Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Perkuat Pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 5 Mei 2026 | 20:02 WIB
Umi Henik (Guru MTsN 3 Rembang)
Tak Sekadar Nilai, menurut guru SKI yang akrab disapa Bu Menik, Kurikulum Berbasis Cinta bermuatan Pembelajaran yang Menyentuh Hati dan Membentuk Karakter Siswa

UMI HENIK, Guru MTsN 3 Rembang

RADAR KUDUS - PADA kegiatan pembelajaran sehari-hari di madrasah, kita sebagai guru sering menjumpai hal-hal kecil di kelas yang sebenarnya cukup membuat hati galau.

Ada siswa yang kurang semangat, ada yang belajar hanya ketika akan ulangan, bahkan ada juga yang lebih sibuk dengan dunianya sendiri daripada memperhatikan pembelajaran. Tak jarang juga, muncul candaan berujung ejekan, yang kadang tanpa disadari menyakiti temannya sendiri.

Di sisi lain, para guru sering merasa sudah mengajar dengan maksimal. Materi sudah disampaikan, metode sudah dibuat bervariasi, bahkan tugas sudah diberikan. Namun, hasilnya belum selalu sesuai harapan. Siswa mungkin paham secara materi, tetapi sikap dan kebiasaan mereka belum banyak berubah.

Dari pengalaman itu, guru harus menyadari, pembelajaran di kelas tak cukup hanya menyampaikan materi. Ada sesuatu yang lebih penting yang perlu disentuh, yaitu bagaimana siswa merasa nyaman, dihargai, dan benar-benar hadir dalam proses belajar. Sebab, siswa tak hanya butuh penjelasan, tetapi juga butuh perhatian dan pendekatan yang menyentuh hati.

Kalau kita renungkan, kondisi seperti ini bisa jadi bukan sepenuhnya karena siswa. Bisa jadi cara kita dalam memaknai pembelajaran masih terlalu fokus pada penyampaian materi, yaitu mengejar ketuntasan kurikulum, memastikan semua topik tersampaikan, dan berharap siswa memahami isi pelajaran dengan baik.

Namun praktiknya, pembelajaran sering berhenti pada aspek pengetahuan saja. Siswa dituntut mengerti, menghafal, dan menjawab soal, tetapi belum diajak memahami makna. Akibatnya, ilmunya sering hanya bertahan sampai ujian. Setelah itu perlahan hilang.

Lebih dari itu, aspek sikap dan perasaan siswa kadang kurang mendapat perhatian. Siswa yang merasa tertekan, tidak dihargai, atau takut salah biasanya sulit berkembang. Kita mungkin pernah berada di titik merasa sudah menjelaskan dengan baik, tetapi siswa tetap tidak memahami. Dari situ kita mulai berpikir, pembelajaran tak cukup hanya “apa yang diajarkan”, tetapi juga “bagaimana cara mengajar dan memperlakukan siswa”.

Dari berbagai kondisi itu, kita butuh pendekatan yang tak hanya fokus pada materi, tetapi juga menyentuh sisi hati siswa. Di sinilah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) mulai diimplementasikan, khususnya di lingkungan madrasah melalui Kementerian Agama.

Kurikulum itu mengajak kita melihat pembelajaran dengan cara berbeda. Mengajar tak hanya sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membangun hubungan yang baik dengan siswa. Cinta di sini bukan dalam arti yang berlebihan, tetapi sikap peduli, sabar, menghargai, dan memahami kondisi siswa.

Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang saat ini mulai diterapkan di madrasah. Artinya, siswa tidak hanya sekadar tahu, tetapi benar-benar memahami dan merasakan makna dari apa yang dipelajari. Untuk bisa sampai ke tahap itu, suasana belajar harus dibuat nyaman dan tidak menekan.

KBC ini bukan sesuatu yang sulit, tetapi justru mengingatkan kembali pada hal-hal sederhana yang kadang kita lupakan, misalnya menyapa siswa dengan baik, mendengarkan mereka, tidak mudah marah, dan mencoba memahami alasan di balik sikap mereka.

Dengan pendekatan seperti ini, sedikit demi sedikit kita akan mulai melihat bahwa pembelajaran bisa berjalan lebih tenang. Siswa lebih terbuka, lebih berani bertanya, dan suasana kelas terasa lebih hidup. Dari sini saya mulai merasa bahwa perubahan dalam pendidikan memang bisa dimulai dari cara kita sebagai guru memperlakukan siswa.

Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, ada nilai utama yang menjadi dasar dalam pelaksanaannya, yaitu Panca Cinta. Nilai ini menjadi arah bagi guru dalam membangun pembelajaran yang tidak hanya fokus pada materi, tetapi juga membentuk sikap dan kesadaran siswa.

Yang pertama adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam pembelajaran, siswa perlu diajak memahami bahwa belajar bukan hanya untuk kepentingan dunia, tetapi juga bagian dari ibadah. Dengan mengaitkan materi dengan nilai keimanan dan keteladanan Rasul, siswa akan lebih mudah melihat bahwa ilmu memiliki makna yang lebih luas dalam kehidupan.

Yang kedua adalah cinta kepada diri sendiri dan sesama. Siswa perlu dibimbing untuk mengenal dirinya, memahami perasaannya, dan menerima kelebihan serta kekurangannya. Di sisi lain, mereka juga perlu dibiasakan untuk saling menghargai, tidak mengejek, dan mau membantu teman. Dari sini, suasana kelas bisa menjadi lebih nyaman dan aman bagi semua.

Yang ketiga adalah cinta kepada ilmu. Pembelajaran diharapkan tidak hanya membuat siswa tahu, tetapi juga menumbuhkan rasa suka belajar. Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang menarik dan bermakna, sehingga siswa merasa bahwa ilmu itu penting dan dibutuhkan, bukan sekadar kewajiban.

Yang keempat adalah cinta kepada lingkungan. Nilai ini bisa ditanamkan melalui kebiasaan sederhana, seperti menjaga kebersihan kelas, merawat fasilitas sekolah, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini penting agar siswa memiliki rasa tanggung jawab terhadap tempat di mana mereka belajar dan hidup.

Yang kelima adalah cinta tanah air. Siswa perlu dikenalkan dan ditumbuhkan rasa bangga terhadap bangsa dan negaranya. Melalui pembelajaran, guru bisa menanamkan nilai kebangsaan, menghargai keberagaman, serta menjaga persatuan. Dengan demikian, siswa tidak hanya tumbuh sebagai individu yang baik, tetapi juga sebagai warga negara yang peduli.

Melalui Panca Cinta ini, pembelajaran tidak hanya berisi materi pelajaran, tetapi juga menjadi proses membangun sikap, kebiasaan, dan cara pandang siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Jika nilai-nilai Panca Cinta mulai diterapkan dalam pembelajaran, ada beberapa perubahan yang bisa terlihat di lingkungan sekolah.

Pertama, dari sisi sikap spiritual siswa. Dengan ditanamkannya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, siswa mulai memiliki kesadaran bahwa belajar bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bagian dari ibadah. Hal ini bisa terlihat dari sikap yang lebih tertib, lebih menghargai proses belajar, dan lebih menjaga perilaku.

Kedua, dari sisi hubungan antar siswa dan dengan diri sendiri. Ketika siswa dibimbing untuk mencintai diri sendiri dan sesama, suasana kelas menjadi lebih nyaman. Siswa tidak mudah mengejek, lebih bisa menghargai perbedaan, dan mulai belajar memahami perasaan diri maupun orang lain.

Ketiga, dari sisi minat terhadap ilmu. Ketika cinta kepada ilmu mulai tumbuh, siswa tidak lagi belajar hanya karena tuntutan. Mereka menjadi lebih ingin tahu, lebih aktif bertanya, dan lebih terlibat dalam pembelajaran. Proses belajar pun menjadi lebih hidup dan bermakna.

Keempat, dari sisi kepedulian terhadap lingkungan. Siswa mulai terbiasa menjaga kebersihan, merawat fasilitas sekolah, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini terlihat dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara sadar, bukan karena perintah semata.

Kelima, dari sisi sikap kebangsaan. Dengan ditanamkannya cinta tanah air, siswa mulai memiliki rasa bangga terhadap identitasnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Mereka belajar menghargai keberagaman dan menjaga kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Dari berbagai perubahan tersebut, terlihat bahwa Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya berdampak pada pemahaman siswa, tetapi juga pada sikap dan kebiasaan mereka. Pembelajaran menjadi lebih menyentuh, tidak hanya di pikiran, tetapi juga dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan sejatinya tidak hanya berbicara tentang materi pelajaran dan nilai yang diperoleh siswa. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses membentuk sikap, kebiasaan, dan cara pandang dalam menjalani kehidupan. Karena itu, pendekatan yang menyentuh sisi hati menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, pembelajaran diarahkan untuk membangun hubungan yang lebih luas: hubungan dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan ilmu, dan dengan lingkungan. Ketika hubungan-hubungan ini mulai terbentuk, proses belajar tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi menjadi bagian dari kebutuhan dan kesadaran siswa.

Penerapan pendekatan ini memang tidak selalu mudah dan tidak bisa langsung terlihat hasilnya. Namun, perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam keseharian di kelas. Cara guru berbicara, memberi perhatian, dan memperlakukan siswa menjadi bagian penting dalam membangun suasana belajar yang lebih baik.

Dengan langkah-langkah kecil tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk mengejar nilai, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman untuk tumbuh dan berkembang. Dari situ, pendidikan dapat berjalan lebih bermakna, tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran siswa. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#kurikulum berbasis cinta #KBC madrasah #pendidikan karakter siswa #pembelajaran deep learning #panca cinta pendidikan