Kudus

“ ... Betapa hebatnya menjadi guru di sekolahan yang membentuk akal dan jiwa anak-anak, karena masa depan manusia ada di tangan guru”. (Ir Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, 1965)

Dalam perkembangan pendidikan di Indonesia saat ini, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi lembaga pendidikan yang sangat menarik mendapatkan perhatian. Tidak sekadar lantaran lembaga itu yang kian membumi di kalangan masyarakat, tetapi juga karena peran dan kontribusinya.
Disadari atau tidak, di era 1980 – 1990-an, PAUD adalah lembaga pendidikan yang kurang begitu populer, karena anak-anak rerata masuk bangku pendidikan dasar (SD/ MI) tanpa melalui jenjang PAUD terlebih dahulu. 

Sepanjang pemahaman penulis, lembaga pendidikan ini (PAUD), mulai mendapatkan perhatian serius masyarakat itu setelah bergulirnya era reformasi 1998. Sejak itulah, lambat laun PAUD mengalami perkembangan yang sangat luar biasa. 

Hal itu bisa dilihat dari banyaknya PAUD yang berdiri di daerah-daerah, mulai dari Pos PAUD di desa-desa, Taman Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), hingga Taman Kanak-kanak (TK). 

Fakta tersebut menunjukkan, masyarakat sudah memandang bahwa PAUD merupakan salah satu lembaga pendidikan yang sangat penting, sehingga nyaris sangat sulit saat ini mencari anak di bawah usia 6 tahun yang tidak dimasukkan PAUD oleh orang tuanya. 
Urgensi Pendidikan  

Tak ada yang menyangkal, bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi pertumbuhan anak dalam menyongsong masa depannya, dan sebagai bekal meraih kesuksesannya. 

Ki Hajar Dewantara, misalnya. Tokoh pendidikan tanah air yang dikenal dengan Taman Siswa yang didirikannya pada masanya, ini menegaskan, bahwa pendidikan adalah tempat persemaian segala benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat dan bangsa. (Darsiti Soeratman, 1986) 
Perpesktif menarik soal urgensi atau pentingnya pendidikan, juga disampaikan oleh ulama besar tanah air, Hadlratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU). 

Bagi KH M Hasyim Asy’ari, pendidikan merupakan sarana mencapai kemanusiaan, sehingga menyadari siapa sesungguhnya penciptanya, untuk apa diciptakan, melakukan segala perintah-Nya, untuk berbuat baik di dunia dengan menegakkan keadilan, sehingga layak disebut makhluk yang lebih mulia dibanding makhluk-makhluk lain yang diciptakan Tuhan. (Muhammad Rifai, 2010) 

Dua tesis dari tokoh besar bangsa Indonensia di atas, cukup menjadi penegas, betapa pendidikan adalah hal terpenting yang mesti mendapatkan perhatian dan diprioritaskan dalam mengawal pertumbuhan anak menuju kedewasaannya. 

Ruang Penanaman Karakter
Mengenai pentingnya akhlak, Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menyatakan dalam salah satu hadisnya: Innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq. (Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak).
Hadis tersebut menegaskan, betapa akhlak menjadi hal yang sangat penting selain ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, ilmu dan akhlak adalah dua hal yang sama-sama harus dimiliki oleh setiap insan. 

Dan dalam konteks kekinian, PAUD adalah lembaga pendidikan yang mengambil peran dan berkontribusi penting dalam upaya penanaman nilai-nilai akhlak (karakter) sedari dini. Terlebih, diakui atau tidak, pendidik (guru) PAUD adalah sosok sentral, yang setiap kata dan petuah yang disampaikannya, senantiasa tertanam dalam benak anak-anak didiknya. 

Ali Nugraha dan Yeni Rachmawati (2025), mengutip dari Gordon Vessels dan William Huitt, menjelaskan, karakter yang perlu ditumbuhkan dalam sanubari anak, adalah yang memiliki nilai baik dan meningkatkan harga diri (good character and self-respect). 

Di antara karakter itu adalah pengembangan rasa tanggung jawab, perilaku etis, dan bermoral (moral responsibility-ethical and moral behavior), peningkatan kapasitas untuk disiplin (capacity for discipline), dan pengakuan terhadap karakter pribadi dan ide seseorang (personal character and ideas).

Selain itu, karakter lain yang perlu ditumbuhkan adalah sikap amanah (bisa dipercaya), sikap hormat dan santun, penumbuhan rasa kasih sayang, kepedulian dan kerja sama, serta yang tak kalah penting adalah rasa percaya diri, kreatif dan pantang menyerah.  

Dari beragam karakter yang perlu ditumbuhkan dalam sanubari anak-anak itu, lembaga-lembaga PAUD telah mengambil peran yang luar biasa. Dimulai dari mengajari anak dengan kebiasaan-kebiasaan baik, melalui program-program pengajaran serta sentra-sentra yang diberikan. 

Untuk itu, support (dukungan) terhadap PAUD, adalah sebuah keniscayaan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat luas. Dukungan itu bisa diwujudkan melalui beragam gagasan (ide) dan lainnya, demi PAUD yang semakin baik di masa-masa mendatang. 

Sebab, PAUD adalah lembaga pendidikan yang menjadi garda terdepan dalam menamamkan nilai-nilai karakter anak sedari dini, di luar pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya di dalam keluarga. Wallahu a’lam. (*)

Editor : Admin
#character #PAUD