Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Penulis buku “Membaca Zaman Menulis Makna”
Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi persaingan, mengejar pengakuan, dan menonjolkan kehebatan, sikap rendah hati atau andap asor menjadi akhlak yang terasa semakin dicari.
Kerendahan hati merupakan salah satu kemuliaan yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW. Semakin tinggi kedudukan beliau, semakin tampak kesederhanaan dan kerendahan hatinya.
Rasulullah SAW tidak pernah menjadikan kedudukannya sebagai alasan untuk menjaga jarak dengan orang lain. Beliau bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan status sosial.
Beliau menyapa anak-anak, duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan orang sederhana, dan membantu pekerjaan rumah tangga.
Kebesaran dirinya tidak membuat beliau merasa lebih tinggi daripada sesama manusia.
Inilah makna andap asor yang sesungguhnya. Rendah hati bukan berarti rendah diri, apalagi kehilangan jati diri.
Sebaliknya, andap asor merupakan tanda kekuatan jiwa. Orang yang rendah hati tidak takut dihina, tetapi kepada orang lain selalu dianggap mulia.
Ia lebih banyak mendengar, dan tidak mengumbar, lebih suka menghargai daripada melukai, serta mampu mengakui kelebihan orang walau dimaki.
Allah SWT berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.” (QS. Asy-Syu'ara: 215).
Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidaklah seseorang bersikap tawaduk karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh seberapa tinggi ia berdiri di hadapan orang lain, tetapi oleh seberapa baik ia memperlakukan saudara-saudara Ngadimin.
Di era media sosial, ketika orang berlomba menampilkan keberhasilan, popularitas, dan gaya hidup, keteladanan Nabi semakin penting.
Jabatan, ilmu, harta, dan kekuasaan hanyalah titipan Allah. Semuanya dapat berubah dan suatu saat harus dipertanggungjawabkan.
Karena itu, semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin santun tutur katanya dan semakin lembut perilakunya.
Andap asor juga penting dalam kehidupan keluarga dan birokrasi. Orang tua yang rendah hati akan lebih mudah menjadi teladan bagi buah hati.
Pemimpin yang rendah hati akan lebih dekat dengan para abdi dan terbuka mendengar keluhan hati.
Aparatur yang rendah hati akan memahami bahwa jabatan adalah amanah untuk melayani, bukan kesempatan untuk dilayani.
Marilah menjadikan andap asor sebagai karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan memperbanyak shalawat dan memperingati Maulid saja, tetapi juga dengan berusaha menghadirkan akhlaknya dalam diri kita.
Semakin tinggi ilmu, jabatan, dan kedudukan seseorang, semestinya semakin rendah hati, semakin murah hati, dan semakin besar manfaat yang berarti.
Itulah jalan andap asor yang dicontohkan Rasulullah SAW menuju kemuliaan di dunia dan akhirat.
Kepada umat Islam, penulis mengucapkan Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Semoga kita diberikan kekuatan untuk meneladani sifat andap asor Nabi Muhammad SAW. Amin...(*).
Editor : Ali Mustofa