"Masuklah ke pemerintahan, lalu perbaiki dari dalam."
Kalimat itu sering saya dengar. Niatnya baik. Bahkan terdengar logis. Jika ingin mengubah keadaan, bukankah kita harus berada di pusat pengambilan keputusan?
Namun pengalaman sejarah, kajian ilmu politik, dan kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perkara tidak sesederhana itu.
Saya justru sering bertanya: mengapa yang selalu diminta berubah adalah orangnya, bukan sistemnya?
Mengapa setiap orang yang kritis didorong masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dengan harapan dapat memperbaiki keadaan? Padahal berkali-kali yang terjadi justru sebaliknya. Sistem yang lebih dulu mengubah orang tersebut.
Mungkin karena banyak yang lupa bahwa kekuasaan bukan ruang kosong. Ia memiliki budaya, kepentingan, jaringan, aturan main, dan logika yang sudah terbentuk bertahun-tahun. Seseorang yang masuk ke dalamnya tidak sedang menghadapi satu persoalan, melainkan berhadapan dengan sebuah ekosistem yang telah mengakar.
Dalam ilmu politik dikenal istilah institutionalization dan co-optation. Institusi yang kuat memiliki kemampuan menyerap, menyesuaikan, bahkan menetralisasi individu-individu yang berpotensi mengganggu stabilitasnya.
Para ilmuwan politik telah lama mengamati bagaimana aktivis, akademisi, maupun tokoh masyarakat yang awalnya sangat kritis terhadap kekuasaan perlahan menjadi bagian dari mekanisme yang dahulu mereka kritik.
Awalnya mereka datang dengan idealisme.
Lalu mereka belajar berkompromi.
Kemudian mereka belajar menyesuaikan diri.
Setelah itu mereka mulai memahami "realitas politik."
Dan pada akhirnya mereka menjadi bagian dari realitas yang dulu mereka lawan.
Proses itu sering terjadi tanpa disadari.
Tidak ada pengkhianatan besar.
Tidak ada perubahan drastis.
Yang ada hanyalah serangkaian kompromi kecil yang dilakukan setiap hari.
Hari ini diam terhadap satu kebijakan yang dianggap kurang tepat.
Besok membenarkan keputusan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani.
Lusa memilih menjaga posisi daripada memperjuangkan prinsip.
Begitulah idealisme terkikis sedikit demi sedikit.
Bukan dihancurkan sekaligus, tetapi dilemahkan secara perlahan.
Saya tidak mengatakan bahwa semua orang yang masuk pemerintahan akan kehilangan idealismenya. Tentu tidak. Banyak tokoh hebat yang mampu membawa perubahan dari dalam sistem. Mereka layak dihormati.
Tetapi mereka adalah pengecualian, bukan kebiasaan.
Mereka berhasil karena memiliki integritas luar biasa, dukungan politik yang kuat, serta keberanian menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Sementara bagi kebanyakan orang, kenyataan yang dihadapi jauh berbeda.
Satu orang idealis masuk ke dalam sebuah birokrasi besar.
Di depannya ada kepentingan politik.
Di sampingnya ada kepentingan ekonomi.
Di belakangnya ada tekanan jabatan.
Di atasnya ada atasan yang harus dipatuhi.
Di bawahnya ada bawahan yang harus dijaga.
Pada akhirnya satu idealisme berhadapan dengan puluhan bahkan ratusan pragmatisme.
Bagaimana mungkin pertarungan itu berlangsung seimbang?
Karena itulah saya sering tidak setuju ketika setiap suara kritis selalu didorong masuk ke dalam pemerintahan.
Seolah-olah perubahan hanya bisa dilakukan dari dalam.
Padahal demokrasi membutuhkan keseimbangan.
Tidak semua orang harus menjadi pejabat.
Tidak semua orang harus menjadi bagian dari sistem.
Sebagian orang memang harus tetap berada di luar.
Menjadi pengawas.
Menjadi pengingat.
Menjadi suara yang tidak bisa dibeli oleh jabatan.
Menjadi pihak yang tetap bebas mengatakan bahwa yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar.
Sejarah dunia menunjukkan bahwa banyak perubahan besar justru lahir dari tekanan masyarakat sipil, gerakan sosial, akademisi, media, dan kelompok-kelompok independen yang berada di luar kekuasaan. Mereka tidak memiliki jabatan, tetapi memiliki kebebasan. Dan sering kali kebebasan itulah yang menjadi sumber kekuatan terbesar.
Kita membutuhkan orang baik di dalam sistem.
Tetapi kita juga membutuhkan orang baik di luar sistem.
Keduanya sama pentingnya.
Karena jika semua orang kritis masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, siapa yang akan mengawasi kekuasaan?
Jika semua idealis memilih menjadi bagian dari sistem, siapa yang akan mengingatkan sistem ketika mulai menyimpang?
Maka jangan paksa kami masuk sistem dengan dalih memperbaiki sistem.
Biarkan sebagian dari kami tetap berada di luar.
Bukan karena takut bertarung.
Bukan karena tidak peduli.
Tetapi karena kami percaya bahwa menjaga jarak dari kekuasaan kadang justru merupakan cara terbaik untuk menjaga nurani.
Sebab sejarah berkali-kali membuktikan, tidak sedikit orang yang masuk ke dalam sistem untuk mengubahnya, tetapi akhirnya justru berubah oleh sistem itu sendiri.
Dan ketika itu terjadi, satu idealisme kembali kalah, dikeroyok oleh pragmatisme yang jumlahnya jauh lebih banyak. (*)
Editor : Admin