BLORA- Peringatan kemerdekaan di Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan di antaranya diisi dengan sarasehan sejarah yang diselenggarakan pada Selasa (18/08) malam. Dalam sarasehan yang menghadirkan Ketua Dewan Kebudayaan Blora (DKB) Dalhar Muhammadun itu terungkap jika sejarah Desa Tutup bertaut dengan Pangeran Diponegoro yang sudah berumur dua abad.
Acara yang diselenggarakan di Balai Desa Tutup itu disambut antusias warga. Ada 100 orang yang terlibat. Dari perangkat desa, ketua RT, tokoh masyarakat, pemuda juga perwakilan PKK dan warga sekitar.
Dalhar Muhammadun menjelaskan jika sejarah cikal bakal Desa Tutup memiliki korelasi dengan Perang Jawa (1925-1930) dengan tokoh utama Pangeran Diponegoro.
Di Blora terdapat beberapa pasukan Diponegoro. Satu di antaranya yakni Raden Ngabehi Honggowijoyo di Desa Tutup. Tokoh tersebut oleh masyarakat sekitar disebut Mbah Datuk.
"Karena tidak ada tokoh lain yang diingat sebagai memori kolektif masyarakat desa Tutup sebelum datangnya Mbah Hongga atau Mbah Datuk, maka kita berkesimpulan; Mbah Datuk adalah tokoh utama babad desa Tutup," ucapnya.
Sementara terkait asal usul nama Tutup, diambil dari nama pohon Trutup. Menurut cerita jenis pohon tersebut banyak tumbuh di desa Tutup.
Sampai hari ini masih ada orang di luar desa Tutup yang menyebut desa ini dengan Desa Trutup. Sebutan Trutup berubah menjadi Tutup karena desa ini adalah tempat pelarian atau persembunyian pasukan Diponegoro.
"Juga karena wilayah ini tertutup untuk orang-orang yang punya niat tidak baik bahkan tertutup untuk didatangi pejabat tempo dulu," bebernya.
Ketua Pokdarwis Desa Tutup Isnu Widyatmoko menjelaskan jika acara tersebut selain dalam rangka peringatan kemerdekaan, juga sebagai upaya inventarisasi potensi desa. Terutama potensi sejarah dan budaya.
"Selanjutnya kita berharap hasilnya manjadi bahan untuk mewujudkan desa Tutup sebagai desa wisata," ujarnya.
Subkoordinator Daya Tarik dan Destinasi Pariwisata di Dinporabudpar Blora Galih Indra Nugraha mengapresiasi acara tersebut. Menurutnya inisiatif itu bisa menjadi langkah awal untuk membuat catatan sejarah.
"Harapan semoga jadi produk buku catatan sejarah Desa Tutup untuk dipelajari banyak orang, banyak warga. Sehingga tahu jatidiri dan asal muasalnya," katanya.
Dari situ, bisa menjadi sebuah produk yang bisa dikembangkan dari sisi pariwisata. Menjadi produk yang menjadi daya tarik. (tos)
Editor : Eko Santoso