BLORA - Wisata Loco Tour Cepu terus menjadi magnet wisata di Kabupaten Blora. Di balik tingginya minat wisatawan, pengelola wisata masih menghadapi keterbatasan anggaran untuk mengembangkan fasilitas dan jalur wisata.
KSS Agroforestry dan Ekowisata KPH Cepu, Moh Rofic Arif Anhar mengatakan, pada Juli 2026, rata-rata jumlah wisatawan yang menikmati perjalanan kereta wisata pada hari libur mencapai 1.045 orang. Mayoritas pengunjung berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur serta wilayah sekitar Kabupaten Blora.
“Tingginya animo masyarakat menunjukkan bahwa Loco Tour masih menjadi salah satu destinasi wisata favorit yang menawarkan pengalaman unik menyusuri jalur kereta tua di kawasan hutan jati. Saat ini, kereta yang masih dioperasikan merupakan lokomotif Ruston buatan Inggris tahun 1950 yang menggunakan bahan bakar solar. Kereta tersebut memiliki kapasitas hingga 50 penumpang dalam sekali perjalanan,” jelasnya.
Ia menyampaikan, wisatawan diajak menyusuri jalur sepanjang lima kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhi pemandangan kawasan perumahan Perhutani, rimbunnya pepohonan hutan jati, hingga hamparan persawahan yang menjadi daya tarik tersendiri.
“Dahulu, lokomotif tersebut digunakan sebagai sarana pengangkut kayu jati menuju Tempat Penimbunan Kayu (TPK). Agar tetap layak beroperasi, kami secara rutin melakukan perawatan, mulai dari pergantian oli, servis mesin, pelumasan komponen, hingga pembenahan interior gerbong,” ucapnya.
Rofiq menyampaikan, jadwal operasional Loco Tour melayani perjalanan setiap Rabu dan Kamis pada pukul 10.00 WIB dan 15.00 WIB. Sementara pada hari libur, keberangkatan dijadwalkan tiga kali, yakni pukul 10.00 WIB, 14.00 WIB, dan 15.30 WIB.
“Pengunjung cukup membayar tiket masuk kawasan sebesar Rp10 ribu per orang. Sementara tarif menaiki kereta wisata sebesar Rp20 ribu per orang. Anak usia di bawah tiga tahun tidak dikenakan biaya tiket,” katanya.
Ia mengeluhkan jumlah wisatawan terus meningkat, sedangkan pengembangan kawasan wisata masih menghadapi keterbatasan anggaran. Pengelola berencana menambah jalur lintasan, membenahi interior gerbong, serta menata area wisata agar lebih nyaman bagi pengunjung. Namun, rencana tersebut masih menunggu ketersediaan anggaran.
“Pada 2026, anggaran yang dialokasikan Perhutani untuk operasional Loco Tour sekitar Rp27 juta. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan operasional seperti uang jaga malam, biaya listrik, hingga pembayaran tenaga kerja luar,” ungkapnya.
Dari sisi pendapatan, pihaknya menyampaikan bahwa Loco Tour mampu menghasilkan omzet sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per hari saat musim liburan. Namun, biaya operasional juga cukup besar, terutama untuk kebutuhan bahan bakar.
“Dalam satu kali perjalanan, lokomotif menghabiskan biaya BBM sekitar Rp200 ribu. Jika dalam sehari beroperasi tiga kali, biaya bahan bakar dapat mencapai sekitar Rp600 ribu,” tutupnya. (ari)
Editor : Eko Santoso