Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila: Renungan Hari Kesaktian Pancasila

Redaksi Radar Kudus • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 09:16 WIB
A. Mahbub Djunaidi
A. Mahbub Djunaidi

 
Oleh : A. Mahbub Djunaidi, Penulis Buku Membaca Zaman Menulis Makna

Setiap tanggal 1 Oktober bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Hari yang mengajak kita menengok kembali perjalanan sejarah bangsa, sekaligus merenungkan kembali kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia.

Pancasila bukan hanya lima sila yang kita hafalkan sejak sekolah. Pancasila bukan pula sekadar teks yang dibacakan dalam upacara.

Pancasila adalah nilai yang semestinya hadir dalam pikiran, sikap, perkataan dan tindakan kita sehari-hari.

Karena itu, memperingati Hari Kesaktian Pancasila semestinya tidak berhenti pada mengenang sejarah. Peringatan ini perlu menjadi momentum untuk melakukan introspeksi kebangsaan: apakah nilai-nilai Pancasila sudah menjadi bagian dari perilaku kita sebagai warga negara?

Istilah “kesaktian” Pancasila lahir dalam konteks sejarah bangsa setelah peristiwa politik dan kekerasan 30 September–1 Oktober 1965.

Pada 1966, 1 Oktober mulai diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, dan melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Dalam konteks sejarah itu, “kesaktian” menunjuk pada keteguhan Pancasila sebagai dasar negara di tengah ancaman terhadap kehidupan berbangsa.

Tetapi setelah puluhan tahun berlalu, makna kesaktian Pancasila tentu perlu terus kita aktualisasikan. Pancasila tidak cukup hanya dipertahankan sebagai dokumen. Pancasila harus dihidupkan sebagai perilaku.

Sebab tantangan terhadap Pancasila pada masa kini tidak selalu berbentuk pemberontakan atau gerakan politik yang hendak mengganti dasar negara.

Tantangan itu dapat hadir secara lebih halus dalam kehidupan sehari-hari: intoleransi, kebencian, diskriminasi, korupsi, kekerasan, penyebaran hoaks, permusuhan akibat perbedaan pilihan politik, ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama, hingga perilaku yang mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama. Di sinilah sesungguhnya kesaktian Pancasila diuji.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan sekadar pengakuan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama.

Nilai ketuhanan semestinya melahirkan manusia yang beriman sekaligus berakhlak. Semakin kuat keyakinan seseorang kepada Tuhan, semestinya semakin baik pula perilakunya kepada sesama.

Kita perlu belajar menghormati orang lain yang berbeda agama dan keyakinan. Perbedaan tidak harus membuat kita saling menjauh.

Justru karena kita hidup dalam masyarakat yang majemuk, toleransi menjadi bagian penting dari kehidupan kebangsaan.

Beragama dengan sungguh-sungguh seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin mudah merendahkan orang lain.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.

Pancasila menuntun kita agar tidak hanya bertanya, “Apa yang saya dapatkan?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan kepada sesama?”

Ketika melihat orang kesusahan, hati kita tergerak untuk membantu. Ketika melihat ketidakadilan, nurani kita tidak membiarkan kita diam.

Ketika berhadapan dengan orang yang berbeda latar belakang, kita tetap memperlakukannya sebagai manusia yang memiliki kehormatan.

Kemanusiaan bukan teori. Ia hadir dalam kesediaan menolong, menghormati, memaafkan, berbagi dan tidak menyakiti.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi sangat penting di tengah masyarakat yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan.

Kita berbeda suku, agama, bahasa, budaya, profesi, pilihan organisasi bahkan pilihan politik. Semua itu merupakan kenyataan Indonesia. Yang harus kita jaga adalah jangan sampai perbedaan membuat kita lupa bahwa kita adalah satu bangsa.

Berbeda pilihan tidak berarti bermusuhan.

Berbeda pendapat tidak berarti kehilangan persaudaraan. Berbeda pandangan tidak berarti orang lain harus dianggap sebagai musuh.

Persatuan bukan berarti semua orang harus berpikir sama. Persatuan justru berarti kita mampu hidup bersama meskipun tidak selalu sama.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam kehidupan demokrasi.

Di era media sosial, setiap orang dapat berbicara. Itu merupakan bagian dari kebebasan. Tetapi kebebasan berbicara harus disertai tanggung jawab. Tidak semua yang kita dengar harus kita percaya.

Tidak semua yang kita pikirkan harus langsung kita sebarkan. Tidak semua perbedaan harus dibalas dengan kemarahan.

Kita perlu belajar mendengarkan sebelum menyimpulkan, memeriksa sebelum menyebarkan, dan berpikir sebelum berbicara. 

Demokrasi membutuhkan kebebasan, tetapi juga membutuhkan kedewasaan.

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, merupakan panggilan agar pembangunan dan kehidupan bernegara memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Keadilan bukan berarti semua orang mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang sama. Keadilan berarti setiap orang mendapatkan haknya secara layak dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.

Karena itu, kepedulian kepada masyarakat miskin, perhatian kepada kelompok rentan, pelayanan publik yang baik, pendidikan yang berkualitas, kesempatan ekonomi, serta pemerintahan yang bersih merupakan bagian dari pengamalan nilai Pancasila.

Pancasila akan semakin bermakna ketika masyarakat tidak hanya mendengar tentang keadilan, tetapi merasakan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Kadang-kadang kita membayangkan bahwa mengamalkan Pancasila harus dilakukan melalui tindakan besar.

Padahal tidak demikian. Mengamalkan Pancasila dapat dimulai dari rumah. Menghormati orang tua. Mendidik anak dengan kasih sayang. Menolong tetangga.

Menghargai teman yang berbeda keyakinan. Tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Tidak menghina orang lain di media sosial.

Tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Bekerja dengan jujur. Memberikan pelayanan dengan ramah. Tidak menyalahgunakan jabatan. Mau bermusyawarah. Menghormati keputusan yang sah. Dan mau mengakui kesalahan ketika memang bersalah.

Pancasila sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Ia tidak berada jauh di awang-awang. Ia ada di rumah, di sekolah, di kantor, di pasar, di jalan, di tempat ibadah, di lingkungan masyarakat, bahkan di layar telepon genggam yang setiap hari berada di tangan kita.

Yang Belum Mengamalkan, Mari Tergerak

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila hendaknya tidak menjadi kesempatan untuk menunjuk siapa yang paling Pancasilais dan siapa yang tidak.

Lebih baik kita mulai dengan bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah saya mengamalkan Pancasila? Kalau selama ini masih ada nilai Pancasila yang belum kita jalankan dengan baik, tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Yang belum terbiasa menghormati perbedaan, mari belajar menghormati. Yang masih mudah marah, mari belajar menahan diri.

Yang masih suka menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya, mari belajar lebih bijaksana. Yang masih mementingkan diri sendiri, mari belajar berbagi.

Yang pernah berbuat tidak adil, mari berani memperbaiki. Pancasila tidak menuntut manusia menjadi sempurna. Pancasila mengajak kita untuk terus memperbaiki diri dan kehidupan bersama.

Sementara itu, bagi mereka yang selama ini telah berusaha mengamalkan nilai-nilai Pancasila, peringatan ini hendaknya menjadi momentum untuk semakin memantapkan keyakinan dan konsistensi.

Jangan berhenti berbuat baik hanya karena tidak dipuji. Jangan berhenti jujur hanya karena orang lain tidak jujur. Jangan berhenti menghormati perbedaan hanya karena ada orang lain yang tidak menghormatinya.

Jangan berhenti memperjuangkan keadilan hanya karena perjuangan itu tidak mudah. Sebab nilai Pancasila bukanlah perlombaan untuk mendapatkan pengakuan. Ia adalah jalan pengabdian kepada bangsa dan sesama manusia. 

Pada akhirnya, kesaktian Pancasila akan semakin terasa ketika nilai-nilainya hidup dalam perilaku bangsa. Ketika perbedaan tidak membuat kita bermusuhan. Ketika kekuasaan digunakan untuk melayani, bukan untuk menyalahgunakan. Ketika orang kuat mau melindungi yang lemah.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Kita amalkan nilai-nilainya, kita mantapkan keyakinan, kita jaga persatuan, dan kita wariskan keteladanan kepada generasi berikutnya (*).

Editor : Ali Mustofa
hari kesaktian pancasila mahbub djunaidi blora Sejarah Bangsa kehidupan berbangsa