BLORA - Menyusutnya air Waduk Tempuran di Kabupaten Blora dimanfaatkan sebagian warga untuk bercocok tanam.
Kondisi waduk yang mengalami kekeringan membuat area yang sebelumnya tergenang berubah menjadi lahan pertanian sementara.
Sedikitnya lebih dari 20 warga Desa Tempuran, Kecamatan Blora, memanfaatkan lahan tersebut.
Mereka memilih mengolah area waduk karena tidak memiliki lahan pertanian sendiri.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah bagian waduk yang mulai mengering telah ditanami berbagai jenis tanaman.
Warga menanam padi, jagung, mentimun hingga cabai.
Sebagian tanaman bahkan sudah tumbuh cukup besar dan terlihat subur.
Sementara di beberapa titik lainnya, warga masih melakukan pengolahan tanah sebelum ditanami.
Salah seorang warga, Sarigi, 61, mengaku telah memanfaatkan lahan yang mengering tersebut untuk bertani sejak sekitar sebulan terakhir.
“Saya tanam padi, jagung, lombok dan timun,” ujarnya.
Sarigi mengatakan aktivitas bercocok tanam di area waduk bukan hal baru baginya.
Ia mengaku sudah beberapa tahun memanfaatkan lahan yang muncul ketika volume air Waduk Tempuran menyusut pada musim kemarau.
“Gak punya tanah, tanah di sini dibuat waduk,” tuturnya.
Menurut Sarigi, tanah yang berada di kawasan Waduk Tempuran cukup subur sehingga dinilai cocok digunakan untuk menanam berbagai komoditas pertanian.
“Yang saya tanami sekitar setengah hektar,” bebernya.
Sarigi bukan satu-satunya warga yang memanfaatkan kondisi tersebut.
Setidaknya sudah puluhan warga melakukan hal serupa dengan mengolah bagian waduk yang mengering menjadi lahan pertanian.
Bagi warga yang tidak mempunyai lahan sendiri, kondisi ini memberikan kesempatan untuk tetap bercocok tanam dan memperoleh hasil dari sektor pertanian.
Namun, pemanfaatan lahan yang muncul akibat surutnya air waduk juga memiliki risiko.
Tanaman yang ditanam warga sewaktu-waktu bisa terendam apabila hujan turun dan membuat permukaan air waduk kembali naik.
Sarigi menyadari risiko tersebut. Meski begitu, ia memilih memanfaatkan kesempatan selama kondisi waduk masih memungkinkan untuk ditanami.
“Kalau ada hujan, misal kebanjiran gak apa-apa, namanya aji mumpung,” imbuhnya.
Sementara itu, Bagian Operasi Waduk Tempuran, Giyono, menjelaskan bahwa kondisi air waduk saat ini mengalami penurunan cukup drastis.
Ia menyebut elevasi air Waduk Tempuran kini berada di angka 113,6 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan volume air sekitar 9.116,8 meter kubik.
“Saat ini elevasi 113,6 mdpl. Lalu volume 9.116,8 meter kubik,” jelasnya.
Jumlah tersebut jauh di bawah kapasitas maksimal Waduk Tempuran yang dalam kondisi normal dapat menampung sekitar 1,7 juta meter kubik air. (tos)
“Ini sudah rendah sekali. Karena gak ada hujan sejak bulan Mei,” tambahnya.
Kondisi air yang terus menyusut inilah yang membuat sejumlah area waduk berubah menjadi hamparan tanah terbuka dan kemudian dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. (tos)
Editor : Ali Mustofa