BLORA- Setelah mengkonsumsi menu makan bergizi gratis (MBG) 19 siswa SD Negeri Sendangrejo, Ngawen keracunan. Mereka langsung dilarikan ke Puskesmas Ngawen, Blora.
Di Puskesmas Ngawen, Blora pada pukul 09.30 sejumlah siswa terbaring di bed yang berada di instalasi gawat darurat (IGD). Sejumlah siswa terbaring. Tampak lemas. Mereka ditemani orang tua dan guru.
Salah satu siswa Dila mengatakan jika ia merasa aneh setelah memakan menu MBG. Terutama setelah minum susu.
"Perutnya sakit, pusing habis minum susu," singkatnya.
Guru SD Negeri Sendangrejo Nova Dwi menjelaskan semula siswa mengkonsumsi menu MBG pada pukul 07.30 dari dapur SPPG Bogowanti.
"Menu MBG sudah sampai pukul 07.00, namun baru kita bagikan setelah upacara," katanya.
Setelah menu MBG dibagikan ke siswa, selang beberapa menit saja sejumlah siswa langsung menunjukkan gejala. Seperti mual, sakit perut hingga muntah.
"Ada yang muntah sampai tiga kali di sekolah," bebernya.
Mendapati siswanya demikian, maka pihaknya langsung melarikan para siswa ke Puskesmas Ngawen. Agar segera mendapatkan perawatan.
"Ada 19 siswa yang kami bawa ke puskesmas," imbuhnya.
Mereka berasal dari beberapa kelas. Mulai dari kelas III, IV dan V.
Menurutnya pihak sekolah sebenarnya sudah mencicipi menu dan tidak ada masalah. Namun kemudian setelah diketahui ada siswa yang mual, ternyata didapati ada ompreng yang bau. Ada juga indikasi dari susu yang diduga kadaluwarsa.
"Menunya tadi susu kotak cokelat, telur utuh, kacang campur tempe, anggur dan nasi," tuturnya.
Menu MBG pun kemudian disetop. Siswa diminta tidak boleh memakan. Sementara pihak SPPG mengambil susu yang diduga jadi biang keladi keracunan.
"Untuk susu diambil SPPG. Kalau menunya tidak boleh dikembalikan pihak puskesmas. Untuk sampel," terangnya.
Pihak sekolah juga langsung menghubungi para orang tua siswa. Sehingga para orang tua siswa juga ikut ke puskemas.
Petugas Surveilans Puskesmas Ngawen, Blora Supriyanto mengatakan para siswa mulai di bawa ke Puskesmas Ngawen pukul 08.00. Dari 19 siswa kondisinya berbeda.
"Ada yang sakit perut, muntah. Kita tindaklanjuti, kita tangani," katanya.
Dari jumlah tersebut 13 siswa kondisinya lekas membaik setelah penanganan. Namun ada 6 siswa lain yang memerlukan perawatan intensif.
"Yang enam ini masih sesak dan sakit perut. Butuh pantauan khusus," jelasnya. (tos)
Editor : Eko Santoso