Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Masinis Tragedi Bintaro 1987 Slamet Suradio Meninggal Dunia, Tinggalkan Jejak Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Nabila Agustin • Jumat, 5 Juni 2026 | 14:09 WIB
Slamet Suradio (Radar Banyuwangi)
Slamet Suradio (Radar Banyuwangi)

RADAR KUDUS - Slamet Suradio, masinis Kereta Api (KA) 225 yang terlibat dalam Tragedi Bintaro 1987, meninggal dunia pada Rabu (3/6/2026) dini hari di Bekasi, Jawa Barat. Pria yang akrab disapa Mbah Slamet itu mengembuskan napas terakhir pada usia 87 tahun setelah beberapa tahun terakhir mengalami penurunan kondisi kesehatan.

Kabar duka tersebut dibenarkan keluarga dan pemerintah Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, kampung halaman almarhum. Jenazah kemudian dimakamkan di desa kelahirannya setelah dibawa dari Bekasi.

Sekretaris Desa Gintungan, Jafar Sadan Arif, mengatakan warga bersama pemerintah desa langsung bergotong royong mempersiapkan prosesi pemakaman setelah menerima kabar dari keluarga pada dini hari.

Baca Juga: Levi’s Buka Gerai Baru di Mal 23 Semarang, Hadirkan Konsep Retail Modern "Indigo Next Generation"

“Beliau sering sakit dan rutin menjalani kontrol kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Setelah mendapat kabar duka, warga langsung membantu persiapan pemakaman,” ujarnya.

Slamet Suradio lahir pada 18 Agustus 1939 dan mengawali karier di dunia perkeretaapian pada 1964. Berbekal ijazah SMP, ia bergabung dengan Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), cikal bakal PT Kereta Api Indonesia (Persero). Dua tahun kemudian, ia lulus ujian asisten masinis dan terus meniti karier hingga diangkat menjadi masinis pada 1971.

Namun, perjalanan hidupnya berubah drastis pada 19 Oktober 1987. Saat itu, KA 225 rute Rangkasbitung–Tanah Abang yang dikemudikannya bertabrakan dengan KA 220 Patas Merak di kawasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.

Baca Juga: Uji Coba Rute Baru BRT Trans Semarang ke POJ dan Mall 23 Disambut Positif, Okupansi Penumpang Terus Meningkat

Kecelakaan tersebut menewaskan lebih dari 150 orang dan melukai ratusan lainnya, sehingga dikenal sebagai salah satu tragedi perkeretaapian terbesar dalam sejarah Indonesia.

Dalam peristiwa tersebut, Slamet menjadi salah satu penyintas. Namun, setelah proses penyelidikan dan persidangan, ia ditetapkan sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu. 

Pengadilan menjatuhkan hukuman lima tahun penjara kepada Slamet bersama sejumlah pegawai perkeretaapian lainnya.
Meski demikian, Slamet sepanjang hidupnya tetap meyakini bahwa dirinya telah menjalankan tugas sesuai prosedur. 

Kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya, ia kerap menegaskan bahwa keberangkatan kereta dilakukan setelah menerima isyarat yang menurutnya merupakan izin jalan dari petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA).

“Kalau tidak ada izin jalan, saya tidak berani berangkat. Saya membawa banyak nyawa,” demikian cerita yang sering disampaikan Slamet kepada kerabat dan tetangganya.

Setelah bebas dari penjara pada 1993, Slamet tidak lagi bertugas sebagai masinis. Setahun kemudian ia diberhentikan dari perusahaan dan menjalani kehidupan sederhana di kampung halaman bersama istrinya. Pada masa tuanya, ia diketahui sempat berjualan rokok eceran untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kepergian Slamet Suradio menutup perjalanan panjang seorang pekerja perkeretaapian yang namanya selalu dikaitkan dengan Tragedi Bintaro 1987.

Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai penyebab kecelakaan tersebut, kisah hidupnya menjadi bagian dari sejarah penting transportasi Indonesia sekaligus pengingat akan pentingnya keselamatan dan sistem operasional yang andal dalam dunia perkeretaapian.

Slamet Suradio meninggalkan seorang istri, empat anak, dan empat cucu. Bagi keluarga, tetangga, serta masyarakat yang mengenalnya, ia dikenang sebagai sosok sederhana yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia kereta api dan membawa beban sejarah yang tidak ringan hingga akhir hayatnya.

Editor : Mahendra Aditya
#Slamet Suradio #tragedi Bintaro #kai