RADAR KUDUS - Langkah Gary, Kelly, dan Sam Bencheghib akhirnya berhenti di pelataran Monas, Minggu pagi (24/5). Menuntaskan lari 1.260 kilometer dari Bali menuju Jakarta. Mengumpulkan 26.193 Kg sampah. Lecet kaki, panas, dan hujan badai mereka bayar demi satu pesan: sungai Indonesia harus diselamatkan dari sampah plastik.
Zainal Abidin, Jakarta
Suara sorak-sorai terdengar dari ujung jalan utama Monumen Nasional (Monas), Jalan Silang Barat Daya, Jakarta. Gary, Kelly, dan Sam berkali-kali meneriakkan “Sungai Watch!”, kemudian dibalas teriakan peserta fun run yang berada di antara mereka bertiga.
Kaus yang dipakai Gary dan Sam berwarna hitam, sedangkan Kelly mengenakan kaus putih. Belakang kaus tak lagi bertuliskan “Run for Rivers”, melainkan peta Pulau Jawa dan Bali lengkap dengan rute perjalanan. Hanya bagian depan kaus yang masih bertuliskan “Run for Rivers”.
Direktur Utama Jawa Pos, Leak Kustiyo, turut menyambut kedatangan mereka bertiga. Suara itu langsung disambut teriakan Direktur Radar Kudus, Baehaqi.
“Selamat datang, Gary, Kelly, dan Sam,” teriak Baehaqi sambil bersalaman dengan ketiganya.
“Terima kasih Pak Baehaqi, terima kasih,” ucap Gary sambil melakukan salam komando dan berpelukan.
“Pak Leak, terima kasih dukungannya dan pendampingannya. Ini luar biasa,” lanjut Gary sambil mengatupkan tangan dan membungkukkan badan.
Dari gerbang utama Monas itu, ketiganya bersama Leak dan Baehaqi beserta peserta depart and run berlari menuju garis finish. Jaraknya sekitar 100 meter, tepat di depan Tugu Monas.
Mereka kemudian disambut pacar Gary, Maria Mutiara, orang tua Gary, Kelly, dan Sam, yakni Malik dan Catherine Bencheghib, serta seluruh tim.
Wajah lelah bercampur lega terlihat dari Gary Bencheghib, Kelly Bencheghib, dan Sam Bencheghib ketika menuntaskan perjalanan sejauh 1.177,48 kilometer dari Bali menuju Jakarta.
Mereka berhasil mengangkat sampah dari sungai sebanyak 26.193,42 kilogram, dengan melibatkan 1.405 komunitas, 5.207 siswa, dan 4.337 peserta lainnya.
Perjalanan panjang itu mereka lakukan untuk mengampanyekan penyelamatan sungai Indonesia dari ancaman sampah plastik. Raut wajah ketiganya memang tampak lelah. Namun, mata mereka memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Peluh, lecet di kaki, panas jalanan, hingga hujan badai yang menemani perjalanan selama hampir dua bulan, seolah lunas terbayar ketika garis finish “Run for Rivers” benar-benar mereka capai di jantung ibu kota negeri ini.
Perjalanan panjang itu bukan sekadar olahraga lari lintas kota. Setiap kilometer yang mereka tempuh membawa pesan tentang sungai yang kian dipenuhi sampah plastik, lalu dibersihkan agar sampah tersebut tidak terbawa ke laut dan menyebar ke seluruh belahan bumi.
“Sampah plastik di Indonesia itu bisa terbawa arus ke seluruh belahan bumi, begitu juga sebaliknya. Mereka datang tanpa perlu visa. Karena itu kita bersihkan dari sungai,” ucap Gary.
Melalui kampanye “Run for Rivers”, ketiganya ingin mengingatkan bahwa sungai bukan tempat membuang limbah, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
Perjalanan dimulai pada 4 April 2026 dari Kedonganan, Badung, Bali. Dari titik awal itu, Gary, Kelly, dan Sam berlari melintasi berbagai kota sambil mengajak masyarakat terlibat dalam aksi nyata menjaga lingkungan.
Setiap kali menemui warga yang membakar sampah atau membuang sampah ke sungai, mereka menegur dengan bahasa yang halus. Mereka melakukan sosialisasi dengan pendekatan sesuai budaya masyarakat setempat. Ketiganya juga belajar budaya dari setiap daerah yang mereka singgahi.
Tiga bersaudara keturunan Prancis yang tumbuh besar di Bali itu selama ini dikenal aktif membersihkan sungai dan mengurangi sampah plastik melalui Sungai Watch.
“Kami bersyukur sekali akhirnya sampai di sini. Ini bukan tentang kami bertiga, tapi tentang semua orang yang peduli sungai dan lingkungan,” ujar Gary yang dikenal paling kocak.
Selama perjalanan dari Bali menuju Jakarta, Gary, Sam, dan Kelly menemukan banyak persoalan lingkungan. Mereka melihat sungai-sungai dan bantaran di sejumlah kota di Pantura Jawa dipenuhi sampah plastik rumah tangga.
Ketiganya juga kerap melihat kebiasaan membakar sampah di permukiman warga, hingga minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga aliran sungai.
“Namun di tengah kondisi tersebut, kami juga menemukan harapan. Dukungan masyarakat dan pemerintah daerah terus mengalir di hampir setiap kota yang kami singgahi, terutama di Jawa Tengah,” ujar Gary.
Di setiap daerah yang mereka singgahi, kampanye itu selalu dibarengi aksi sosial.
Baehaqi menjadi satu-satunya sosok direktur di jaringan Jawa Pos Radar Group yang paling antusias mengikuti kegiatan “Run for Rivers”. Ia bahkan tak sungkan turun langsung ke sungai bersama Gary, Sam, dan Kelly untuk membersihkan sampah di lokasi titik pembersihan sungai.
Bersama Sungai Watch, Baehaqi juga aktif mengenalkan dan menjadi jembatan bagi ketiganya untuk bertemu sejumlah kepala daerah yang dilintasi “Run for Rivers”.
Seperti di wilayah Blora, Grobogan, Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pekalongan. Selain menjadi penghubung dengan para kepala daerah, Baehaqi juga kerap ikut menemani trio asal Prancis itu berlari dengan jarak minimal lima kilometer.
Hal itu dilakukan di Blora bersama Bupati Arief Rohman, serta saat kegiatan Fun Run di Kota Semarang, Batang, dan Pekalongan.
Di Blora, trio Bencheghib disambut Bupati Blora Arief Rohman dan istrinya, Ainia Shalichah. Sedangkan di Grobogan, mereka bertemu Bupati Grobogan Setyo Hadi dan Sekda Anang Armunanto.
Bersama DLH, warga desa, dan siswa sekolah di Grobogan, Baehaqi serta Gary, Sam, dan Kelly melakukan aksi bersih-bersih sungai.
Hal serupa terjadi di Kota Semarang. Gary, Sam, dan Kelly bertemu Wali Kota Agustina Wilujeng. Secara khusus, Agustina bahkan mengajak mereka ikut bersih-bersih sungai tepat pada Hari Jadi ke-479 Kota Semarang.
Gary dan kawan-kawan juga bertemu Wakil Bupati Kendal Benny Karnadi dan jajaran muspida setempat.
Di Batang, ketiganya disambut Bupati Batang M. Faiz Kurniawan dan sang istri, Faelasufa. Keduanya bahkan ikut berlari sejauh 4,7 kilometer dari Kantor Kecamatan Kandeman hingga finish di kantor bupati.
Bupati Faiz juga berdonasi untuk Sungai Watch sebesar USD 700.
Yang paling istimewa terjadi di Kota Pekalongan. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sekda Pemprov Jateng Sumarno, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, dan Plt Bupati Pekalongan Sukirman ikut aksi Fun Run sejauh empat kilometer bersama Gary, Sam, dan Kelly.
Gubernur, sekda, dan para kepala daerah juga ikut membersihkan sungai bersama mereka.
Sebelumnya, Gubernur Ahmad Luthfi secara khusus menerima audiensi ketiganya di ruang tamu kantor gubernur di Kota Semarang. Luthfi bahkan menawarkan Gary, Sam, dan Kelly untuk berkantor di Wisma Perdamaian guna bersama-sama menjalankan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menuju “Jateng Bebas Sampah 2028”.
Menurut Ahmad Luthfi, gerakan Sungai Watch menjadi energi baru bagi kampanye lingkungan di Jawa Tengah. Ia menilai aksi nyata yang dilakukan Gary, Sam, dan Kelly mampu menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga sungai sebagai sumber kehidupan.
Leak Kustiyo juga mengapresiasi langkah berani ketiganya.
“Ketika sampai di Jawa Tengah, bertemu Direktur Radar Kudus Baehaqi dan tim, sambutan dan keterlibatannya sangat meriah,” ujarnya.
Menurut Leak, ketiganya juga luar biasa karena mampu menyelesaikan perjalanan jauh dari Bali hingga Jakarta sesuai target awal.
“Nanti di rapat Bali, saya rencanakan bertemu mereka bertiga. Saya ingin melihat kursi yang diolah dari limbah plastik,” ujarnya. (*)
Editor : Mahendra Aditya