Jagung di Lahan Ketahanan Pangan Polres Blora Tak Tumbuh Maksimal, Ini Penyebabnya

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 15:06 WIB
SULIT TUMBUH: Lahan Demfarm Ketahanan Pangan Polres Blora di Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)
SULIT TUMBUH: Lahan Demfarm Ketahanan Pangan Polres Blora di Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

BLORA - Kemarau panjang berdampak pada pertumbuhan tanaman jagung di lahan program ketahanan pangan Polres Blora.

Tanaman jagung yang ditanam di Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, tersebut tidak tumbuh sesuai harapan.

Bahkan, sebagian besar tanaman dilaporkan mati akibat kondisi lahan yang terdampak kekeringan.

Lahan seluas sekitar 3 hektare itu kini hanya menyisakan tanaman jagung di beberapa bagian.

Tanaman yang masih bertahan pun terlihat layu, sementara sebagian besar lainnya telah mengering dan mati.

Tim Ketahanan Pangan Polres Blora, Ipda Nanang, mengatakan pihaknya memiliki sejumlah lokasi yang digunakan dalam program ketahanan pangan.

Hasil pertumbuhan tanaman di masing-masing lokasi berbeda-beda.

Menurutnya, ada lahan yang mampu menghasilkan tanaman dengan baik hingga memasuki masa panen.

Namun, ada pula lokasi yang hasilnya belum sesuai target, salah satunya lahan di Desa Klopoduwur.

Di lahan seluas 3 hektare tersebut, sebagian besar tanaman jagung tidak mampu bertahan akibat kondisi yang kurang mendukung.

“Penanaman dilakukan pada Juli lalu dengan menggandeng kelompok tani setempat,” katanya.

Nanang menyebut kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Selain itu, pihaknya juga mengevaluasi aspek perawatan, terutama penyiraman dan pemupukan yang dinilai belum dilakukan secara optimal.

Kondisi berbeda ditemukan pada lahan ketahanan pangan yang berada di Kecamatan Jati. Tanaman jagung di wilayah tersebut sudah memasuki masa panen.

Meski demikian, hasil yang diperoleh belum sepenuhnya maksimal. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi produksi adalah serangan hama.

“Mungkin karena hama tikus dan hama yang lain hasilnya tidak maksimal,” jelasnya.

Hal tersebut menjadi bahan evaluasi agar pengelolaan lahan ketahanan pangan di sejumlah wilayah dapat dilakukan lebih baik pada musim tanam berikutnya.

Nanang menjelaskan, lahan di Klopoduwur merupakan milik kelompok tani yang dimanfaatkan melalui pola kerja sama.

Dalam program tersebut, pihak rekanan membantu menyediakan kebutuhan berupa benih dan pupuk.

Sementara itu, proses pengelolaan dan pengerjaan lahan dilakukan oleh kelompok tani bersama anggota yang terlibat dalam program.

Untuk penanaman berikutnya, evaluasi akan difokuskan pada sejumlah aspek, termasuk menentukan waktu tanam yang lebih sesuai serta meningkatkan perawatan tanaman.

Nanang mengatakan lahan tersebut tetap akan dimanfaatkan untuk menanam jagung ketika musim tanam tiba.

Tanaman yang saat ini masih bertahan juga akan terus dirawat hingga masa panen.

“Kalau sudah musim tanam, akan kita tanam kembali dengan jagung. Yang sekarang masih tersisa akan kita rawat maksimal sampai panen,” bebernya. (tos)

Editor : Ali Mustofa
kemarau panjang ketahanan pangan Blora jagung Blora Klopoduwur polres blora