Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Ketua LPTQ Kabupaten Blora
MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang Jawa Tengah adalah momentum besar bagi kehidupan keagamaan sekaligus kebanggaan bagi masyarakat Jawa Tengah.
Ribuan peserta dari berbagai daerah berkumpul di Semarang, membawa kemampuan terbaik, membawa nama daerah, sekaligus membawa semangat untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki tempat penting dalam kehidupan bangsa.
Namun, di balik kemeriahan panggung, lantunan ayat suci, piala dan penghargaan yang diperebutkan, ada satu harapan yang menurut saya jauh lebih penting: Setelah piala dibawa pulang, semoga ada yang tertinggal di masyarakat.
Harapan tersebut bukan untuk mengurangi arti sebuah prestasi. Justru sebaliknya, prestasi harus menjadi pintu masuk untuk membangun sesuatu yang lebih besar dan berkelanjutan.
Sebab MTQ jangan hanya menghasilkan juara. MTQ harus menghasilkan gerakan pembinaan Al-Qur’an. Peserta yang belum berhasil tidak berarti gagal. Mereka justru menjadi bagian dari proses pembinaan berikutnya.
Demikian pula peserta yang berhasil menjadi juara jangan berhenti setelah menerima penghargaan, harus menjadi mentor, inspirator dan bahkan pelatih bagi generasi setelahnya.
Dengan cara seperti ini, MTQ tidak hanya menghasilkan juara, tetapi menciptakan regenerasi juara.
Daerah jangan takut mengirim delegasi. Jangan menunggu memiliki calon juara baru mengirimkan peserta.
Justru karena belum memiliki juara, pembinaan dan pengiriman peserta harus dilakukan. Kompetisi adalah sekolah terbaik.
Anak-anak kita tidak akan mengetahui kemampuan dirinya kalau tidak pernah bertemu dengan peserta dari daerah lain. Mereka tidak akan mengetahui standar nasional kalau tidak pernah melihat secara langsung bagaimana peserta terbaik dari provinsi lain berlatih dan tampil. Karena itu, kalah dalam sebuah lomba bukan berarti gagal.
Tidak berani ikut lomba karena takut kalah, justru merupakan kegagalan yang lebih besar. Setiap delegasi yang dikirim adalah investasi pembinaan.
Hari ini mungkin belum juara. Tahun depan mungkin masuk final. Tahun berikutnya mungkin meraih juara. Dan beberapa tahun kemudian, bisa jadi anak yang kita bina menjadi qari, qariah, hafiz, hafizah atau mufassir yang mengharumkan nama daerah bahkan Indonesia.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan pemerintah daerah bersama LPTQ. Pertama, bangun database calon peserta sejak dini.
Jangan mencari peserta menjelang MTQ. LPTQ bersama Kementerian Agama, sekolah, madrasah, pesantren, TPQ, rumah tahfiz dan lembaga pendidikan Al-Qur’an perlu memiliki database talenta Qur’ani daerah menghimpun anak yang memiliki suara bagus, hafalannya kuat, memiliki kemampuan tafsir, bakat dalam kaligrafi, memiliki kemampuan syarhil dan fahmil Quran.
Data tersebut harus diperbarui secara berkala. Kedua, pembinaan dilakukan sepanjang tahun. Kesalahan yang sering terjadi adalah pembinaan baru dimulai beberapa bulan menjelang lomba.
Pola tersebut harus diubah. Ketiga, kompetisi secara berjenjang mulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional. Kompetisi lokal akan menjadi laboratorium untuk menemukan bibit-bibit baru. Karena itu, MTQ tingkat kabupaten jangan dipandang sebagai acara rutin tahunan semata.
MTQ kabupaten adalah mesin pencari bakat Qur’ani daerah. Keempat, penghargaan yang layak kepada anak-anak yang berprestasi. Tidak selalu harus berupa uang.
Beasiswa pendidikan, kesempatan mengikuti pelatihan, dukungan pendidikan, publikasi prestasi dan kesempatan menjadi duta generasi Qur’ani juga sangat berarti. Begitu pula para pembina dan pelatih harus mendapat penghargaan yang pantas.
Sebab pembinaan yang baik membutuhkan orang-orang yang bekerja dengan kompetensi dan ketulusan. Kelima, tidak membebani peserta dengan target juara, agar anak-anak yang mengikuti MTQ tidak merasa bahwa harga dirinya ditentukan oleh medali. Tanamkan kepada mereka bahwa lomba adalah sarana belajar.
Juara adalah bonus. Proses adalah investasi. Al-Qur’an adalah tujuan utamanya. Dengan mental seperti ini, peserta akan lebih percaya diri, tidak mudah patah ketika kalah dan mampu menerima kemenangan dengan rendah hati.
Sebagai Ketua LPTQ Kabupaten Blora, saya melihat bahwa Blora memiliki potensi besar untuk terus membangun generasi Qur’ani.
Potensi itu ada di pesantren, madrasah, sekolah, TPQ, rumah tahfiz, masjid dan keluarga. Yang dibutuhkan adalah ekosistem pembinaan yang terintegrasi. LPTQ tidak mungkin bekerja sendirian.
Pemerintah daerah perlu hadir. Kementerian Agama perlu bersinergi. Dunia pendidikan harus terlibat. Pesantren harus diperkuat. Para ustaz dan ustazah perlu diberikan ruang. Orang tua harus menjadi bagian dari pembinaan.
Dan yang tidak kalah penting, anak-anak muda harus diberi kesempatan.
Jangan sampai kita hanya mencari peserta ketika MTQ sudah di depan mata. Mari kita mulai menyiapkan mereka jauh sebelum panggung kompetisi berdiri.
Pada akhirnya, MTQ harus kembali kepada ruhnya. Kita tentu ingin qari dan qariah kita menjadi juara. Kita ingin hafiz dan hafizah kita berprestasi.
Kita ingin nama daerah berkibar di tingkat provinsi dan nasional. Tetapi lebih dari itu, kita ingin lahir generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan manusia yang pandai membaca Al-Qur’an.
Kita membutuhkan manusia yang nilai-nilai Al-Qur’annya tercermin dalam perilaku: jujur, amanah, santun, adil, disiplin, bertanggung jawab dan peduli kepada sesama.
Indikator keberhasilan MTQ yang didambakan masyarakat tentu semakin banyak anak membaca Al-Qur’an, semakin banyak generasi muda menghafalnya, semakin kuat pendidikan karakter, semakin hidup masjid dan pesantren, semakin berkembang ekonomi umat, serta semakin santun perilaku masyarakat.
Generasi Qur’ani menunjukkan kemenangan sebuah peradaban. Maka kepada seluruh pemerintah daerah, jangan takut mengirimkan delegasi.
Jangan menunggu juara untuk memulai pembinaan. Mulailah pembinaan agar suatu hari lahir juara. Kirimkan anak-anak kita. Berikan mereka pengalaman. Biarkan mereka berkompetisi. Biarkan mereka belajar dari kemenangan dan kekalahan.
Boleh jadi, anak yang hari ini belum membawa pulang piala, adalah orang yang beberapa tahun kemudian akan membawa nama harum daerah di panggung nasional. Ketika itu terjadi, kita akan menyadari bahwa investasi terbesar MTQ adalah manusia yang tumbuh bersama Al-Qur’an dan masyarakat yang semakin Qur’ani (*).
Editor : Mahendra Aditya