BLORA – Jumlah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan, yang mengalami keluhan kesehatan kembali bertambah.
Dinas Kesehatan Blora mencatat hingga Kamis (10/9), total penerima manfaat yang mengeluhkan sakit perut, diare, muntah, hingga gangguan kesehatan lainnya mencapai 216 orang.
Kepala Dinkesda Blora Edi Widayat mengatakan, pihaknya masih melakukan pemantauan terhadap seluruh penerima manfaat yang mendapatkan makanan dari SPPG Sukorejo 2.
Menurutnya, kondisi masing-masing orang berbeda sehingga reaksi tubuh terhadap dugaan gangguan kesehatan tersebut juga tidak selalu sama.
“Kita lakukan update setiap hari pasca insiden pertama di SMA Negeri 1 Tunjungan. Pada Rabu (9/9) sekitar setengah 10 malam terlaporkan ada tambahan korban,” kata Edi, Kamis (10/9).
Edi menjelaskan, laporan penerima manfaat yang mengalami keluhan kesehatan berasal dari beberapa satuan pendidikan.
Di SMA Negeri 1 Tunjungan tercatat 133 siswa dan satu guru. Kemudian dari SMP IT terdapat 35 siswa dan satu kepala sekolah.
Sementara itu, dari SD IT dilaporkan 30 siswa dan delapan guru mengalami keluhan. Adapun dari MTs Al-Banjari terdapat tiga siswa yang turut dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.
Laporan tidak hanya datang dari lingkungan sekolah. Dinkesda Blora juga menerima informasi dari kelompok penerima manfaat B3 yang mencakup ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-PAUD.
“Di Desa Kedungrejo, Tunjungan terdapat penerima manfaat yang mengalami keluhan yang sama. Di sana ada empat ibu menyusui dan satu balita,” ungkap Edi.
Tiga hari setelah insiden dugaan keracunan tersebut diketahui, sejumlah penerima manfaat masih menjalani perawatan.
Edi menyebutkan terdapat lima orang yang masih dirawat inap.
“ saat ini masih ada yang rawat inap lima orang, dua di Klinik Citra Mulia, satu di Puskesmas Japah, dan dua orang di RSUD Blora,” ujarnya.
Di sisi lain, Humas SMAN 1 Tunjungan Ainur Totok Rofiq menyampaikan bahwa pada Kamis (10/9) masih terdapat 40 siswa yang mengeluhkan pusing dan diare.
Sebagian besar siswa tersebut sebelumnya telah mendapatkan obat dari tim kesehatan pada Selasa (8/9).
“Daya tahan tubuh anak itu kan berbeda-beda, ini tadi pas jam pelajaran banyak anak yang mengeluhkan sakit. Meskipun kemarin sudah diberikan obat,” jelas Rofiq.
Ia memastikan puluhan siswa tersebut kembali mendapatkan penanganan dari Dinas Kesehatan Blora. Namun, hingga saat itu tidak ada dari 40 siswa tersebut yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Staf Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Jawa Tengah Stevi Ayu mengatakan, pihaknya telah melakukan inspeksi awal terhadap dapur serta penelusuran epidemiologis di Klinik Citra Mulia berkaitan dengan dugaan kasus tersebut.
BPOM juga telah melakukan pemeriksaan dapur dan mengambil sampel makanan MBG yang dibagikan pada Senin (7/9). Sampel tersebut selanjutnya dibawa untuk menjalani pemeriksaan sesuai prosedur.
“Setelah diambil itu kami akan membawa ke BPOM sesuai prosedur. Dugaan keracunan belum bisa dikatakan, harus melihat berdasarkan data sedangkan sampel sudah kami bawa dan harus kami uji lab dulu,” jelas Stevi.
Adapun sampel makanan yang diperiksa meliputi menu yang diterima penerima manfaat pada hari kejadian, yakni nasi, ayam bumbu woku, tempe ketumbar, sop buah, apel, sayur jagung, dan brokoli.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab keluhan kesehatan yang dialami para penerima manfaat MBG tersebut. (ari)
Editor : Ali Mustofa