Sesekali matanya melirik handphone yang tergeletak di dekat serbuk kayu.
Tidak ada pesan baru.
Di halaman rumah, dua anaknya bermain. Yang sulung berusia 14 tahun, duduk menemani adiknya yang baru berumur 9 tahun. Mereka sesekali bercanda, sementara sang ibu kembali menekuni pekerjaan yang sebenarnya sudah lama ditinggalkannya.
Tutik adalah seorang janda. Ia membesarkan kedua anaknya seorang diri.
Lima tahun lalu, profesi pengukir ditinggalkan. Ia memilih bekerja di pabrik demi penghasilan yang lebih pasti. Namun beberapa bulan lalu muncul harapan baru. Sekitar 200 meter dari rumahnya berdiri Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat lowongan dibuka, Tutik mendaftar.
Ia diterima.
Kabar itu membuatnya berani mengambil keputusan besar, mengundurkan diri dari pabrik.
Menurut perhitungannya, bekerja di SPPG akan lebih dekat dari rumah. Tidak perlu lagi berangkat jauh setiap hari. Ia juga bisa lebih sering bersama kedua anaknya.
Masalahnya, pekerjaan baru itu tak kunjung dimulai.
"Kalau tidak minggu ini, minggu depan."
Begitu kabar yang diterimanya.
Minggu berganti minggu.
Lalu menjadi bulan.
"Kalau tidak bulan ini, bulan depan."
Tutik hanya bisa menunggu.
Empat bulan lamanya.
Untung ia masih memiliki keterampilan mengukir. Pekerjaan lama yang pernah ditinggalkan itu justru menjadi penyelamat ketika kepastian tak kunjung datang. Ia kembali natah, memahat kayu, menerima pesanan ornamen dan mebel ukir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun tidak semua orang memiliki kemampuan seperti Tutik.
Tidak semua calon pekerja SPPG masih memiliki pekerjaan cadangan. Tidak semua mempunyai keterampilan yang bisa langsung menghasilkan uang saat menunggu. Tidak semua punya tabungan yang cukup untuk bertahan berbulan-bulan.
Karena itu, kisah Tutik sesungguhnya bukan hanya cerita tentang seorang pengukir.
Ini adalah cerita tentang pentingnya kepastian.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan program besar yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Ribuan tenaga kerja juga berharap memperoleh penghasilan dari operasional SPPG yang terus bertambah di berbagai daerah.
Tetapi di balik angka-angka tersebut, ada manusia yang menggantungkan harapan pada program itu.
Ada yang sudah diterima bekerja.
Ada yang sudah meninggalkan pekerjaan lama.
Ada yang sudah menyusun ulang rencana hidupnya.
Lalu harus menunggu dalam ketidakpastian.
Syukurlah, suatu pagi handphone Tutik akhirnya berbunyi.
"Senin berangkat."
Kalimat pendek itu mengakhiri empat bulan penantian.
Namun pertanyaan yang lebih besar masih layak diajukan. Berapa banyak Tutik lain di luar sana yang mengalami hal serupa?
Apakah keterlambatan operasional SPPG semata karena faktor teknis dan administrasi? Ataukah ada persoalan lain yang belum terungkap kepada publik?
Wallahua'lam.
Yang jelas, semakin lama ketidakjelasan dibiarkan, semakin besar ruang bagi spekulasi dan prasangka.
Program sebesar MBG membutuhkan transparansi yang sama besarnya. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar jadwal operasional dapur.
Yang dipertaruhkan adalah kehidupan orang-orang kecil yang menggantungkan harapan pada kepastian kerja.
Orang-orang seperti Tutik.
Seorang janda dengan dua anak yang hanya ingin bekerja dan mendapatkan kepastian.
Editor : Admin