Sudah lama saya tidak menapakkan kaki di Kecamatan Keling, Jepara. Barangkali terakhir kali saat Lebaran lalu, ketika bersilaturahmi ke rumah saudara di barat RSUD Rehatta Kelet.
Selebihnya, Keling hanya tinggal serpihan kenangan yang sesekali muncul dalam ingatan: jalan panjang menuju utara-timur Jepara, dan hamparan kebun.
Saya pernah tugas di sana sekitar 2013.
Selasa, 19 Mei 2026, saya kembali ke sana. Bukan karena tugas liputan, bukan pula urusan keluarga. Saya datang karena dawuh seorang guru.
Dan bagi saya, dawuh guru adalah panggilan yang tak pantas ditolak.
Namanya Bapak Khamdi. Kami memanggil beliau, Kyai Khamdi. Dulu beliau mengajar Fiqih di MAN Bawu Jepara—kini MAN 1 Jepara. Kini, menjelang masa purna tugasnya, beliau memimpin MAN 2 Jepara di Keling.
Dua puluh tahun berlalu sejak saya duduk di bangku madrasah itu. Waktu rupanya berjalan cepat, tetapi ada hal-hal yang tidak berubah dari diri beliau: tubuh yang tetap tegap, sorot mata yang teduh, wibawa yang tak dibuat-buat, dan ketawadhuan yang selalu memancar dalam setiap tutur kata beliau.
Melihat beliau kembali, saya seperti kembali menjadi murid berseragam putih abu-abu yang dulu sering duduk mendengarkan nasihatnya.
Kyai Khamdi bukan sekadar guru. Beliau adalah pengasuh jiwa bagi banyak muridnya.
Di masa kami sekolah dulu, beliau dikenal sebagai sosok yang ngemong. Tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga hadir dalam kesulitan murid-muridnya.
Ada siswa yang hidup dan makan di rumah beliau. Ada yang ditanggung kebutuhannya. Padahal rumah beliau saat itu sangat sederhana—tembok bata yang belum sepenuhnya rapi, jauh dari kesan mewah untuk seorang guru.
Namun dari rumah sederhana itu, lahir ketulusan yang sulit dicari tandingannya.
Saya sendiri merasa menjadi bagian dari “santri kalong” beliau. Tidak menetap di rumahnya, tetapi sering datang untuk meminta nasihat, mendengar petuah, atau sekadar mengisi hati dengan wejangan sederhana yang membekas hingga hari ini.
Karena itu, setiap Lebaran saya selalu berusaha menyempatkan diri sowan ke rumah beliau. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan ketika bertemu guru yang pernah menanamkan arah hidup.
Perjalanan pengabdian Kyai Khamdi juga panjang. Setelah dari MAN Bawu, beliau dipercaya memimpin sejumlah madrasah: MTsN Keling, MTsN Gajah Demak, MTsN Jepara, MTsN 2 Kudus, hingga kini MAN 2 Jepara.
Dari rumah beliau di Bawu, Jepara, ke sekolah-sekolah itu setidaknya butuh sekitar 1 sampai 1,5 jam.
Termasuk jabatan sekarang di MAN 2 Jepara. Butuh waktu 1,5 jam. Dengan jalan berkelok-kelok dan naik turun.
Prinsip beliau ketika sudah diangkat PNS, beliau niat abdikan diri kepada negara. ”Saya tidak boleh mengeluh,” ucap beliau.
Di setiap tempat, beliau meninggalkan jejak.
Dan jejak hebatnya sekarang di MAN 2 Jepara.
Madrasah yang berada di ujung utara-timur Jepara itu dulu bukan sekolah yang banyak dilirik.
Masyarakat sekitar Keling hingga perbatasan Pati kala itu belum memiliki dorongan kuat untuk menyekolahkan anak hingga jenjang tinggi.
Maklum, orang tua rerata lulusan tamat SD atau SMP. Motivasi sekolah anak cukup sampai MA dan setelahnya kerja.
Tetapi Kyai Khamdi memilih untuk membangkitkan pendidikan di Keling.
Beliau menghadirkan kelas-kelas vokasi: tata boga, tata busana, multimedia, hingga otomotif. Sebuah langkah yang mungkin terdengar biasa di kota, tetapi menjadi terobosan besar bagi madrasah di daerah pinggiran.
Beliau memahami satu hal penting: orang tua ingin anaknya belajar agama, tetapi juga memiliki bekal hidup.
Dan perlahan, kepercayaan masyarakat tumbuh.
Jumlah siswa yang dulu hanya sekitar 500 hingga 600 anak kini meningkat menjadi lebih dari 800 siswa. Ruang kelas yang dahulu hanya enam atau delapan kelas per angkatan kini berkembang menjadi sepuluh kelas tiap angkatan.
Sejak kepemimpinan beliau mulai bermunculan prestasi akademik non-akademik, baik TK kabupaten, propinsi maupun nasional.
Lebih dari itu, tingkat lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi juga melonjak. Jika dahulu hanya sekitar 10 persen, kini mencapai hampir 30 persen.
Sebuah perubahan yang tidak lahir dalam semalam.
Saya teringat satu kenangan lain. Sekitar tahun 2013, saat masih menjadi wartawan yang bertugas keliling kecamatan untuk program “koran masuk desa,” saya pernah datang ke MAN 2 Jepara.
Kala itu, bagian selatan sekolah masih berupa kebun kosong.
Kemarin, saat kembali datang, saya terkagum.
Di lahan yang dulu hanya tanah lapang, kini berdiri gedung-gedung artistik yang megah. Bangunan sekolah mengelilingi lapangan utama. Suasananya hidup. Madrasah itu tumbuh jauh melampaui bayangan saya dulu.
Dan di tengah perubahan besar itu, saya justru melihat satu hal yang tetap sama: ketulusan seorang guru yang bekerja dalam diam.
Barangkali memang begitulah guru sejati.
Ia tidak sibuk meminta dikenang, tetapi jejaknya hidup di dalam diri murid-muridnya. Ia tidak mencari tepuk tangan, tetapi pengabdiannya menjelma masa depan bagi banyak anak.
Perjalanan pulang dari Keling siang itu terasa berbeda.
Saya sadar, ada orang-orang yang mungkin tidak pernah muncul di panggung besar, tidak ramai dibicarakan, tetapi diam-diam mengubah kehidupan begitu banyak orang.
Dan salah satunya adalah guru saya: Kyai Khamdi. (*)
oleh: M Zainal Abidin (General Manager Radar Kudus)
Editor : Admin