Berakar pada Tradisi, Teguh Menjaga Negeri

Redaksi Radar Kudus • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:35 WIB
Mahbub Djunaidi
Mahbub Djunaidi

 
Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Blora

Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri. Momentum ini bukan sekadar perayaan atas eksistensi pesantren dan kaum santri.

Lebih dari itu, Hari Santri merupakan kesempatan untuk mengingat kembali perjalanan panjang kaum santri dalam menjaga agama, mengabdi kepada masyarakat, sekaligus mempertahankan Indonesia.

Pada Hari Santri 2026, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.”

Tema ini terasa sangat relevan di tengah perubahan zaman yang berlangsung demikian cepat. Santri hari ini berhadapan dengan dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, derasnya arus informasi global, serta perubahan sosial menuntut santri untuk terus belajar dan beradaptasi.

Namun, kemajuan tidak boleh membuat santri kehilangan pijakan.

Sekretaris Jenderal PBNU H. Gudfan Arif atau Gus Gudfan mengingatkan, “Santri harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi jangan pernah kehilangan akar. 

Akar kita adalah tradisi keilmuan pesantren, sanad, adab, dan nilai-nilai yang diwariskan para masyayikh.”

Pesan tersebut penting. Sebab, masa depan santri bukanlah memilih antara mempertahankan tradisi atau menerima kemajuan. Tugas santri justru mempertemukan keduanya.

Akar yang Menjaga Arah

Akar tradisi pesantren bukan sekadar sarung, peci, kitab kuning, atau bangunan pondok pesantren.

Lebih dalam dari itu, tradisi pesantren adalah sebuah cara membangun ilmu dan membentuk manusia.

Di pesantren, ilmu tidak dilepaskan dari sanad. Belajar tidak dipisahkan dari adab. Kecerdasan tidak ditempatkan lebih tinggi daripada akhlak.

Ada penghormatan kepada guru, ketekunan dalam belajar, sikap tawadhu, kebersamaan, kesederhanaan, serta kesediaan mengabdikan ilmu untuk kemaslahatan orang banyak. Nilai-nilai seperti inilah yang justru semakin dibutuhkan pada era digital.

Hari ini, informasi tersedia begitu mudah. Dalam hitungan detik seseorang dapat memperoleh ribuan jawaban melalui mesin pencari maupun kecerdasan buatan.

Tetapi melimpahnya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan bertambahnya kebijaksanaan. Di sinilah tradisi keilmuan pesantren menemukan relevansinya. Konsep sanad mengajarkan pentingnya mengetahui sumber suatu pengetahuan.

Dalam konteks kehidupan digital, semangat sanad dapat diterjemahkan menjadi budaya melakukan verifikasi, memeriksa sumber informasi, tidak mudah menyebarkan kabar yang belum jelas, serta membedakan antara fakta, opini dan fitnah.

Demikian pula dengan adab. Pada zaman ketika ruang publik berpindah ke media sosial, adab tidak hanya dibutuhkan ketika seorang santri duduk di hadapan kiai.

Adab juga harus hadir ketika menulis komentar, menyampaikan kritik, berdebat, menggunakan teknologi, bahkan ketika berbeda pilihan dan pandangan. Karena itu, menjaga tradisi bukan berarti hidup dengan terus menoleh ke belakang. Tradisi justru harus menjadi kompas agar kita tidak kehilangan arah ketika bergerak ke depan.

Santri Harus Menguasai Zaman

Menguatkan akar tradisi juga tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk menolak perubahan. Santri justru harus hadir di pusat-pusat kemajuan.

Santri masa depan harus mengenal teknologi informasi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, sains, lingkungan, kewirausahaan, pertanian modern, kesehatan, kebijakan publik, dan berbagai bidang strategis lainnya.

Pesantren harus terus melahirkan generasi yang mampu berbicara bukan hanya tentang persoalan keagamaan, tetapi juga memberikan jawaban atas persoalan masyarakat.

Kita membutuhkan santri yang mampu menjadi ulama sekaligus ilmuwan, pendidik, pengusaha, birokrat, peneliti, dokter, insinyur, petani modern, pekerja kreatif, maupun pemimpin masyarakat.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan pendidikan pesantren ke depan bukan hanya berapa banyak santri yang memahami kitab, melainkan juga seberapa jauh ilmu tersebut mampu menghadirkan kemaslahatan.

Santri harus tumbuh menjadi generasi yang kuat secara spiritual, unggul secara intelektual, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memiliki daya saing global. Tetapi satu hal tidak boleh hilang: jati diri dan akhlaknya.

Kemampuan menggunakan teknologi tanpa akhlak dapat melahirkan penyalahgunaan.

Kecerdasan tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Pengetahuan tanpa orientasi kemaslahatan dapat kehilangan makna. 

Karena itulah pesantren memiliki modal besar untuk ikut membentuk manusia Indonesia masa depan: manusia yang cerdas, tetapi tetap memiliki hati dan tanggung jawab moral.

Dari Resolusi Jihad ke Jihad Zaman Kini

Bagian kedua dari tema Hari Santri PBNU, “Menjaga Keutuhan Negeri,” mengingatkan kita bahwa sejarah santri tidak pernah terpisah dari sejarah Indonesia.

Semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi salah satu penanda penting bahwa bagi para kiai dan santri, membela tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Para pendahulu telah memberikan teladan bahwa mencintai agama tidak bertentangan dengan mencintai Indonesia. Justru dari nilai-nilai agama tumbuh keberanian untuk menjaga kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Tentu bentuk perjuangan santri hari ini berbeda.

Jika dahulu para kiai dan santri menghadapi ancaman penjajahan secara fisik, generasi sekarang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks: kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, radikalisme, intoleransi, narkoba, korupsi, disinformasi, hingga ancaman perpecahan akibat politik identitas dan pertarungan di ruang digital.

Maka meneladani Resolusi Jihad bukan berarti sekadar mengenang romantisme perjuangan masa lalu.

Semangat itu harus diterjemahkan menjadi jihad zaman kini: berjihad melawan kebodohan dengan pendidikan, melawan kemiskinan dengan pemberdayaan, melawan hoaks dengan literasi, melawan perpecahan dengan persaudaraan, serta melawan ketidakadilan dengan keberpihakan kepada kemaslahatan masyarakat.

Menjaga NKRI hari ini juga berarti menjaga ruang sosial agar masyarakat tidak mudah diadu domba.

Santri harus menjadi perekat, bukan penyulut perpecahan. Menjadi peneduh ketika keadaan memanas. Menjadi jembatan di tengah perbedaan. Sebab Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, bahasa dan pilihan-pilihan sosial politik.

Di tengah keberagaman itu, santri harus terus merawat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah: persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sebangsa, serta persaudaraan sesama manusia.

Akar Kuat, Jaga Maslahat

Hari Santri akhirnya harus kita tempatkan bukan sebatas upacara, kirab, apel, atau berbagai kegiatan seremonial. Peringatan ini harus menjadi ruang refleksi bagi santri, alumni pesantren, serta seluruh warga bangsa. 

Pertanyaannya bukan sekadar seberapa meriah kita memperingati Hari Santri, tetapi seberapa besar nilai-nilai kesantrian hadir dalam kehidupan setelah peringatan itu selesai.

Apakah ilmu semakin melahirkan kerendahan hati? Apakah teknologi semakin memperluas manfaat? Apakah perbedaan semakin mampu kita sikapi dengan dewasa?

Dan apakah keberadaan santri benar-benar memberikan solusi bagi persoalan masyarakat? Santri tidak boleh kehilangan akar, tetapi juga tidak boleh takut menumbuhkan cabang dan menjangkau dunia yang semakin luas. 

Akar itu adalah pesantren, sanad, ilmu, adab dan keteladanan para masyayikh. Sedangkan cabangnya adalah pengabdian di berbagai medan kehidupan.

Inilah tantangan sekaligus panggilan santri Indonesia hari ini. Berakar kuat pada tradisi, bergerak mengikuti zaman, dan tetap teguh menjaga negeri (*).

Editor : Ali Mustofa
pesantren mahbub djunaidi hari santri blora nahdlatul ulama