Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mempercepat SDGs 2030 melalui SDG Academy Indonesia: Perspektif ASN dari Jawa Tengah

admin redaksi • Sabtu, 27 Desember 2025 | 13:29 WIB

A. Mahbub Djunaidi Kepala BAPPERIDA Kabupaten Blora
A. Mahbub Djunaidi Kepala BAPPERIDA Kabupaten Blora

Oleh: A. Mahbub Djunaidi
Bapperida Kabupaten Blora

Target pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030 semakin mendekat. Bagi pemerintah daerah, termasuk di Jawa Tengah, waktu yang tersisa menuntut kerja yang lebih terarah, kolaboratif, dan berbasis bukti.

SDGs tidak lagi dapat diposisikan sebagai agenda global yang normatif, tetapi harus menjadi kerangka kerja nyata dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah.

Sebagai aparatur sipil negara (ASN) di daerah, kami merasakan langsung bahwa keberhasilan SDGs sangat bergantung pada kapasitas perencana dan pelaksana kebijakan.

Di wilayah Jawa Tengah bagian timur dan pantura—Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, dan Grobogan—tantangan pembangunan berkelanjutan memiliki karakteristik yang beragam, namun saling berkaitan.

Blora dan Grobogan dikenal sebagai wilayah agraris yang menopang ketahanan pangan, tetapi menghadapi persoalan kemiskinan perdesaan, produktivitas pertanian, dan keterbatasan infrastruktur.

Rembang dan Demak bergulat dengan isu pesisir, abrasi, rob, serta keberlanjutan sumber daya laut. Kudus dan Jepara menjadi pusat industri dan UMKM yang dinamis, namun dihadapkan pada tantangan ketenagakerjaan dan lingkungan.

Sementara Pati berada di persimpangan antara sektor pertanian, industri, dan kerentanan iklim.
Dalam konteks inilah SDG Academy Indonesia, yang digagas dan dipimpin oleh Kementerian PPN/Bappenas, menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat pencapaian SDGs hingga 2030.

SDG Academy Indonesia: Menguatkan Kapasitas ASN Daerah

Salah satu kendala implementasi SDGs di daerah adalah pemahaman yang belum merata. Tidak sedikit ASN yang masih memandang SDGs sebagai kewajiban administratif atau sekadar pelaporan indikator. SDG Academy Indonesia hadir untuk mengubah cara pandang tersebut.

Melalui pendekatan pembelajaran yang sistematis dan aplikatif, SDG Academy membantu ASN memahami SDGs sebagai satu kesatuan sistem pembangunan. Isu kemiskinan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan layak, dan lingkungan tidak berdiri sendiri, melainkan saling memengaruhi. Pemahaman ini sangat relevan bagi daerah, di mana satu kebijakan sering kali berdampak pada banyak sektor.

Bagi ASN perencana di daerah seperti Blora, pendekatan ini membuka perspektif baru bahwa perencanaan pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan dan keadilan antarwilayah serta antargenerasi.

Dampak Nyata: Dari Dokumen Perencanaan ke Aksi Lapangan

Dampak SDG Academy Indonesia mulai terasa dalam proses perencanaan pembangunan daerah. Di berbagai kabupaten di Jawa Tengah, integrasi SDGs ke dalam dokumen perencanaan seperti RPJMD, RKPD, hingga rencana perangkat daerah semakin menguat.

SDGs tidak lagi diposisikan sebagai lampiran, tetapi menjadi perspektif utama dalam menentukan prioritas pembangunan.

Salah satu perubahan penting adalah meningkatnya kesadaran akan perencanaan berbasis data. SDG Academy mendorong ASN untuk memahami indikator SDGs, membaca tren data, serta menggunakan bukti empiris sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Hal ini sangat relevan bagi daerah seperti Rembang, Pati, dan Demak yang menghadapi tantangan perubahan iklim dan kerentanan bencana, sehingga kebijakan adaptasi dan mitigasi menjadi lebih terukur.

Di wilayah industri seperti Kudus dan Jepara, pendekatan SDGs mendorong dialog lintas sektor antara pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.

Isu industri berkelanjutan, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta penguatan UMKM mulai ditempatkan dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan, bukan kebijakan sektoral yang terpisah.

SDG Academy juga memperkuat jejaring antardaerah. ASN dapat saling berbagi praktik baik dan pembelajaran. Bagi wilayah Blora, Grobogan, hingga Pati, jejaring ini penting karena banyak tantangan pembangunan yang serupa, meski membutuhkan solusi yang kontekstual.
Tantangan Lokal Menuju 2030

Meski berbagai kemajuan telah dicapai, tantangan menuju 2030 tetap besar. Ketimpangan wilayah, kualitas sumber daya manusia, dan tekanan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah utama.

Wilayah pesisir seperti Demak dan Rembang menghadapi ancaman rob dan abrasi yang semakin intensif. Daerah agraris seperti Blora dan Grobogan dituntut menjaga ketahanan pangan di tengah perubahan iklim dan dinamika pasar.

Dalam situasi tersebut, peran ASN sebagai penggerak pembangunan menjadi semakin strategis.

Kebijakan pembangunan tidak cukup hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi harus memastikan keberlanjutan jangka panjang. SDG Academy Indonesia memberikan fondasi pengetahuan, nilai, dan cara berpikir untuk menjawab tantangan tersebut secara sistemik.
Masa Depan SDG Academy: Peran Strategis B proveenas

Ke depan, keberlanjutan SDG Academy Indonesia menjadi kunci percepatan pencapaian SDGs. Di bawah kepemimpinan Kementerian PPN/Bappenas, SDG Academy berpotensi dikembangkan lebih jauh sebagai pusat pembelajaran pembangunan berkelanjutan nasional.

Bagi daerah di Jawa Tengah, penguatan SDG Academy berbasis regional akan sangat membantu agar materi pembelajaran lebih kontekstual dengan karakteristik wilayah. Integrasi SDG Academy ke dalam sistem pengembangan kompetensi ASN juga perlu diperkuat, sehingga pemahaman SDGs menjadi bagian dari standar kepemimpinan birokrasi.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan media lokal, termasuk Jawa Pos Radar Kudus, menjadi penting untuk mendokumentasikan praktik baik dari daerah. Dengan demikian, SDGs tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi juga gerakan bersama masyarakat.

Penutup: SDGs Dimulai dari Kapasitas Manusia
Dari perspektif ASN daerah, kami meyakini bahwa pencapaian SDGs sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang merencanakan dan melaksanakannya. SDG Academy Indonesia telah menunjukkan bahwa investasi pada pengetahuan, cara berpikir, dan kepemimpinan mampu menghasilkan perubahan nyata.

Menuju 2030, Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Dengan penguatan kapasitas ASN melalui SDG Academy dan kepemimpinan nasional yang konsisten dari Bappenas, percepatan pencapaian SDGs bukan sekadar harapan, melainkan agenda yang realistis dan dapat diwujudkan.

Editor : Zainal Abidin RK
#SDGs #Jawa Tegah #blora