Miris Terjadi Perundungan di SMP Negeri 1 Blora, Korban Dipukul, Ditendang, Sempat Dibawa ke Rumah sakit

Eko Santoso • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:02 WIB
PARAH: Siswa SMPN 1 Blora yang jadi korban perundungan saat mendapat perawatan di rumah sakit.
PARAH: Siswa SMPN 1 Blora yang jadi korban perundungan saat mendapat perawatan di rumah sakit.

Salah Satu Pelaku Anak Anggota DPRD Kabupaten Blora dari PKB

BLORA - Miris terjadi perundungan di lingkungan sekolah SMP N 1 Blora. Korban dikeroyok beberapa siswa. Dipukul, ditendang, hingga alami luka robek di bibir sampai dijahit. Korban juga memar-memar pada wajah. 

Saat mengunjungi rumah korban, tampak korban masih diperban. Tak masuk sekolah karena trauma.

Tokoh masyarakat Blora, Danu Sukoco yang sekaligus jadi penasehat hukum dari keluarga korban menyebut dugaan perundungan tersebut terjadi dua kali, yakni pada Jumat (07/08) dan Sabtu (08/08). 

Sebagaimana keterangan korban, Danu menjelaskan jika korban sempat mengalami peristiwa yang membuatnya merasa menjadi sasaran kejahilan teman-temannya. Korban pernah tersiram dari jebakan gayung berisi air yang diletakkan di atas pintu toilet. 

Merasa diperlakukan demikian, korban kemudian membalas. Namun, korban disebut tidak mengetahui siapa yang akhirnya terkena jebakan yang dibuat korban.

"Setelah itu pada hari Jumat korban dipukuli. Dia diam aja. Seharinya lagi, ia ketemu temannya, menyampaikan seseorang ingin ketemu. Akhirnya korban ke lantai dua yang masih berada di lingkungan sekolah. Dia dipukuli lagi ditendang lagi," katanya. 

Imbas dari aksi itu, bibir korban sobek hingga dijahit. Lalu wajahnya memar-memar. 

"Sudah diobatkan di rumah sakit. Diberi obat. Orang tua menanggung biaya," bebernya. 

Beberapa orang tua anak yang diduga jadi pelaku pemukulan sempat meminta maaf kepada keluarga korban. Tetapi ada salah satu orang tua yang terkesan mengabaikan. 

"Ada salah satu orang tua murid anggota dewan gampangke," bebernya. 

Orang tua siswa itu menyebut beberapa kalimat yang dinilai menyakiti perasaan keluarga korban. 

"Urusane bocah-bocah tukaran biasa," Danu menirukan. "Apakah dia berharap anak-anak sekolah di Blora pada tukaran," lanjutnya. 

Menurut Danu ungkapan tersebut menunjukkan sikap arogansi dan tidak berempati. Juga pernyataan yang tidak pantas diucapkan seorang anggota DPRD. 

"Meski berkapasitas sebagai orang tua yang datang, ia menyatakan jika ia anggota dewan PKB. Anggota dewan kok ngene partai politiknya pie," terangnya. 

Selain itu, pihaknya menyesalkan kelalaian dari pihak sekolah. Sebab kejadian berlangsung dua hari berturut-turut. 

"Harusnya sekolah tau. Keamanannya, guru, apalagi guru BK. Harus tau kondisi anak. Harusnya sekolah kontrol," tambahnya. 

Danu berharap persoalan tersebut menjadi evaluasi terhadap sistem pengawasan dan pencegahan perundungan di sekolah. Kasus tersebut juga telah dilaporkan ke Polres Blora.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Sunaryo membenarkan adanya siswa yang dipukul oleh teman sekolahnya. Pihaknya meminta sekolah mendalami kronologi secara utuh dan mengedepankan pendekatan terhadap kedua pihak.

"Kemarin saya minta bapak ibu guru hadir ke rumah korban, bertemu orang tua untuk menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya agar informasinya seimbang," jelasnya.

Dinas Pendidikan bersama Dinas Sosial juga telah mendatangi rumah korban. Pihaknya turut berkoordinasi dengan sekolah dan siswa yang diduga terlibat untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Sunaryo mengatakan pihaknya tetap memantau laporan yang telah masuk ke Polres Blora. Jika proses hukum membutuhkan kehadiran anak-anak, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan pihak sekolah.

"Ini usia anak, jadi harus hati-hati agar tidak menimbulkan trauma. Kami berharap persoalan ini tidak berlanjut ke jalur hukum jika masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.

Menurut Sunaryo, sekolah telah dibekali program budaya sekolah aman dan nyaman melalui kelompok kerja (Pokja). Namun, kasus perundungan masih menjadi tantangan di dunia pendidikan.

"Guru harus ekstra hati-hati. Banyak faktor yang memengaruhi anak sekarang, termasuk dunia digital. Pengawasan harus lebih ditingkatkan," tegasnya.

Terkait jumlah siswa yang terlibat, Sunaryo mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun, beberapa siswa telah mengakui melakukan pemukulan dan penendangan.

"Kami akan terus memantau agar persoalan ini tidak mengganggu proses belajar mengajar," imbuhnya. (tos)

Editor : Eko Santoso
smpn1 blora bulliying perundungan blora dprd