13 Siswa Diduga Keracunan Menu MBG, SPPG Desa Tutup Blora Kena Sanksi Penghentian

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 10:03 WIB
DITUTUP: Operasional SPPG Tutup Desa Tutup, Tunjungan, Blora, berhenti sementara dan tampak sedang direnovasi kemarin. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)
DITUTUP: Operasional SPPG Tutup Desa Tutup, Tunjungan, Blora, berhenti sementara dan tampak sedang direnovasi kemarin. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)

BLORA - Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, kembali dihentikan sementara.

Penghentian dilakukan selama 20 hari setelah muncul dugaan keracunan yang dialami 13 siswa penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Blora Artika Diannita mengatakan, pihaknya telah menerima laporan mengenai sejumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG yang diduga berasal dari SPPG Desa Tutup, Yayasan Pelita Gizi Makmur.

Artika juga sempat mendatangi sekolah setelah menerima informasi mengenai dugaan kejadian tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan Puskesmas Tunjungan, terdapat 13 siswa yang mengalami sejumlah gejala, antara lain mual, pusing, dan muntah. Para siswa kemudian mendapatkan penanganan secara rawat jalan.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan dari pihak Puskesmas Tunjungan waktu itu, ada 13 siswa yang mengalami gejala mual, pusing, dan muntah. Di puskesmas, mereka rawat jalan,” ujar Artika.

Setelah menerima laporan, Korwil SPPG Kabupaten Blora segera meneruskan informasi tersebut kepada pihak terkait.

Laporan mencakup jumlah siswa yang mengalami keluhan, lokasi SPPG, hingga menu makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat.

Menurut Artika, laporan tersebut kemudian menjadi dasar untuk menghentikan sementara operasional SPPG Desa Tutup.

“Kami sudah laporan kejadian dengan cepat, terkait dengan adanya keluhan. Termasuk jumlahnya, SPPG-nya, serta menu yang disajikan. Dari laporan itu, SPPG Tutup diberhentikan selama 20 hari,” jelasnya.

Penghentian sementara tersebut dilakukan sembari menunggu proses pemeriksaan lebih lanjut.

Salah satu tahapan yang masih dinantikan adalah hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga berkaitan dengan munculnya keluhan kesehatan pada siswa.

Satgas MBG Kabupaten Blora juga telah menindaklanjuti laporan dugaan keracunan tersebut dan berkoordinasi dengan Korwil SPPG.

Kepala Satgas MBG Kabupaten Blora Sri Setyorini membenarkan adanya penghentian sementara operasional SPPG Desa Tutup.

Menurutnya, dapur SPPG tersebut tidak beroperasi selama 20 hari. Penghentian dilakukan sebagai bagian dari proses evaluasi setelah munculnya laporan mengenai siswa yang mengalami gejala kesehatan.

“Kemarin saya di luar kota. Tim langsung turun lapor dan hasilnya tutup 20 hari sambil dievaluasi,” kata Sri.

Selama masa penghentian tersebut, evaluasi akan dilakukan untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan pada siswa serta memastikan keamanan makanan yang diproduksi dan didistribusikan melalui SPPG.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan nantinya menjadi salah satu bahan penting untuk mengetahui apakah menu MBG tersebut berkaitan dengan dugaan keracunan yang dialami para siswa.

Penghentian sementara SPPG Desa Tutup menjadi langkah evaluasi agar proses penyediaan makanan dalam program MBG dapat kembali berjalan dengan memperhatikan aspek keamanan dan kualitas makanan bagi para penerima manfaat. (ari)

Editor : Ali Mustofa
SPPG Satgas MBG blora