BLORA – Upaya membawa Seni Barongan Blora ke panggung dunia mendapat dukungan dari komunitas seniman Reog Ponorogo.
Kedua kesenian tradisional yang memiliki akar budaya serumpun tersebut diharapkan dapat bersama-sama memperkuat pengakuan terhadap kekayaan budaya Indonesia melalui UNESCO.
Dukungan itu disampaikan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Ruang Bantarangin, Kantor Bupati Ponorogo, Jawa Timur.
Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan seniman Barongan Blora, komunitas seniman Reog Ponorogo, serta Tim Asistensi UNESCO yang mendampingi proses pengusulan.
Dalam forum tersebut, komunitas seniman Reog Ponorogo yang dipimpin Marji menyatakan persetujuan untuk mendukung Barongan Blora agar dapat diusulkan melalui skema perluasan atau extension dari pengakuan Reog Ponorogo di UNESCO. Dukungan diberikan secara lisan maupun tertulis.
“Rahayu… Rahayu… Rahayu… Reog Ponorogo! Kami komunitas Reog Ponorogo setuju dan mendukung Barongan Blora menjadi USL Extension Reog Ponorogo di UNESCO. Sebagai kesenian yang serumpun, kami siap mendukung agar Barongan Blora juga mendapatkan pengakuan dunia lewat UNESCO seperti halnya Reog yang telah lebih dulu terdaftar,” demikian pernyataan komunitas seniman Reog Ponorogo.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari langkah Pemerintah Kabupaten Blora bersama para pelaku seni untuk memperjuangkan pengakuan internasional bagi Barongan Blora.
Selain meningkatkan apresiasi terhadap kesenian daerah, pengusulan ini diharapkan memberikan dorongan bagi keberlanjutan pelestarian budaya lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, menyambut positif inisiatif yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Blora bersama komunitas senimannya.
Ia menilai keinginan untuk mengusulkan Barongan Blora ke UNESCO merupakan langkah baik dalam memperluas pengakuan terhadap kekayaan seni tradisional Indonesia.
Terlebih, proses tersebut mendapat pendampingan dari tim yang sebelumnya terlibat dalam pengusulan Reog Ponorogo hingga memperoleh pengakuan UNESCO pada 2024.
Menurut Judha, Barongan Blora berpeluang diusulkan melalui mekanisme extension, yakni pengembangan atau perluasan dari elemen budaya yang telah memperoleh pengakuan internasional.
Ia menjelaskan, Reog Ponorogo dan Barongan Blora memiliki keterkaitan akar budaya dengan cerita Panji.
Meski demikian, masing-masing daerah mengembangkan karakter, bentuk pertunjukan, dan ekspresi seni sesuai dengan identitas serta tradisi setempat.
Keragaman serupa juga dapat dijumpai pada kesenian barongan di sejumlah daerah lain, seperti Blitar, Kediri, Kudus, dan Demak.
Masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri, tetapi tetap memperlihatkan hubungan dengan tradisi budaya yang serumpun.
Judha berharap pengusulan Barongan Blora dapat memperkaya khazanah budaya Indonesia di mata dunia sekaligus memperkuat hubungan antardaerah dalam menjaga warisan leluhur.
Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan antara Ponorogo dan Blora dalam pelestarian seni tradisional.
Kedua daerah diharapkan dapat saling mendukung agar kesenian yang berkembang di masyarakat tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Blora, Heru Eko Wiyono, yang memimpin rombongan ke Ponorogo, menjelaskan bahwa FGD tersebut menjadi sarana mempererat hubungan sekaligus membangun kesepahaman mengenai rencana pengusulan Barongan Blora.
Dalam kegiatan itu, rombongan Blora juga menyampaikan harapan agar kesenian khas daerahnya dapat mengikuti jejak Reog Ponorogo dalam memperoleh pengakuan internasional.
Heru menyebutkan, kesepakatan yang dibangun antara seniman Blora dan Ponorogo rencananya akan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).
Penandatanganan tersebut dijadwalkan berlangsung pada sore hari berikutnya oleh Bupati Blora bersama Plt. Bupati Ponorogo.
Kesepakatan itu diharapkan menjadi landasan kerja sama bagi kedua pemerintah daerah dalam mendukung proses pengusulan Barongan Blora melalui skema perluasan pengakuan Reog Ponorogo di UNESCO.
Proses pengusulan Barongan Blora kini mendapat pendampingan dari Tim Asistensi UNESCO yang sebelumnya membantu proses pengajuan Reog Ponorogo hingga memperoleh pengakuan pada 2024.
Dengan dukungan tersebut, Pemerintah Kabupaten Blora bersama para seniman menargetkan pengusulan Barongan Blora dapat memperoleh hasil pada 2027.
Perjuangan ini tidak hanya berorientasi pada pengakuan internasional, tetapi juga diharapkan memperkuat upaya perlindungan, pengembangan, dan pewarisan seni Barongan Blora.
Keterlibatan komunitas seniman, pemerintah daerah, serta tim pendamping menjadi bagian penting dalam mempersiapkan dokumen dan tahapan pengusulan sesuai mekanisme yang berlaku.
Jika proses tersebut berjalan sesuai harapan, Barongan Blora berpeluang semakin dikenal di tingkat internasional sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Dukungan dari komunitas Reog Ponorogo sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kolaborasi dan persaudaraan antardaerah, tanpa menghilangkan kekhasan seni masing-masing.
Bagi Blora dan Ponorogo, langkah bersama ini menjadi momentum untuk memperkuat hubungan budaya sekaligus menjaga agar warisan seni tradisional tetap berkembang di tengah perubahan zaman. (tos)
Editor : Ali Mustofa