BLORA – Bupati Blora Arief Rohman mendorong jajaran Muslimat NU Kabupaten Blora untuk ikut mengambil peran dalam memperkuat program ketahanan pangan daerah.
Salah satu langkah yang didorong yakni melalui pengembangan pertanian organik serta budidaya ayam kampung berbasis masyarakat.
Menurut Arief, sektor pertanian menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Kabupaten Blora.
Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Blora mampu mencapai lebih dari 5 persen dengan dukungan dari sektor pangan.
Ia menyebut Blora memiliki sejumlah potensi unggulan, mulai dari populasi sapi terbesar di Jawa Tengah dan terbesar kedua secara nasional, produksi padi yang masuk enam besar provinsi, hingga produksi jagung yang berada di posisi kedua tingkat Jawa Tengah.
Karena sebagian besar warga Nahdlatul Ulama (NU) memiliki latar belakang sebagai petani, Arief berharap Muslimat NU dapat ikut memperluas pengembangan pertanian organik.
Salah satu contoh yang dinilai berhasil adalah produksi beras organik dari Kadang Tani Sarwo Tulus binaan LPPNU PCNU Blora dengan varietas unggulan mentik susu.
Arief menilai pertanian organik memiliki peluang besar untuk dikembangkan karena Blora memiliki dukungan sektor peternakan yang kuat.
Limbah ternak dari populasi sapi yang mencapai hampir 250 ribu ekor dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
“Dengan potensi ternak yang kita miliki, kotoran hewan bisa menjadi bahan pendukung pertanian organik. Ini menjadi tantangan bagi Muslimat dalam mendukung program ketahanan pangan,” ujar Arief.
Selain pertanian organik, Bupati juga menyoroti kebutuhan ayam kampung di Blora yang masih banyak dipasok dari luar daerah.
Setiap hari, kebutuhan ayam kampung di wilayah tersebut mencapai ribuan ekor sehingga menjadi peluang yang dapat dikembangkan oleh masyarakat lokal.
Pemerintah Kabupaten Blora, kata Arief, tengah menyiapkan program bersama Baznas dan dukungan CSR untuk mendorong budidaya ayam kampung.
Ia berharap populasi ayam kampung di Blora dapat meningkat sehingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memperoleh tambahan pendapatan.
Arief bahkan menargetkan ke depan Blora mampu menghasilkan ayam kampung dalam jumlah besar dengan melibatkan kelompok masyarakat, termasuk Muslimat NU hingga tingkat ranting.
Ia juga membuka peluang pemberian bibit ayam kampung bagi kelompok yang siap menjalankan program tersebut.
“Kalau nanti ibu-ibu mau mengembangkan, setelah besar bisa dijual ke pasar. Yang terpenting populasi ayam kampung di Blora harus kita tingkatkan,” katanya. (tos)
Editor : Ali Mustofa