Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

22 Tahun Rawat Rafflesia Arnoldii Tanpa Bantuan Pemerintah, Pengabdian Joni Hartono Tuai Apresiasi

Nabila Agustin • Minggu, 28 Juni 2026 | 19:33 WIB
Joni Hartono (Antara)
Joni Hartono (Antara)

RADAR KUDUS – Di tengah ancaman kerusakan hutan dan minimnya dukungan pendanaan, seorang warga di Nagari Batang Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, tetap mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kelestarian bunga langka Rafflesia arnoldii.

Pria tersebut adalah Joni Hartono (54), pemandu wisata lokal yang selama lebih dari dua dekade mengabdikan diri untuk merawat dan memantau keberadaan bunga padma raksasa yang tumbuh di kawasan Hutan Batang Palupuah.

Meski harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menyusuri hutan berlumpur dan medan terjal, Joni rutin mendatangi lokasi mekarnya Rafflesia untuk memastikan kondisi bunga tetap terjaga hingga akhir masa mekarnya.

"Dari sini jaraknya kurang lebih dua jam perjalanan ke dalam hutan," kata Joni Hartono kepada wartawan Halbert Caniago saat menyusuri Hutan Batang Palupuah.

Saat tiba di lokasi, Joni mendapati bunga Rafflesia arnoldii yang telah mekar selama tiga hari masih dalam kondisi baik. Ia kemudian membersihkan tumbuhan liar di sekitar bunga dan mendokumentasikan perkembangannya untuk dilaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

"Nanti saya akan mengirimkan foto ini untuk mengabarkan bahwa bunga Rafflesia ini sudah mekar dan sudah memasuki hari ke-3. Saya akan terus ke sini untuk melihat bunga ini sampai hari terakhirnya mekar," ujarnya.

Tumbuh dari Ketertarikan Menjadi Pengabdian

Joni mengaku kecintaannya terhadap Rafflesia bermula pada awal tahun 2000-an ketika kembali ke kampung halaman dan bekerja sebagai pemandu wisata. Ketertarikannya semakin besar setelah mendampingi peneliti tanaman Greg Hambali.

Pada 2002, ia mencoba membudidayakan Rafflesia di dekat rumah orang tuanya. Upaya tersebut membuahkan hasil ketika bunga itu berhasil mekar pada 2009.

"Saat itu kecintaan saya terhadap bunga Rafflesia ini mulai tumbuh dan saya menyatakan bahwa saya akan mendedikasikan diri saya untuk bunga Rafflesia ini," tuturnya.

Tidak berhenti sampai di situ, Joni kini membangun kawasan konservasi mandiri seluas lebih dari satu hektare di lahan milik warga yang terbengkalai. Di lokasi tersebut, ia menanam tumbuhan tetrastigma yang menjadi inang utama bagi Rafflesia.

"Lahan itu ukurannya lebih dari satu hektare. Saya yakin suatu saat nanti akan ada bunga Rafflesia yang mekar di lokasi itu. Tapi memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk itu," katanya.

Menurut Joni, proses hingga Rafflesia dapat mekar membutuhkan waktu sekitar 10 tahun.

"Waktu yang dibutuhkan hingga adanya bunga Rafflesia yang mekar di sana kurang lebih 10 tahun. Saya tidak tahu apakah saya masih sempat melihatnya atau tidak. Yang penting saya sudah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan," ungkapnya.

Minim Dukungan dan Ancaman Kerusakan Hutan

Dalam menjalankan upaya konservasi, Joni mengaku kerap mengalami kesulitan pendanaan. Selama ini, ia hanya mengandalkan pendapatan dari jasa pemandu wisata.

"Kalau untuk flora ini memang sangat sulit untuk mendapatkan donatur. Berbeda dengan fauna seperti harimau Sumatra atau hewan dilindungi lainnya yang bisa cepat mendapatkan perhatian dari berbagai pihak," keluhnya.

Ia juga menyebut belum pernah mendapatkan dukungan langsung dari pemerintah.

"Sampai saat ini kalau dukungan dari pemerintah kepada saya belum pernah ada. Baik dukungan secara moril ataupun secara materi belum ada juga," katanya.

Selain keterbatasan dana, Joni juga mengkhawatirkan ancaman perubahan iklim dan penebangan hutan terhadap kelangsungan hidup Rafflesia.

"Global warming dan penebangan hutan akan membuat iklim menjadi lebih panas yang tentunya tidak akan baik untuk bunga Rafflesia ini," ujarnya.

BKSDA: Rafflesia Sangat Bergantung pada Lingkungan

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumatera Barat, Antonius Vevri, mengatakan Rafflesia sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan keberadaan tumbuhan inangnya.

"Karena bunga Rafflesia itu hidup dari inangnya dan inangnya itu membutuhkan pohon-pohon besar untuk menjalar dan hidup. Jadi Rafflesia itu sangat tergantung pada lingkungannya," kata Antonius Vevri.

Menurutnya, kegiatan konservasi yang dilakukan Joni diperbolehkan karena dilakukan di luar kawasan konservasi dan menggunakan lahan pribadi.

Sementara itu, pengamat lingkungan Indang Dewata menilai upaya Joni layak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

"Pekerjaan konservasi ini adalah pekerjaan yang luar biasa. Butuh orang yang sungguh-sungguh dan kita acungi jempol untuk beliau," ujar Indang.

Ia menambahkan, keberadaan Rafflesia tidak hanya penting bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Editor : Mahendra Aditya
#Rafflesia Arnoldii #Hutan Batang Palupuah #Joni Hartono #bunga langka