NASIONAL- Di lereng Gunung Muria, tepatnya di Desa Jepalo, Kabupaten Pati, kisah Saridin kembali dihadirkan bukan semata sebagai cerita rakyat, melainkan sebagai ruang perenungan tentang manusia, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan kehidupan bersama.
Melalui pertunjukan “Saridin Menunggang Kerbau ke Suralaya”, karya Rendra Bagus Pamungkas, Langgeng Culture Center menghadirkan karya panggung yang menjadi bagian dari Manaqib Nagari: Persembahan Para Salik untuk Negeri, dalam pembukaan malam puncak Cakramanggilingan Festival Muria Raya 2026, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Pertunjukan yang ditulis sekaligus dibawakan oleh Rendra Bagus Pamungkas tersebut tak hanya berangkat dari figur Saridin—tokoh yang telah lama hidup dalam ingatan kultural masyarakat Pati dan pesisir Muria. Namun, Saridin ditempatkan sebagai lebih dari sekedar tokoh folklor, melainkan sebagai pintu masuk untuk membaca kembali persoalan manusia: tentang kebenaran, keberanian mempertanyakan tatanan, hubungan manusia dengan Tuhan, serta ketegangan antara pengalaman batin dan aturan sosial.
Bagi Langgeng Culture Center, kebudayaan tidak hanya berfungsi untuk mengingat masa lalu. Kebudayaan juga dapat menjadi cara untuk membaca zaman.
Program Manaqib Nagari di Langgeng Culture Center sendiri lahir dari kegelisahan terhadap berbagai krisis yang menyertai kehidupan berbangsa dan bernegara. Krisis tersebut tidak hanya hadir dalam politik, ekonomi, atau perebutan kekuasaan, tetapi juga pada wilayah yang lebih dalam: hilangnya ingatan, tercerabutnya nilai, retaknya hubungan manusia dengan jati dirinya, serta semakin jauhnya manusia dari kebijaksanaan yang pernah tumbuh dalam sejarah peradabannya.
Dalam konteks tersebut, Saridin menjadi relevan untuk dibaca kembali. Ia bukan figur yang menawarkan jawaban sederhana.
Justru melalui paradoks, kelucuan, keberanian, dan perjalanan spiritualnya, Saridin memperlihatkan bagaimana manusia berhadapan dengan batas-batas pengetahuan, kekuasaan, dan keyakinannya sendiri.
“Kami tidak sedang menghadirkan Saridin sebagai nostalgia atas masa lalu. Kami ingin melihat apa yang masih bisa dibaca dari laku Saridin untuk kehidupan hari ini melalui karya Mas Rendra. Dan FMR 2026 sangatlah strategis untuk menjadi ruang paling dekat dalam pertemuan Saridin, Rendra, dan Bangsa Indonesia melalui lereng-lereng gunung." ujar W. Sanavero, MA, Direktur Langgeng Culture Center.
Menurutnya, karya pertunjukan dapat menjadi medium untuk melakukan tadabbur—perenungan yang memungkinkan masyarakat melihat kembali dirinya melalui warisan kebudayaan.
Karena itu, “Saridin Menunggang Kerbau ke Suralaya” ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar kebudayaan untuk merawat ingatan sekaligus mengujinya dengan konteks zaman.
Pertunjukan ini mempertemukan tradisi Jawa, spiritualitas Islam, seni peran, dan bahasa panggung kontemporer. Sosok Saridin dibaca sebagai bagian dari perjalanan panjang masyarakat Nusantara dalam mencari hubungan yang lebih bermakna antara manusia, Tuhan, alam, dan negeri.
Bagi Langgeng Culture Center, inilah salah satu makna Manaqib Nagari: membaca kembali perjalanan sebuah negeri melalui kisah orang-orang yang memilih jalan laku, pengetahuan, dan perenungan.
Pertunjukan tersebut menjadi salah satu bagian utama pembukaan malam puncak Cakramanggilingan Festival Muria Raya 2026 di Desa Jepalo, lereng Gunung Muria, Pati.
Dari lereng Muria, Saridin kembali menunggang kerbaunya—bukan hanya menuju Suralaya, tetapi menuju ingatan kita sendiri. (tos)
Editor : Eko Santoso