Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menjelang Malam 1 Suro 2026, Keraton Yogyakarta, Solo, dan Mangkunegaran Siap Gelar Tradisi Sakral

Nabila Agustin • Selasa, 16 Juni 2026 | 08:43 WIB
Kerabat Keraton bersama para abdi dalem mengarak pusaka dalam rangka Kirab Malam Satu Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah. (ANTARA News)
Kerabat Keraton bersama para abdi dalem mengarak pusaka dalam rangka Kirab Malam Satu Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah. (ANTARA News)

RADAR KUDUS – Masyarakat Jawa kembali bersiap menyambut datangnya Malam 1 Suro 2026 yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.

Momentum sakral ini akan diisi dengan berbagai tradisi budaya di sejumlah pusat kebudayaan Jawa, seperti Keraton Yogyakarta, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan Pura Mangkunegaran Solo.

Di Keraton Yogyakarta, rangkaian peringatan diawali dengan berbagai kegiatan budaya dan spiritual yang terhimpun dalam Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng.

Agenda tersebut mencakup pertunjukan Wayang Kulit Gedhog, pembacaan Macapatan, hingga prosesi utama Tapa Bisu Mubeng Beteng yang menjadi puncak perenungan malam 1 Suro.

Pertunjukan Wayang Kulit Gedhog dengan lakon “Jaya Berdangga” dijadwalkan digelar di Bangsal Kamandungan Kidul pada Selasa (16/6/2026) malam.

Setelah itu, kegiatan Macapatan dilaksanakan di area Pelataran Kamandungan Lor sebagai sarana kontemplasi melalui tembang-tembang Jawa kuno.

Pada puncak acara, ribuan abdi dalem bersama masyarakat akan mengikuti prosesi Tapa Bisu Mubeng Beteng dengan berjalan kaki mengelilingi Benteng Baluwerti sejauh kurang lebih lima kilometer tanpa berbicara.

Tradisi ini dimaknai sebagai simbol pengendalian diri, ketenangan batin, serta refleksi spiritual menyambut tahun baru Jawa.

Selain itu, Keraton Yogyakarta juga melaksanakan ritual Jamasan Pusaka, yakni proses pencucian benda-benda pusaka seperti keris, gamelan, dan kereta kerajaan.

Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang masih dijaga hingga saat ini.

Sementara itu, di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, masyarakat akan kembali menyaksikan Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang selalu menjadi daya tarik utama setiap tahun.

Prosesi diawali dengan Miyos Dalem, yaitu momen ketika Raja Keraton Surakarta, SISKS Pakubuwono XIV, memberikan salam kepada para tamu sebelum kirab dimulai.

Dalam kirab tersebut, lima ekor kebo bule keturunan Kyai Slamet biasanya menjadi bagian paling depan sebagai cucuk lampah atau pembuka jalan.

Namun, persiapan tahun ini sempat diwarnai kendala karena sebagian kerbau pusaka mengalami masa birahi menjelang pelaksanaan acara.

Serati kebo bule Keraton Solo, Heri Sulistyo, menyampaikan bahwa saat gladi bersih hanya dua ekor yang dapat mengikuti latihan.

“Waktu gladi kemarin yang mau jalan cuma dua, tiga lainnya masih belum siap. Ada yang sedang birahi jadi tidak mau bergerak,” ujarnya, Senin (15/6/2026).

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut merupakan hal alami yang biasa terjadi pada hewan dan biasanya hanya berlangsung sementara.

“Itu sifat alami hewan, biasanya satu atau dua hari sudah kembali normal,” kata Heri.

Meski demikian, pihak keraton tetap melakukan antisipasi karena kondisi tersebut berpotensi membahayakan jika kerbau yang sedang aktif ikut dalam kirab.

“Kalau sedang begitu bisa mengejar dan tidak terkontrol, jadi harus benar-benar dipastikan kondisinya aman,” jelasnya.

Heri juga menyebut dua ekor kebo bule yang sedang mengalami kondisi tersebut bernama Ponco dan Mugi.

Pihak keraton masih memantau perkembangan keduanya sebelum menetapkan jumlah final hewan yang akan digunakan dalam kirab.

“Masih dilihat perkembangannya. Kalau belum memungkinkan bisa diganti, nanti akan dibahas dalam rapat,” ujarnya.

Di sisi lain, Pura Mangkunegaran Solo juga menyiapkan Kirab Pusaka Dalem yang akan digelar pada Selasa (16/6/2026) malam.

Kirab ini akan melintasi sejumlah jalan utama di Kota Solo dengan melibatkan keluarga besar Mangkunegaran, abdi dalem, serta masyarakat umum.

Seluruh peserta kirab diwajibkan menjalani tapa bisu atau berjalan tanpa berbicara sebagai simbol pengendalian diri dan perenungan batin dalam menyambut tahun baru Jawa.

Selain kirab, Pura Mangkunegaran juga menggelar rangkaian spiritual selama 24 jam yang terbagi dalam tiga filosofi waktu, yakni Atita, Atiki, dan Anagata.

Ketiganya merepresentasikan proses manusia dalam melepaskan masa lalu, menjalani masa kini dengan kesadaran, serta menata harapan di masa depan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan6.com, seluruh rangkaian tradisi malam 1 Suro di tiga pusat budaya Jawa tersebut menjadi sarana refleksi diri, doa bersama, serta permohonan keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru.

Meski memiliki bentuk ritual yang berbeda, seluruh tradisi tersebut mengandung pesan yang sama, yakni ajakan untuk menjaga keseimbangan hidup, memperkuat spiritualitas, serta melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

 
Editor : Ali Mustofa
#Keraton #1 suro #yogyakarta #solo