Terminal Gagak Rimang Blora Sepi Penumpang, Sopir Bus AKDP Pilih Ngetem di Eks Stasiun

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 15:23 WIB
SEPI: Tampak hanya dua bis yang terparkir di halaman Terminal Gagak Rimang Blora. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)
SEPI: Tampak hanya dua bis yang terparkir di halaman Terminal Gagak Rimang Blora. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)

BLORA - Aktivitas penumpang di Terminal Bus Tipe B Gagak Rimang, Blora, masih tergolong rendah.

Sebagian penumpang angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) justru lebih memilih naik dan turun bus di kawasan eks Stasiun Kereta Api Blora.

Kondisi tersebut membuat aktivitas bus AKDP di terminal yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu belum berjalan maksimal.

Padahal, sejumlah bus yang beroperasi memiliki kapasitas ratusan kursi penumpang.

Kepala Balai Pengelola Sarana dan Prasarana Perhubungan (BPSPP) Wilayah II Pati, UPT Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah, Bangun Adi, mengatakan jumlah penumpang AKDP yang menggunakan Terminal Gagak Rimang masih sangat terbatas.

Dalam sehari, penumpang yang naik maupun turun di terminal tersebut hanya berada di kisaran tiga hingga delapan orang.

Menurut Bangun, sebagian besar penumpang lebih terbiasa menunggu bus di kawasan pusat Kota Blora, terutama sekitar eks Stasiun Lama.

Kebiasaan tersebut kemudian membuat pengemudi bus ikut memilih lokasi tersebut untuk mencari dan menunggu penumpang.

“Para penumpang AKDP lebih memilih naik dan turun di Blora Kota atau Stasiun Lama. Kami sudah menyampaikan kepada pengusaha AKDP, namun para pengemudi bus AKDP lebih memilih di Stasiun Lama karena penumpang ada di sana,” ungkapnya.

Saat ini, hanya terdapat dua trayek AKDP yang masih tercatat masuk ke Terminal Gagak Rimang, yakni rute Blora-Rembang dan Blora-Purwodadi-Solo.

Namun, operasional trayek Blora-Purwodadi-Solo disebut sudah tidak sesering sebelumnya.

Data hingga 28 September 2026 menunjukkan sebanyak 989 bus AKDP telah tercatat masuk ke Terminal Gagak Rimang. Dari jumlah tersebut tersedia kapasitas hingga 99.057 kursi.

Namun, jumlah penumpang yang menggunakan layanan tersebut hanya mencapai 2.586 orang.

Jika dibandingkan dengan total kapasitas kursi, jumlah tersebut berada di kisaran 2,6 persen.

“Untuk yang Blora-Purwodadi-Solo sudah jarang,” beber Bangun.

Kondisi berbeda terlihat pada angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP). Jumlah bus AKAP yang tercatat masuk ke Terminal Gagak Rimang sepanjang 2026 lebih banyak dibandingkan bus AKDP.

Tercatat sebanyak 3.698 bus AKAP masuk ke terminal dengan kapasitas keseluruhan mencapai 133.312 kursi.

Dari kapasitas tersebut, jumlah penumpang yang tercatat menggunakan layanan AKAP mencapai 7.519 orang atau sekitar 5,64 persen.

Bangun menyebut jumlah penumpang AKAP masih dapat mencapai sekitar 50 orang setiap hari. Sebagian besar merupakan masyarakat yang hendak melakukan perjalanan ke luar daerah.

Menurut Bangun, salah satu alasan layanan AKAP masih memiliki penumpang di terminal adalah karena bus AKAP tidak biasa menunggu penumpang atau ngetem di kawasan eks Stasiun Lama.

Situasi itu membuat masyarakat yang hendak bepergian menggunakan bus AKAP masih mengandalkan Terminal Gagak Rimang sebagai titik keberangkatan.

Sementara itu, persoalan lain muncul dari keberadaan angkutan pedesaan atau angkudes yang belum terintegrasi dengan terminal.

Angkutan tersebut juga lebih banyak berhenti dan mencari penumpang di kawasan eks Stasiun Lama.

“Angkudes di Blora juga sama, lebih suka di Stasiun Lama. Jarang masuk ke terminal,” katanya.

Bangun berharap masyarakat kembali memanfaatkan Terminal Gagak Rimang untuk naik maupun turun bus.

Menurutnya, peningkatan aktivitas terminal juga dapat memberikan dampak terhadap pergerakan ekonomi di kawasan sekitarnya.

“Dari naik turun penumpang dan keluar masuk bus, ekonomi di sekitar terminal dapat kembali bergerak,” harapnya.

Salah seorang sopir bus AKDP di Blora, Agil, mengatakan kebiasaan sopir menunggu penumpang di kawasan eks Stasiun Lama sudah berlangsung cukup lama.

Ia menyebut kawasan tersebut masih lebih dikenal masyarakat sebagai lokasi untuk menunggu bus.

Karena itu, sopir memilih bertahan di sana agar dapat mengisi kursi penumpang sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan.

“Banyak penumpang yang lebih nyaman menunggu di stasiun. Angkudes juga banyak yang menurunkan penumpang di stasiun. Selama ini penumpang saya juga lebih suka turun di stasiun daripada di terminal,” bebernya.

Agil menilai eks Stasiun Lama memiliki posisi yang lebih strategis karena mudah dijangkau angkutan pedesaan maupun keluarga yang hendak menjemput penumpang.

Sebaliknya, lokasi Terminal Gagak Rimang yang relatif jauh dari pusat kota serta terbatasnya angkutan lanjutan menjadi salah satu pertimbangan penumpang.

“Angkutan dalam kota itu banyak yang di stasiun. Kalau di terminal jaraknya jauh dan tidak ada angkudes. Jadi penumpang juga bingung,” pungkasnya. (ari)

Editor : Ali Mustofa
Terminal Gagak Rimang bus AKDP Blora Stasiun Lama Blora transportasi Blora blora