Wartawan Jawa Pos Radar Kudus Muhammad Ulin Nuha, istri Kifti Halimah Islami, ibu saya Sumiyati, dan bapak Kasturi Noor Izza, pekan lalu mendapat fadhal beribadah umrah bersama.
Tepatnya Kamis (22/9) rombongan umrah kami menjalani hari pertama di tanah suci Makkah. Ya, tujuan pertama memang menjalankan ibadah umrah dulu. Baru kemudian berkunjung di Kota Madinah.
Sebelumnya, kami menempuh perajalan dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, sekitar sembilan jam sampai di Bandara King Abdul Azis, Jeddah. Touch down tepat pukul 18.00 Waktu Arab Saudi (WAS)-selisih 4 jam lebih lambat disbanding Waktu Indonesia Barat (WIB). Namun, baru keluar bandara sekitar pukul 22.00. Lama karena menunggu tim selesai proses bagasi yang membawa koper jamaah.
Dari Bandara Jeddah kemudian bertolak ke Makkah menggunakan bus. Sampai di Hotel Fajr Albadea 2 -di belakang Hotel Zam-Zam Tower- tempat kami menginap sekitar pukul 23.00. Jamaah umrah kami yang berjumlah 91 orang hanya check in, meletakkan tas dan koper di kamar serta wudu. Dilanjut umrah pertama -dari paket biro tiga umrah- sekitar pukul 00.00 (WAS).
Saat berkumpul di lobi hotel itu, sejumlah karyawan hotel yang semuanya berwajah Arab Saudi sedang sibuk. Ada yang memasang balon berwarna hijau dan putih di pegangan anak tangga dan di pagar balkon. Balon itu bertuliskan ”alwathan fi qulubina” dengan huruf Arab. Ada juga yang memasang bendera kecil-kecil. Diletakkan selang-seling dengan balon tadi. Dipasang juga dua bendera Arab Saudi di kanan dan kiri meja resepsionis.
Namun, saya sendiri tidak terlalu menghiraukan untuk apa itu semua. Fokus saya untuk sementara hanya umrah perdana. Terutama terpikir ibu saya dengan kondisi kedua lututnya yang memang bermasalah. Pengapuran yang sudah bertahun-tahun belum teratasi, meski berkali-kali terapi. Juga kondisi bapak saya yang divonis saraf terjepit sekitar enam bulan lalu.
Jamaah pun sudah berkumpul semua. Dari lobi hotel rombongan bertolak ke Masjidil Haram yang jaraknya sekitar 300 meter. Istri saya suruh mendampingi bapak. Saya menggandeng ibu. Benar saja, baru setengah perjalanan, saya yang menggandeng ibu saya sudah tertinggal rombongan.
Tinggal Ustadz Basri -pemandu umrah asal Madura- yang menemani. Saya tawarkan agar ibu naik kursi roda dengan sewa beserta tenaganya untuk sekali umrah. ”Tidak usah, Nang. Jalan pelan-pelan saja,” jawab ibu saya.
Semakin jauh tertinggal rombongan. Ustaz Basri berkata ke saya: ”Mas, kasihan ibunya. Juga sudah tertinggal jauh dari rombongan,” katanya. ”Iya, Taz. Tapi ibu masih ingin nyoba jalan,” timpal saya.
Pikir saya, daripada tertinggal rombongan, justru akan menyulitkan kami. Akhirnya saya putuskan dicarikan kursi roda oleh Ustaz Basri. Saat memasuki Masjidil Haram, rombongan sudah berjamaah hampir selesai salat qoshor jama’ takhir, saya dan ibu baru memulai.
Setelah mendapatkan kursi roda, ibu umrah sendiri di lantai II Masjidil Haram. Petugas pendorong kursi roda sekaligus menjadi pemandunya. Sebab, kursi roda tak boleh masuk ke pelataran Kakbah. Sedangkan saya bergabung dengan rombongan di pelataran Kakbah.
Begitu pula dengan sa’i. Antara Bukit Safa dan Marwa, jalur kursi roda berada di tengah. Sedangkan yang lain lebih jauh sekitar 3 kali lipatnya di bagian samping. Kebalikan dengan tawaf. Jalur kursi roda di lantai II justru bisa lima kali lipat lebih jauh dibanding di pelataran pelataran Kakbah.
Selesai umrah pertama, ternyata ibu saya sudah duluan sampai di hotel diantar petugas kursi roda tadi. Saya, istri, dan bapak bersama rombongan yang baru selesai umrah pun bergegas ke hotel.
Pagi harinya (23/9) hingga seharian free agenda. Ini kesempatan bagi saya untuk ”dolan-dolan”. Namun, bukan lantas nyari kafe untuk ngopi-ngopi. Melainkan Kakbah tujuan kami. Di jalan menuju Masjidil Haram, saya mengamati banyak bendera-bendera Arab Saudi. Di atas tiang lampu penerangan jalan ada bendera kain ukuran normal. Sedangkan di antara tiang itu, ditarik tali yang dihias dengan bendera-bendera kecil berbentuk segitiga. Bendera kecil itu ada yang hijau dan putih. Semuanya bertulis Vission 2030.
Ternyata saya baru ngeh, kalau bendera-bendera ini dipasang untuk memeringati Hari Jadi ke-83 Kerajaan Arab Saudi atau Unifikasi Arab Saudi. Hari itu menjadi istimewa bagi saya. Sebab, tanah kelahiran saya Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, juga sama-sama merayakan hari jadi ke-473.
Di Arab Saudi khususnya di Kota Makkah dan Madinah (pengamatan saya beberapa hari setelahnya), hanya meriah di bendera. Pemasangan bendera sangat tertib. Bahkan seragam. Di jalan-jalan hanya memasang bendera ukuran standar. Begitu juga di sebagian pertokoan dan hotel. Tidak ada bendera yang asal pasang. Apalagi spanduk-spanduk di berbagai tempat, yang kadang malah merusak unsur estetik.
Yang lebih menyita perhatian jamaah umrah di sekitar Masjidil Haram, yakni di Zam-Zam Tower. Di bagian ujung bangunan dengan jam raksasanya itu, ada atraksi lampu sorot raksasa. Ada lampu hijau dominan di bagian puncak yang menyorot ke atas. Dikelingi sekitar 20 lampu warna netral yang memancar ke berbagai penjuru.
Sedangkan di Kudus digelar lebih meriah. Ada tumpengan yang berjumlah 473, night carnival, pameran UMKM, istighotsah dan doa bersama, serta event Mlaku Bareng Pak Hartopo yang digelar Jawa Pos Radar Kudus. Saya memang tak merasakan langsung, tapi lewat Whatsapp (WA), uploadan koran di grup WA Radar Kudus, dan berbagai medsos sudah cukup mewakili.
Tiga kota itu suci; Makkah, Madinah, dan Kudus (bari bahasa Arab Alquds yang berarti suci) bagi saya selalu di hati. Sangat bersyukur bisa merasakan hari jadi Arab Saudi dan Kudus yang ternyata berbarengan. (*/bersambung) Editor : Kholid Hazmi