Ngawen, Laboratorium Baru Melawan Kemiskinan

Redaksi Radar Kudus • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:28 WIB
A. Mahbub Djunaidi
A. Mahbub Djunaidi

 

Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Penulis Buku Membaca Zaman Menulis Wakru

Sebagai warga Blora, Jawa Tengah, penulis mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas inovasi dalam pengentasan kemiskinan, menjadikan pemuda dari keluarga miskin sebagai motor  pemberdayaan ekonomi.

Dari delapan desa dan kelurahan yang dipilih sebagai lokasi Pilot Project Desa/Kelurahan Mandiri Sejahtera Berbasis Pemberdayaan Pemuda, salah satunya adalah Kelurahan Ngawen, Kabupaten Blora.

Program tersebut diluncurkan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Kelurahan Semanggi, Surakarta, 19 Agustus 2026.

Ngawen sedang ditempatkan sebagai laboratorium kebijakan pengentasan kemiskinan. Nantinya diuji apakah pemberdayaan pemuda mampu menjadi jalan untuk meningkatkan pendapatan keluarga miskin.

Program menyasar pemuda usia 16-30 tahun dari keluarga yang berada pada desil 1 sampai 4.

Mereka diarahkan memperoleh keterampilan, membangun usaha, memperluas pasar, termasuk melalui teknologi digital, sehingga memiliki penghasilan yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Di sinilah terjadi perubahan paradigma: dari memberi bantuan menuju menciptakan keberdayaan. Ngawen sebagai salah satu lokasi pilot project menjadi kesempatan bagi Blora untuk membuktikan bahwa potensi desa/kelurahan dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi keluarga.

Data BPS menunjukkan persentase penduduk miskin Blora pada Maret 2025 sebesar 10,58 persen, turun 0,84 poin persentase dibandingkan Maret 2024. Jumlah penduduk miskin juga turun menjadi 92,01 ribu jiwa, berkurang 7,13 ribu jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.

Blora memiliki kekuatan ekonomi yang sesungguhnya tidak sedikit seperti pertanian, peternakan, perdagangan, UMKM, pangan lokal, ekonomi kreatif dan berbagai potensi desa sebagai modal yang dapat dikembangkan. 

Untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan, uji coba ini perlu ukuran berapa pemuda yang memperoleh pekerjaan, berapa yang mampu membangun usaha, berapa kenaikan pendapatan keluarganya, dan berapa keluarga yang akhirnya keluar dari kemiskinan. Inilah yang harus menjadi baseline dan endline program.

Pemuda  yang dibidik akan lebih maksimal hasilnya bila diajak menemukan potensi dirinya sendiri  seperti pertanian modern, peternakan, pengolahan pangan,  keterampilan digital, atau perdagangan.

Dengan demikian, intervensi tidak menjadi program seragam, tetapi disesuaikan dengan kemampuan, minat, pengalaman dan potensi ekonomi masing-masing penerima manfaat.

Selain Ngawen di Blora, lokasi lainnya adalah Kelurahan Semanggi, Nusukan dan Mojosongo di Surakarta; Desa Winduaji di Brebes; Desa Belik dan Mendelem di Pemalang; serta Desa Rejosari di Demak.

Pemerintah Kabupaten Blora tentu akan membangun sistem pendampingan yang kuat, melibatkan pemerintah kelurahan, perangkat daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, komunitas, pelaku UMKM dan pasar.

Mereka tidak hanya butuh training saja, tetapi juga coaching dan pendampingan berkelanjutan. Dengan kata lain, ekosistem harus dibangun, sebelum sampai sesudah programq dijalankan. 

Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari apakah angka kemiskinan lokus turun, tetapi juga apakah muncul generasi muda yang mampu mengubah ekonomi keluarganya?

Jika satu pemuda berhasil, ia dapat mengangkat keluarganya. Jika puluhan berhasil, dampaknya terasa di lingkungan. Jika ratusan berhasil, ekonomi desa bergerak. Apabila model itu kemudian direplikasi ke desa-desa lain, Ngawen tidak lagi hanya menjadi satu titik di peta kemiskinan Blora.

Ngawen dapat menjadi titik awal perubahan cara Blora memandang kemiskinan. Ngawen bisa menjadi awal dari cerita baru: dari desa yang menjadi lokasi uji coba, menjadi desa yang menunjukkan bagaimana kemiskinan benar-benar bisa dilawan dari dalam keluarga sendiri (*).

Editor : Ali Mustofa
ekonomi mahbub djunaidi blora kemiskinan keluarga miskin