Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Suro Bukan Bulan Sial: Mengapa Kita Takut Menggelar Hajatan?

Admin • Senin, 15 Juni 2026 | 13:57 WIB
SAKRAL: 1 Suro jadi bulan sangat sakral, terutama masyarakat Jawa.
SAKRAL: 1 Suro jadi bulan sangat sakral, terutama masyarakat Jawa.

Setiap kali bulan Suro datang, fenomena yang sama selalu terulang di tengah masyarakat Jawa. Kalender hajatan mendadak sepi. Rencana pernikahan ditunda, khitanan diundur, bahkan sebagian orang enggan memulai usaha atau menempati rumah baru. Padahal, jika ditanya alasan pastinya, tidak banyak yang mampu menjelaskan secara rasional mengapa bulan Suro harus dihindari untuk menggelar hajatan.

Menurut saya, ketakutan terhadap bulan Suro lebih merupakan hasil dari konstruksi budaya yang diwariskan secara turun-temurun daripada sebuah kenyataan yang dapat dibuktikan. Selama ratusan tahun masyarakat Jawa menerima pesan dari generasi sebelumnya bahwa Suro adalah bulan yang sakral, bulan untuk tirakat, prihatin, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Pesan itu terus diulang dari mulut ke mulut hingga akhirnya diterima sebagai sebuah kebenaran sosial. Ketika suatu keyakinan telah hidup lama dalam masyarakat, ia sering kali lebih kuat daripada fakta itu sendiri.

Sebenarnya, leluhur Jawa tidak sedang mengajarkan ketakutan terhadap Suro. Yang mereka wariskan adalah penghormatan terhadap waktu yang dianggap istimewa. Pada masa lalu, 1 Suro dijadikan momentum untuk melakukan perenungan, evaluasi diri, dan penguatan spiritual. Suasana batin seperti itu tentu berbeda dengan pesta, hiburan, atau keramaian hajatan. Dari sinilah kemungkinan lahir anggapan bahwa Suro kurang tepat untuk pesta besar. Sayangnya, pesan spiritual tersebut lambat laun bergeser menjadi keyakinan bahwa Suro adalah bulan yang membawa kesialan.

Di sinilah kita perlu bersikap jernih. Banyak orang menghubungkan setiap masalah yang terjadi setelah hajatan dengan waktu pelaksanaannya. Jika pasangan yang menikah di bulan Suro kemudian mengalami masalah rumah tangga, maka Suro yang disalahkan. Namun jika kehidupan mereka baik-baik saja, hal itu jarang dijadikan bukti bahwa anggapan tersebut keliru. Cara berpikir seperti ini dikenal dalam ilmu psikologi sebagai kecenderungan manusia untuk mencari pembenaran atas keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya.

Yang menarik, Islam sendiri tidak pernah mengajarkan bahwa Muharram atau Suro adalah bulan sial. Justru Muharram termasuk bulan yang dimuliakan. Tidak ada larangan menikah, berkhitan, membangun rumah, atau menggelar hajatan pada bulan tersebut. Karena itu, menganggap Suro sebagai penyebab datangnya malapetaka tentu sulit dipertahankan baik secara agama maupun ilmu pengetahuan.

Bagi saya, yang perlu dijaga bukanlah ketakutan terhadap bulan Suro, melainkan nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Suro mengajarkan manusia untuk tidak larut dalam gemerlap dunia, melainkan sesekali berhenti untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Suro adalah pengingat bahwa hidup bukan hanya soal pesta dan perayaan, tetapi juga soal refleksi, doa, dan perbaikan diri. Nilai inilah yang membuat Suro tetap relevan hingga hari ini.

Karena itu, mungkin sudah saatnya masyarakat memandang Suro secara lebih proporsional. Menghormati tradisi adalah sikap yang baik, tetapi menjadikan tradisi sebagai sumber ketakutan adalah hal yang berbeda. Suro bukan bulan sial. Suro adalah warisan budaya yang mengajarkan kebijaksanaan. Yang membuat seseorang beruntung atau celaka bukanlah nama bulannya, melainkan ikhtiar, doa, dan bagaimana ia menjalani kehidupannya. Justru jika Suro hanya dikenang sebagai bulan yang menakutkan, kita telah kehilangan makna terdalam yang hendak diwariskan oleh para leluhur Jawa.

Editor : Admin
#hajatan #suro #1 Muharram