BLORA - Belum genap dua tahun, Gedung Nasional Indonesia (GNI) yang beralamat di Jalan Kolonel Sunandar Nomor 28 Blora menunjukkan geliat.
Silih berganti kegiatan lokal hingga nasional meramaikan bangunan yang sebelumnya terkesan sepi dan angker.
Mulai perayaan Seabad Pramoedya Amanta Toer, beberapa kali pameran seni rupa, pemutaran film, serial diskusi, latihan kesenian, hingga sekadar ngopi di samping gedung yang menawarkan suasana nyaman.
Di antara obrolan dan sendau gurau di GNI yang juga menjadi markas Blora Creative Space (BCS) tersebut, muncul rasa penasaran; Bagaimana sejarah GNI? Apa peruntukkan bangunan tua itu? Siapa yang membangunnya? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Dalam kelindan memori kolektif yang rentan dan sepinya sumber tertulis, jawaban atas kegalauan itu bukanlah persoalan sederhana. Beruntung sekali seorang aktivis angkatan 45 bernama Herman Para sedikit mengulas perihal GNI dalam bukunya yang berjudul Menuju dalam Perjalanan, Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Kabupaten Blora.
Dalam catatannya, Herman yang juga pernah menjabat sebagai sekretaris DPRD Kabupaten Blora menyebut GNI adalah milik sebuah perkumpulan sosial bernama Pirukunan.
Sudah lazim di era kolonial, penguasa saat itu menerapkan kebijakan diskriminatif kepada kaum pribumi.
Semisal dalam hal pendidikan, pemerintah kolonial mendirikan sekolah khusus hanya diperuntukkan bangsa Eropa dan sebagian kecil disediakan untuk elite penguasa lokal. Hal itu tercermin dalam Europeesche Lagere School (ELS) dan Hollandsch-Inlandsche School (HIS).
Sebagai reaksi atas diskriminasi tersebut, kaum bumiputera mendirikan Institut Boedi Oetomo yang melayani kebutuhan pendidikan bagi kaum pribumi.
Diskriminasi serupa juga terjadi di semua bidang. Kala itu pemerintah kolonial memiliki sebuah gedung yang hanya diperuntukkan bagi bangsa Eropa yang disebut gedung Societeit. Gedung itu terletak di sebelah timur alun-alun Blora yang kini ditempati bangunan BRI.
Orang-orang lokal menyebutnya dengan kamar bola, karena di gedung tersebut terdapat meja untuk bermain bola sodok atau bilyard. Sebagaimana gedung Societeit di kota-kota lain, Societeit di Blora adalah tempat bersosialisasi kaum elit Eropa untuk mendapatkan hiburan, pesta, dansa, olah raga atau kegiatan lain.
Diskriminasi ini juga menuai reaksi, sebagian kaum bumiputera yang tergabung dalam Perkumpulan Pirukunan memiliki gedung tersendiri semacam Societeit bagi orang-orang pribumi. Gedung itu yang kini bernama GNI.
Mungkin karena lokasi tersebut sering menjadi tempat pertemuan Perkumpulan Pirukunan, maka jalan di mana gedung tersebut berada disebut sebagai Jalan Pirukunan. Dalam perkembangannya saat ini berubah nama menjadi Jalan Kolonel Sunandar.
Peruntukkan GNI saat itu tak beda dengan kegiatan di Societeit sebelah timur alun-alun Blora.
Gedung yang masih berdinding bambu itu adalah pusat kegiatan sosial budaya terkhusus untuk masyarakat pribumi.
Di tempat ini warga pribumi bisa melakukan pertemuan-pertemuan, bermain bola sodok, pementasan kesenian atau kegiatan-kegiatan lainnya.
Herman Para dalam bukunya juga mencatat beberapa nama yang tergabung dalam Perkumpulan Pirukunan. Di antaranya; Soeparno, Soemadi, Ramana, Nawawi, Djasmani dan M. Sofwanhadi.
Selain merujuk pada ulasan Herman Para, penggunaan GNI terkonfirmasi dari beberapa cerita lisan. Darno Wiwoho, ketua Gerakan Siswa Nasionalis Indonesia (GSNI) Cabang Blora, pada sekitar 1965 sering memanfaatkan GNI sebagai tempat rapat organisasi.
Bahkan di awal Oktober 1965, waktu dia sedang memimpin rapat GSNI, didatangi seseorang dan dikabari tentang siapa dalang peristiwa 30 September di Jakarta.
Persaksian senada juga datang dari Kyai Shodiq Abdul Hayyi.
Waktu remaja sebelum tahun 1970, dia pernah mengadakan Basic Traning (Batra) IPNU IPPNU di gedung GNI.
Sampai tahun 80an, banyak persaksian bahwa GNI masih aktif untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan. Pentas tari, pameran lukis, disewakan untuk pesta pernikahan, rapat-rapat organisasi dan kegiatan lain.
Baru sekitar tahun 1990, GNI dialih gunakan menjadi kantor pemerintah. Di antaranya; Kantor Catatan Sipil, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Bidang Kebersihan DPU, Bidang Kebersihan Dinrumkimhub dan Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup.
Itulah kilas cerita yang dirangkai dari keterbatasan informasi dan data. Hari ini, GNI Blora adalah ekosistem yang sedang meneguhkan bentuknya.
GNI diproyeksikan menjadi teras budaya, edukasi dan rekreasi. Sejauh mana asa itu akan terwujud? Setidaknya, dalam kurun empat belas bulan ini, 20 event telah dilewati.
Penulis
Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Blora & Ketua Lesbumi PCNU Blora Dalhar Muhammadun
Editor : Mahendra Aditya