Dekat, Cepat, dan Tepat Tangani Kesehatan
Oleh: M Zainal Abidin/Wartawan Radar Kudus
JEPARA – Kamis pagi, 17 Juli 2025, suasana Balai Desa Bringin tak seperti biasanya. Pendapa yang biasanya lengang berubah menjadi ruang penuh obrolan, tawa kecil, dan derap langkah warga yang datang silih berganti.
Beberapa orang tua terlihat dituntun anaknya. Sabar menaiki empat tangga ke teras pendopo balai desa itu. Dengan hati-hati, Dengan sabar anak itu menuntun perlahan orang tuanya sampai ke tempat duduk plastik.
Anak itu kemudian mengambil nomor antrean. Dia menunggu undangan dari petugas.
”Wong tuo kulo wingi meriang. Niki kulo cubi periksakan di program pak Luthfi. Menawi saget sembuh (orang tua saya demam. Ini saya coba periksakan di program Speling pak Gubernur Luthfi-Yasin. Berharap bisa sembuh, Red),” ujar Ahmad, 40, saat mengantar orang tuanya Kandar, 90, di balai desa itu.
Ahmad mengaku senang ada dokter keliling ke desa-desa. Memeriksa masyarakat desa yang butuh pengobatan.
”Kalau ke desa, kami ringan. Indikasi penyakit awal bisa terdeteksi. Dekat dengan rumah pula,” tandas Ahmad.
Di antara barisan kursi plastik yang ditata rapi, tampak para lansia, ibu hamil, hingga anak muda duduk menunggu giliran — sebagian menggenggam kertas pendaftaran, sebagian lagi sibuk menimbang berat badan di pojok barat aula.
Di sisi ruangan, empat meja berjajar. Meja paling ujung menjadi tempat petugas mencatat data peserta: nama, usia, berat badan, hingga riwayat penyakit. Di sampingnya, alat timbangan dan pengukur tinggi badan berdiri tegak, siap membantu warga mengenali kondisi tubuh mereka. Setelah menimbang dan mengisi formulir, warga kembali ke barisan antrean. Satu per satu, petugas memanggil nama untuk diperiksa tekanan darah dan keluhannya.
Dua ruangan yang biasanya digunakan Kepala Desa dan Sekretaris Desa kini berubah fungsi: menjadi ruang periksa dokter. Ruang Kepala Desa diperuntukkan bagi pemeriksaan ibu hamil dan bayi, sementara ruang Sekdes digunakan oleh dokter umum. Ruang tamu diubah menjadi ruang tunggu lanjutan, tempat warga menanti giliran masuk menemui sang dokter.
“Saya periksa kandungan. Pelayanannya keren. Tak antre lama,” ungkap Sofiatun, 35, yang usia kehamilan masuk tujuh bulan.
Biasanya dia periksa ke dokter kandungan di Kota Jepara. Adanya speling itu ia cukup hadir di balai desa.
Semua kegiatan itu adalah bagian dari Program Speling — Dokter Spesialis Keliling Sareng Bareng Luthfi-Yasin, sebuah layanan kesehatan keliling yang dijalankan di Kabupaten Jepara. Program ini telah berlangsung sembilan kali, dan akan terus digelar hingga tahun depan di 49 titik berbeda di seluruh Jepara.
Tenaga Medis Gabungan
Sekitar seratus warga Bringin mendaftar pagi itu. Mereka dilayani oleh sekitar 20 tenaga medis gabungan dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara, RSUD RA Kartini, Puskesmas Batealit, serta kader Posyandu desa. Dua dokter spesialis — penyakit dalam dan kandungan — turut ambil bagian, memastikan warga mendapat pemeriksaan menyeluruh, dari pengukuran tekanan darah hingga pengambilan sampel darah.
“Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat tahu kondisi kesehatannya sejak dini,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Mudrikatun, di sela kegiatan. Ia menyebut, dari hasil pemeriksaan, ditemukan beberapa warga yang mengalami hipertensi, anemia, bahkan ada ibu hamil dengan kondisi kembar dan sungsang.
“Negara hadir untuk kesehatan bapak dan ibu, geh?” ucapnya sambil tersenyum, disambut jawaban serentak para peserta, “Injih, Bu!”
Bagi Mudrikatun, Speling bukan sekadar program rutin, tapi simbol nyata kehadiran negara lewat Gubernur Luhtfi dan Wagub Taj Yasin lewat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menghadirkan para dokter di tengah masyarakat. Ia menegaskan, kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten menjadi kunci pemerataan pelayanan kesehatan, terutama bagi warga desa yang jauh dari fasilitas rumah sakit.
Kepala Desa Bringin, Sumardi, tampak ikut berbaur dengan warga. Senyumnya tak lepas ketika melihat antrean panjang di pendapa desanya semakin sedikit. Artinya layanan itu betul-betul termanajemen baik.
“Saya senang sekali desa kami dipilih untuk program ini. Warga sangat terbantu. Tidak semua bisa ke kota untuk periksa ke dokter spesialis,” ujarnya. Ia berharap kegiatan seperti Speling terus dilanjutkan, karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selain Speling, DKK Jepara juga menjalankan program Tilik Putumas (Tinjauan Puskesmas), sebuah inisiatif yang mendorong pemeriksaan kesehatan hingga ke tingkat RT dan RW. Program ini menjadi bagian dari strategi preventif dan promotif, sejalan dengan upaya nasional meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.
Antusiasme Warga
Menjelang siang, antrean mulai berkurang. Di meja pendaftaran, tumpukan formulir warga menjadi saksi antusiasme hari itu. Seorang ibu hamil keluar dari ruang pemeriksaan sambil membawa kantong kecil berisi obat dan senyum lega di wajahnya.
Bagi sebagian orang, kegiatan itu mungkin hanya pemeriksaan biasa. Namun bagi warga Bringin, hari itu menjadi bukti nyata bahwa pelayanan kesehatan bukan milik kota saja — bahwa negara benar-benar hadir, bahkan di balai desa yang sederhana.
Belum lama ini Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menjelaskan jika dirinya mengajak dokter spesialis turun tangan.
”Mereka dari rumah sakit pemda, swasta, semua turun,” kata Gubernur Jateng Ahmad Luthfi di acara talkshow di studio Jawa Pos TV Semarang.
Ia menjelaskan para dokter spesialis itu turun ke desa-desa melakukan pemeriksaan secara gratis. Menurut Luthfi, peran dokter spesialis penting karena di desa nyaris tak ada dokter. Maksimal perawat. Bahkan hingga tingkat kecamatan hanya ada dokter umum.
“Kalau sakit obatnya sama, padahal beda-beda sakitnya. Ini kasihan,” ujarnya.
Sejauh ini capaian dari program ini pun tampak sangat massif. Yakni sudah 9 juta masyarakat terlayani. Beberapa jenis penyakit yang akhirnya dapat perhatian seperti TBC.
“Dengan ini, ada tracing, yang sakit diobati. Kemudian identifikasi atas sakit lain. Kita punya database. Termasuk penyakit jiwa hingga stunting.,” paparnya.
Setelah adanya data base itu kemudian ditindaklanjuti dengan penanganan dari dinas kesehatan di masing-masing kabupaten dan kota. Sehingga pelayanan kesehatan itu berkelanjutan.
“Pelayanan kesehatan yang baik ini mereduksi kemiskinan. Karena orang wareg nak ora sehat menjadi miskin lagi,” jelasnya.
Pihaknya juga melakukan pemetaan di masing-masing daerah untuk melihat fasilitas kesehatan. Yang belum ada atau kekurangan langsung dilakukan langkah konkret berupa pembangunan.
Program Speling di atas salah satu bukti program Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin yang nyata-nyata ngopeni warga Jateng. Karena Masyarakat mampu mendapatkan pelayanan Kesehatan yang dekat, cepat dan tepat. (*)
Editor : Zainal Abidin RK