BLORA – Musim kemarau membuat Embung Purwosari di Desa Purwosari, Kecamatan Blora mengering. Kondisi ini berpotensi mengganggu pasokan air untuk sekitar 50 hektare lahan pertanian yang mengandalkan keberadaan embung tersebut, terlebih sedimentasi yang menumpuk turut mengurangi kapasitas tampung air.
Staff Teknis OP SDA Pemali Juwana Kholiq Maulana mengatakan, dari total 22 embung yang ada, sekitar dua per tiga telah mengering. Sementara embung yang masih memiliki air diupayakan untuk dimaksimalkan pemanfaatannya.
“Rata-rata embung sudah mengering ada sekitar 14 embung. Upaya yang bisa kami lakukan adalah pemeliharaan dan operasional,” kata Kholiq.
Menurutnya, sejumlah embung telah mendapatkan pemeliharaan, di antaranya Embung Purwosari dibangun pada 2018 dan dilakukan pemeliharaan pada 2020. Ke depan, pemeliharaan akan dilakukan secara berkala, terutama dengan pengambilan sedimen yang menumpuk di dasar embung.
Kholiq juga menyampaikan bahwa mitigasi dilakukan dengan melihat embung mana yang masih dapat dioptimalkan. Pengerukan sedimen dinilai penting untuk meningkatkan kembali kapasitas tampung embung.
“Embung Purwosari itu bisa menampung sekitar 50 ribu liter air dan mengaliri sekitar 50 hektare sawah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Purwosari, Anissa Widhi Rumdani, mengatakan keberadaan embung sangat membantu masyarakat, khususnya untuk kebutuhan pertanian saat musim kemarau. Namun, kondisi embung saat ini dipenuhi sedimen sehingga kapasitas tampung air berkurang. Bahkan, dasar embung disebut nyaris rata akibat sedimentasi.
“Embung ini sangat bermanfaat bagi pertanian saat kemarau seperti sekarang. Saat ini sudah banyak sedimen dan nyaris rata. Harapan kami ada pengerukan sedimen,” ujarnya.
Ia berharap pengerukan dapat segera dilakukan sehingga kapasitas embung kembali optimal. “Dengan demikian, keberadaan embung dapat terus mendukung kebutuhan pertanian masyarakat Desa Purwosari, terutama saat musim kemarau,” ucapnya. (ari)
Editor : Eko Santoso