1.000 Penari Bakal Tampil di Blora Culture Festival, Seniman Luar Daerah Ikut Bergabung

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 11:55 WIB
MERIAH: Penampilan para penari pada Blora Culture Festival pada tahun 2025 lalu. (DINPORABUDPAR UNTUK RADAR KUDUS)
MERIAH: Penampilan para penari pada Blora Culture Festival pada tahun 2025 lalu. (DINPORABUDPAR UNTUK RADAR KUDUS)

BLORA - Blora Culture Festival (BCF) 2026 kembali disiapkan sebagai salah satu agenda budaya yang menarik perhatian.

Tahun ini, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan seniman dari Kabupaten Blora, tetapi juga mulai diminati para pelaku seni dari sejumlah daerah di luar Blora, seperti Banjarnegara, Tuban, dan Rembang.

BCF 2026 menjadi pelaksanaan ketiga yang digelar secara berturut-turut. Event budaya tersebut dijadwalkan berlangsung di kawasan Goa Terawang pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dengan melibatkan sedikitnya 1.000 penari.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Blora (Dinporabudpar), Yeti Romdonah, mengatakan pihaknya membuka open call bagi masyarakat dan seniman yang ingin berpartisipasi dalam BCF 2026.

Respons terhadap kesempatan tersebut cukup baik. Sejumlah peserta dari luar daerah telah mendaftarkan diri untuk ikut tampil dalam festival.

“Sudah ada yang mendaftar untuk berpartisipasi. Dari Banjarnegara, Tuban dan Rembang,” katanya.

Kehadiran para seniman dari luar Blora nantinya akan menjadi bagian tambahan dalam kemeriahan acara. Sementara itu, target utama 1.000 penari tetap dipertahankan oleh panitia.

Para penari tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), TNI dan Polri, organisasi wanita, pelajar, masyarakat umum, hingga para penggiat seni. Peserta juga tidak hanya berasal dari Blora, tetapi terbuka dari luar daerah.

“Peserta penari tayub kami tetap menargetkan minimal 1.000 penari, adapun garapan tampilan kami mengambil tema Gatra Cacana Jaya Kerta Bhumi,” beber Yeti.

BCF 2026 dirancang dengan konsep kolaborasi berbagai kesenian tradisional yang berkembang di Blora.

Sejumlah seni budaya lokal akan dipadukan dalam satu rangkaian pertunjukan.

Beberapa di antaranya adalah Barongan, Jedoran, serta Tari Prajurit Suro ing Jipang.

Meski menggabungkan berbagai kesenian, Tayub Blora tetap menjadi unsur utama yang diangkat dalam festival tersebut.

“Namun kami tetap mengutamakan mengangkat seni Tayub Blora,” imbuhnya.

Konsep kolaboratif tersebut diharapkan dapat memberikan ruang lebih luas bagi berbagai komunitas seni sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Blora kepada masyarakat yang datang ke Goa Terawang.

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinporabudpar Blora, Galih Indra, menambahkan bahwa BCF tahun ini juga akan dirangkai dengan agenda Pertemuan Forum Komunikasi (FK) Desa Wisata (Deswita) ke-35 se-Jawa Tengah.

Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 9 Oktober di Desa Tinapan.

Para pengelola desa wisata dari berbagai daerah di Jawa Tengah akan mengikuti kegiatan tersebut sekaligus menginap di Blora.

“Jadi tanggal 9 ada pertemuan para pengelola desa wisata se Jawa Tengah di Desa Tinapan. Mereka akan menginap,” terangnya.

FK Deswita Jawa Tengah melibatkan dinas-dinas yang membidangi sektor pariwisata di berbagai kabupaten/kota se-Jawa Tengah, bersama para pengelola desa wisata. Jumlah peserta diperkirakan mencapai 150 hingga 200 orang.

“Jumlahnya diperkirakan 150-200 orang,” tukasnya.

Selanjutnya, pada Sabtu, 10 Oktober, para peserta FK Deswita dari berbagai daerah di Jawa Tengah tersebut akan turut hadir dalam Blora Culture Festival bersama ribuan penari yang telah disiapkan.

“Jadi sifatnya berkolaborasi. Tujuannya meramaikan tempat wisata di Blora,” tuturnya. (tos)

Editor : Ali Mustofa
Blora Culture Festival 2026 BCF Blora 1.000 Penari Blora Goa Terawang Blora Tayub Blora