Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Fomo? Ngopi Belum Bayar, malah Ikut Rusuh di DPRD Jepara

M. Khoirul Anwar • Selasa, 2 September 2025 | 16:47 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

ADA cerita unik di balik kerusuhan di Gedung DPRD Jepara, Sabtu (30/8) malam hingga Minggu (31/8) dini hari.

Sejumlah remaja yang diamankan polisi mengaku awalnya tidak ikut demo.

Mereka sedang nongkrong sambil ngopi di kawasan Jalan Pemuda.

Namun, begitu melihat keramaian dan api membesar, mereka ikut bergerak ke lokasi.

Seorang penjual kopi di kawasan tersebut bercerita, beberapa remaja masih meninggalkan gelas kopinya di meja saat berlarian ke arah DPRD.

“Kopinya belum dibayar, langsung lari ke sana. Saya jadi tekor,” ujarnya.

Fenomena itu memperkuat dugaan bahwa banyak massa yang terlibat aksi anarkis bukanlah demonstran murni, melainkan hanya ikut-ikutan.

Padahal, Jepara selama ini dikenal bukan kota perusuh. Aksi-aksi unjuk rasa sebelumnya selalu berlangsung damai tanpa pembakaran maupun penjarahan.

Kali ini berbeda. Setelah unjuk rasa di Mapolres Jepara sempat memanas dengan pembakaran kardus, ban, dan banner di simpang Kanal, situasi makin tak terkendali.

Massa terdorong ke arah DPRD Jepara. Gerbang kantor dewan dijebol, fasilitas dirusak, hingga sejumlah barang dijarah lalu dibakar di halaman gedung.

Polisi pun mengamankan puluhan orang, sebagian di antaranya remaja usia belasan tahun. Mereka kini menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Banyak pihak menilai kerusuhan kali ini bukan murni aspirasi warga Jepara.

Ada indikasi penyusup atau provokator yang memanfaatkan momentum untuk memicu kerusuhan.

Jepara sendiri dikenal sebagai kota yang damai. Aksi warga selama ini berlangsung tertib, bahkan ketika ribuan orang turun ke jalan.

Karena itu, kerusuhan Sabtu lalu dianggap sebagai anomali yang harus diusut tuntas.

Bagi masyarakat Jepara, peristiwa ini menjadi pengingat: menjaga kondusivitas bukan hanya tugas aparat, tapi juga kesadaran kolektif.

Jangan sampai ulah segelintir orang mencoreng wajah Jepara yang selama ini dikenal sebagai kota damai.

Editor : Ali Mustofa
#penjarahan #provokator #pembakaran #demo #rusuh #dprd jepara #provokasi